SUARARAKYAT.info||Tasikmalaya — Telaga Bodas, sebuah kawah alami yang sejak masa kolonial Belanda dikenal dengan sebutan White Lake, terus memikat pengunjung dengan warna putih khas airnya yang berasal dari kandungan belerang. Di balik keindahan alamnya, kawasan ini menyimpan sejarah panjang, catatan geologi penting, serta legenda rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi.Senin (17/11/2025)
Secara geologis, Telaga Bodas merupakan bagian dari gunung stratovolcano purba yang telah terbentuk sejak ribuan tahun lalu. Aktivitas vulkanik yang masih terasa hingga kini mulai dari lubang asap, kolam lumpur panas, hingga mata air suhu tinggi menjadi bukti bahwa kawasan ini masih hidup sebagai ruang geotermal alami. Letusan-letusan bersejarah juga pernah tercatat, di antaranya pada tahun 1913 dan 1921. Dua peristiwa tersebut sempat mengubah komposisi dan warna air danau, sekaligus memperkaya catatan ilmiah para ahli vulkanologi kolonial.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa Telaga Bodas mulai dikenal luas pada era Hindia Belanda. Pemerintah kolonial resmi menetapkannya sebagai objek wisata pada 4 Februari 1924, menjadikannya salah satu destinasi alam favorit kalangan Eropa di Priangan timur. Eksotisme danau putih ini bahkan diabadikan dalam kartu pos oleh fotografer Belanda pada tahun 1932. Kartu pos tersebut beredar luas hingga ke mancanegara, mengangkat nama Telaga Bodas sebagai lokasi wisata “ajaib” dari Hindia Timur yang sarat fenomena alam langka.
Di balik sejarah ilmiah dan kolonialnya, Telaga Bodas juga dibalut cerita rakyat yang tak kalah menarik. Masyarakat setempat meyakini bahwa danau ini terbentuk setelah peristiwa besar yang mengguncang bumi: gempa dahsyat yang memicu letusan gunung hingga lava mengalir deras menyusuri sungai di bawahnya. Dalam keputusasaan melihat ancaman bagi warganya, seorang lelaki tua sakti memanjatkan doa kepada Dewa agar rakyat diselamatkan. Doa itu dikabulkan hujan deras turun tanpa henti hingga memadamkan arus lava, mengeras, dan membentuk cekungan besar yang kemudian berisi air belerang putih yang dikenal sebagai Telaga Bodas.
Tidak jauh dari kawasan kawah, wisatawan juga bisa menikmati lokasi pemandian air panas Cipatuh lebih dikenal sebagai Cipanas yang memiliki tujuh pancuran dengan karakteristik rasa dan suhu air yang berbeda. Tempat ini dipercaya memiliki khasiat penyembuhan untuk beberapa penyakit kulit dan pegal-pegal akibat kandungan mineral vulkaniknya. Secara geografis, area wisata ini terletak di Desa Sundakerta, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, hanya beberapa kilometer dari Telaga Bodas. Lokasinya juga berada di wilayah perbatasan antara Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya, menjadikannya destinasi strategis yang dapat diakses dari dua kabupaten sekaligus.
Dengan perpaduan antara sejarah geologi, catatan kolonial, nilai budaya, hingga mitos lokal yang terus hidup, Telaga Bodas bukan hanya sebatas objek wisata alam. Ia adalah arsip terbuka yang merekam dinamika bumi, jejak peradaban, sekaligus khazanah kepercayaan masyarakat Sunda. Kini, kawasan ini terus dikembangkan menjadi destinasi unggulan garapan pemerintah daerah, sekaligus ruang edukasi untuk mengenalkan kekayaan geologis Jawa Barat kepada generasi muda.
Pesona Telaga Bodas terus bersinar putihnya air yang menenangkan menjadi saksi perjalanan panjang sebuah lanskap alam yang lahir dari bencana, tumbuh menjadi legenda, dan kini menjadi kebanggaan dua kabupaten di kaki Priangan timur.
Catatan Redaksi:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar Situs Kendan. Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.
Penulis: Kopka Irvan














