Ratu Sunyalarang dan Nyi Rambut Kasih: Fragmen Sejarah Budaya Talaga Manggung Majalengka

- Penulis

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info||Majalengka — Kawasan Cagar Budaya Talaga Manggung kembali menarik perhatian para pemerhati sejarah dan budaya Sunda. Penelusuran terhadap legenda Nyai Rambut Kasih menunjukkan adanya keterkaitan kuat dengan tokoh Ratu Sunia Larang atau Sunyalarang dalam tradisi budaya Talaga Manggung, khususnya di wilayah Desa Sunia dan Desa Suniabaru, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka.minggu (11/1/2026)

Selama ini, Nyai Rambut Kasih dikenal luas dalam tradisi tutur masyarakat Sindangkasih. Namun, sejumlah penafsiran baru mengungkap bahwa penempatan legenda tersebut kemungkinan kurang tepat secara geografis dan historis. Nama, simbol, serta jejak budaya justru lebih banyak mengarah ke kawasan Sunia Talaga Manggung, wilayah yang sejak masa lalu diyakini bukan sekadar permukiman biasa.

Nama “Sunia” diyakini berasal dari kata sunya atau sonya yang berarti sunyi, sepi, dan hening. Makna ini selaras dengan dugaan fungsi wilayah Sunia pada masa lampau sebagai padepokan, tempat pertapaan, atau pusat penggemblengan ilmu spiritual. Wilayah ini bahkan kemudian terpecah menjadi dua desa, yakni Desa Sunia dan Desa Suniabaru, namun jejak sakralitasnya tetap terpelihara hingga kini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keberadaan nama Sunialarang atau Sunyalarang dalam silsilah Kerajaan Talaga Manggung memperkuat asumsi tersebut. Nama ini tidak hanya tercatat dalam tradisi lisan, tetapi juga lestari dalam toponimi wilayah Sunia dan Suniabaru, menandakan kesinambungan sejarah yang panjang.

Di Desa Suniabaru, hingga hari ini masih dilaksanakan tradisi dua tahunan Ngalaksa, sebuah ritual adat yang sarat makna filosofis dan sejarah. Dalam tradisi ini, masyarakat disuguhi panganan khas Baliyung serta keindahan Sinjang (kain) batik Lokcan kuno yang menjadi simbol kemakmuran, spiritualitas, dan identitas budaya Talaga Manggung.

Keberlanjutan tradisi ini menunjukkan bahwa Sunia bukan sekadar wilayah administratif, melainkan ruang budaya hidup yang merekam perjalanan panjang peradaban Talaga Manggung.

Di wilayah Sunia juga terdapat sebuah sungai atau mata air dalam istilah Jawa disebut belik yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai tempat mandi Ratu Runday Kasih, yang juga dikenal dengan sebutan Rambut Kasih atau Ambet Kasih.

Dalam bahasa Sunda, kata runday bermakna rambut yang terurai panjang, menjuntai seperti mayang. Penamaan Ratu Runday Kasih tidak semata merujuk pada keindahan fisik, tetapi juga dapat dimaknai sebagai perlambang kasih sayang yang panjang, lembut, dan mengalir tanpa putus.
Dalam tradisi Talaga Manggung, Sunia Larang juga dikenal dengan nama Mayang Sari. Kata mayang dalam tradisi Sunda kerap diidentikkan dengan rambut yang menjuntai indah, sehingga memperkuat simbolisasi tokoh perempuan sakral yang lekat dengan nilai kehalusan, spiritualitas, dan kasih.

READ  Menggali Makna Spiritual dan Filosofi Trisula Sabdo Utomo dalam Warisan Kujang Paku Sarakan Lima

Larang sebagai Penanda Wilayah Sakral

Perlu dicatat bahwa dalam tradisi Sunda, kata “larang” tidak selalu bermakna terlarang secara harfiah. Banyak wilayah penting menggunakan akhiran “larang” sebagai penanda pengistimewaan atau kesakralan suatu kawasan. Contohnya antara lain Cirebon Larang (pasangan Cirebon Girang), Sumedang Larang, Padalarang, hingga Darmalarang di wilayah Talaga.

Dengan demikian, Sunialarang dapat dimaknai sebagai wilayah sunyi yang disakralkan sebuah ruang spiritual yang memiliki kedudukan khusus dalam struktur Kerajaan Talaga Manggung.

Pusat Pemerintahan dan Struktur Kekuasaan Talaga

Menurut cerita rakyat, pusat pemerintahan Kerajaan Talaga Manggung di sekitar Situ Sangiang kerap mengalami pergeseran lokasi. Namun perpindahan tersebut tidak pernah keluar dari kawasan inti, melainkan tetap berada di sekitar situ, baik di sisi utara, barat, maupun selatan.

Hal ini menimbulkan pandangan bahwa ibu kota kerajaan sejatinya tetap berada di Walang Suji, sementara wilayah lain berfungsi sebagai daerah administratif yang dipimpin oleh para Dalem Utama di bawah kekuasaan Kerajaan Talaga Manggung.

Untuk mengelola wilayah-wilayah tersebut, raja mengangkat putra dan putrinya sebagai penguasa lokal. Beberapa tokoh yang dikenal antara lain Sunan Cungkilak (wilayah Cungkilak dekat Campaga Talaga), Sunan Benda (daerah yang banyak ditumbuhi pohon benda atau teureup), Sunan Wanaperih atau Wanaprih (yang diduga berada di wilayah Kareo atau Wanahayu), Sunan Jerokaso di wilayah Maja, Sunan Tegalcau atau Tegalcawet dan Tegalsari (Maja), serta Sunan Parung di wilayah Parung, yang hingga kini belum dapat dilacak secara pasti keberadaannya.
Antara Legenda dan Sejarah
Meski berbagai petunjuk toponimi, simbol bahasa, dan tradisi budaya menunjukkan keterkaitan kuat antara Nyai Rambut Kasih dan kawasan Sunia Talaga Manggung, seluruhnya tetap berada dalam ranah legenda dan tradisi tutur. Oleh karena itu, kebenaran mutlaknya tidak dapat dipastikan tanpa kajian arkeologis dan filologis lebih lanjut.

Namun demikian, narasi ini memperkaya pemahaman tentang Talaga Manggung sebagai pusat peradaban Sunda yang kompleks tempat legenda, spiritualitas, dan struktur kekuasaan saling bertaut dalam jejak sejarah yang masih hidup hingga hari ini.

Catatan Redaksi Sejarah:

Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar . Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.

Penulis : Irvan

Editor : Red

Sumber Berita: Suararakyst.info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”
Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa
Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan
Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah
Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul
Menguak Jejak Leluhur di Gunung Nagara Padang: Wisata Spiritual yang Menyatu dengan Sejarah Kampung Tutugan
Jejak Legenda Batu Kukumbung di Laut Jayanti: Kopka Irvan Lakukan Monitoring Sambil Mengungkap Nilai Sejarah dan Budaya Lokal
Naskah Naewolo Poestoko Rojo 1375: Dokumen Adat Nusantara yang Menjadi Ajaran Perdamaian Dunia dan Fondasi Pembangunan Semesta
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:04 WIB

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”

Jumat, 13 Maret 2026 - 05:59 WIB

Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa

Selasa, 27 Januari 2026 - 10:12 WIB

Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:20 WIB

Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah

Selasa, 13 Januari 2026 - 13:48 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul

Berita Terbaru