Menguak Jejak Leluhur di Gunung Nagara Padang: Wisata Spiritual yang Menyatu dengan Sejarah Kampung Tutugan

- Penulis

Kamis, 11 Desember 2025 - 01:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info ||Bandung –Gunung Nagara Padang, sebuah kawasan lereng berhutan yang menyimpan rangkaian batu purba dan legenda panjang perjalanan manusia, kini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata spiritual yang paling menarik di Ciwidey. Berada di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, situs ini bukan hanya menawarkan pemandangan menenangkan, tetapi juga jejak perjalanan leluhur yang telah memberi warna bagi berdirinya Kampung Tutugan sejak hampir satu setengah abad lalu.Kamis (11/12/2025)

Menurut catatan masyarakat adat di Rawabogo, aktivitas spiritual di Gunung Nagara Padang kemungkinan telah dimulai sejak tahun 1877, bersamaan dengan hadirnya Kampung Tutugan di kaki Gunung Padang. Rangkaian batu-batu unik yang terpahat secara alami oleh peristiwa vulkanologi ribuan hingga jutaan tahun lalu kemudian diberi makna sebagai simbol perjalanan hidup manusia dari kelahiran, pencarian jati diri, hingga persiapan menuju kehidupan berikutnya.


Letak Gunung Nagara Padang terbilang istimewa. Kawasan ini diapit beberapa gunung kecil seperti Pasir Pamipiran dan Pasir Naringgul di bagian timur, serta Pasir Badak di barat laut. Keberadaan tiga gunung tersebut membuat atmosfer di kawasan situs terasa teduh, sejuk, dan dipenuhi hutan rimbun yang masih terjaga keasriannya. Pepohonan besar, rimbunnya pinus, hingga bunga puspa yang bertebaran di tanah menjadi bagian dari pesona alamnya.

Secara administratif, kaki gunung bagian selatan berada di wilayah Legok Kiara, Kampung Tutugan, Desa Rawabogo, Kecamatan Ciwidey. Sementara lereng timur masuk Desa Buninagara dan bagian barat termasuk Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat.

Perjalanan menuju gerbang utama situs bisa dimulai dari beberapa titik. Jalur paling umum berasal dari Kampung Tutugan, namun banyak peziarah juga memilih berangkat dari Warung Amlong atau Kampung Cisalada.


Pengunjung tidak disarankan menggunakan kendaraan roda empat karena kondisi jalur masih berupa tanah merah dengan tanjakan terjal. Ketika hujan, lintasan menjadi sangat licin. Karena itu, berjalan kaki menjadi pilihan terbaik.

Perjalanan sejauh 1,5 kilometer menuju gerbang terasa menyenangkan. Jalannya lebar, teduh, dan dipayungi pohon kaliandra berbunga putih, pinus, cemara, hingga pohon puspa. Sensasi menembus heningnya hutan membuat banyak pengunjung merasakan ketenangan sejak langkah pertama.

Asal Usul Nama yang Sarat Makna

Nama “Nagara Padang” bukan sekadar penyebutan geografis. “Nagara” berarti wilayah, sedangkan “Padang” merujuk pada tempat luas atau terang. Jika digabungkan, Nagara Padang bermakna sebuah wilayah pencerahan—tempat yang diyakini mampu memberikan cahaya batin bagi siapa saja yang datang dengan niat bersih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT


Tak heran jika sejak dulu masyarakat sekitar menjadikannya ruang belajar, tempat kontemplasi, serta bagian dari tradisi spiritual yang diwariskan turun-temurun.

Padepokan Kasepuhan Ajar Padang, Penjaga Tradisi Leluhur

Tidak jauh dari lokasi situs, tepatnya di Kampung Tutugan, berdiri Padepokan Kasepuhan Ajar Padang. Padepokan ini dipimpin oleh Abah Undang, sesepuh Kampung Tutugan yang merupakan keturunan langsung dari para perintis kampung tersebut.

Padepokan ini aktif merawat budaya dan lingkungan sekitar Gunung Nagara Padang. Mereka juga menjadi penggerak utama upacara adat Miasih Ka Bumi, ritual yang dilakukan setahun sekali di kaki gunung untuk menyatukan rasa syukur, penghormatan kepada bumi, dan penyucian diri secara spiritual. Upacara ini merupakan salah satu warisan budaya penting yang masih dilestarikan hingga kini.

Tujuh Lawang Kehidupan dan 17 Situs Batu

Salah satu keunikan Gunung Nagara Padang adalah keberadaan 17 situs batu yang terbagi ke dalam tiga kelompok, masing-masing melambangkan fase kehidupan manusia:
Masa anak-anak
Masa remaja dan pencarian jati diri
Masa kebijaksanaan dan persiapan menuju kehidupan berikutnya

READ  Jejak Perjuangan dan Keteladanan Mama Amilin Syekh Abdul Jabbar: Ulama Pejuang dari Garut yang Membina Ribuan Pemuda Melawan Penjajah


Pengunjung yang ingin menyusuri rute spiritual ini biasanya memulai perjalanan dari mata air Cikahuripan. Air ini menjadi simbol penyucian diri sebelum memasuki “tujuh lawang”, atau tujuh gerbang kehidupan yang harus dilalui manusia secara simbolis.
Setiap batu dan setiap gerbang memiliki cerita, nilai, dan filosofi tersendiri yang dijelaskan oleh juru kunci setempat.

Puncak Manik, Titik Tertinggi yang Dipenuhi Pesona

Di bagian paling atas situs terdapat Puncak Manik—lapangan luas yang dikelilingi batu-batu besar. Lokasi ini merupakan titik tertinggi dari seluruh rangkaian situs. Pengunjung yang mencapai Puncak Manik akan menemukan “areuy batas”, akar lilit yang menjuntai rumit dan diyakini sebagai batas akhir dari rangkaian perjalanan spiritual di Nagara Padang.

Meski banyak mitos yang berkembang, masyarakat menegaskan bahwa Gunung Nagara Padang bukanlah tempat bertabur kisah menakutkan seperti yang sering dibayangkan sebagian orang. Wisata spiritual dan wisata alam berjalan berdampingan dengan damai. Para peziarah dan wisatawan biasa saling sapa, saling menghormati, dan menikmati keindahan alam tanpa saling mengganggu.


Wisata Spiritual yang Tetap Ramah untuk Semua

Suasana hening, kesejukan hutan, dan filosofi yang terkandung dalam setiap batu membuat Nagara Padang menjadi tujuan populer, baik untuk refleksi diri maupun sekadar menikmati alam. Tak ada alasan untuk merasa takut atau canggung. Justru, keberadaan situs ini menjadi penghubung antara alam, budaya, dan manusia.

Gunung Nagara Padang bukan hanya objek wisata ia adalah ruang belajar, ruang berdoa, dan ruang untuk kembali menemukan diri.

Penulis : Agus Kapinis

Editor : Red-SR

Sumber Berita: Suararakyat. info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah
Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul
Ratu Sunyalarang dan Nyi Rambut Kasih: Fragmen Sejarah Budaya Talaga Manggung Majalengka
Jejak Legenda Batu Kukumbung di Laut Jayanti: Kopka Irvan Lakukan Monitoring Sambil Mengungkap Nilai Sejarah dan Budaya Lokal
Naskah Naewolo Poestoko Rojo 1375: Dokumen Adat Nusantara yang Menjadi Ajaran Perdamaian Dunia dan Fondasi Pembangunan Semesta
Syekh Abdul Jalil dan Kampung Adat Dukuh: Warisan Abad ke-17 yang Tetap Hidup di Tengah Pegunungan Garut Selatan
Jejak Mistis Leuweung Sancang: Persinggahan Terakhir Prabu Siliwangi dan Pertarungan Keyakinan di Tanah Sunda
Jejak Kerajaan Sunda di Gunung Nagara: Situs Keramat Garut Selatan yang Menyimpan Seribu Kisah Leluhur
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:20 WIB

Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah

Selasa, 13 Januari 2026 - 13:48 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul

Minggu, 11 Januari 2026 - 12:26 WIB

Ratu Sunyalarang dan Nyi Rambut Kasih: Fragmen Sejarah Budaya Talaga Manggung Majalengka

Kamis, 11 Desember 2025 - 01:43 WIB

Menguak Jejak Leluhur di Gunung Nagara Padang: Wisata Spiritual yang Menyatu dengan Sejarah Kampung Tutugan

Senin, 8 Desember 2025 - 10:27 WIB

Jejak Legenda Batu Kukumbung di Laut Jayanti: Kopka Irvan Lakukan Monitoring Sambil Mengungkap Nilai Sejarah dan Budaya Lokal

Berita Terbaru

TNI

Pangdam III/Slw Hadiri Pelantikan DPW PPSI Jawa Barat

Sabtu, 17 Jan 2026 - 09:38 WIB