SUARARAKYAT.info|| GARUT — Di balik kisah kemerdekaan Indonesia yang sering ditulis dalam lembaran politik dan perjuangan fisik, ternyata tersimpan pula kisah spiritual yang tak kalah penting. Nama Mama Amilin Syech Abdul Jabbar, seorang ulama karismatik asal Garut, kembali muncul dalam perbincangan lintas generasi bukan hanya sebagai guru tarekat, tetapi juga sebagai salah satu tokoh spiritual yang memberi warna dalam perjalanan ideologis bangsa, terutama dalam penentuan lambang dan makna Pancasila.Senin (10/11/2025)
Silsilah dan Keturunan Sang Ulama
Mama Amilin dikenal sebagai sosok yang berilmu tinggi dan memiliki kehidupan rumah tangga yang luas. Dalam catatan keluarga, beliau pernah menikah sebanyak lima kali dan dikaruniai 21 orang anak dari lima istri berbeda:
1. Dari Ibu Ijah, lahir tiga anak: Tasin, Ocah, dan Upi.
2. Dari Ibu Hj. Ageung, lahir delapan anak: H. Sodikin, Munaru, Sanah, Nasrudin, Suryana, Idik, Cacas, dan Kandasah.
3. Dari Ibu Hj. Maemunah, lahir sepuluh anak: Ruhbana, Markonah, KH. Isyak Wijaya (dikenal sebagai Kyai Geledek), Maya, Sobur, Sobar, Slamet, Tati Sarimanah, Iyam Maryamah, dan Maksum.
4. Dari Ibu Idah, lahir seorang anak perempuan bernama Lilis.
5. Dari Ibu Popon, lahir seorang anak laki-laki bernama Barja.
Dari seluruh putra-putrinya, nama KH. Isyak Wijaya atau Kyai Geledek menjadi yang paling dikenal luas di kalangan masyarakat Garut dan Cirebon. Beliau merupakan salah satu ulama kharismatik yang dikenal karena petuah dan kekuatan spiritualnya. Konon, beliau wafat di Cirebon setelah menyampaikan ceramah, dan kepergiannya meninggalkan duka mendalam di kalangan santri dan masyarakat.
Menariknya, setelah sekian lama bermukim di Kramat Pulo, ketika Mama Amilin kembali ke Garut, beliau tidak menetap di Desa Cimencek Cintarakyat, melainkan di Pasir Beurih. Adapun mereka yang tinggal di Cimencek disebut memiliki pandangan berseberangan dalam beberapa hal spiritual dan ajaran, meski tetap berada dalam satu garis keturunan dan sanad keilmuan.
Jejak Ilmu dan Perguruan Silat
Dari penuturan lisan keluarga dan saksi sejarah, salah satu istri beliau, Ibu Idah, pernah mendirikan perguruan pencak silat di Garut. Perguruan ini disebut-sebut berakar dari ilmu bela diri yang dahulu juga dipelajari Mama Amilin dalam masa muda. Sayangnya, sebagian besar catatan tentang perguruan tersebut kini hilang dan hanya tersisa dalam ingatan sebagian murid tua dan ahli waris. Inilah yang membuat sebagian pihak menyebut bahwa “sejarah pencak silat Mama Amilin adalah sejarah yang hilang”.
Dialog Spiritual Bung Karno dan Para Ulama
Nama Mama Amilin Syech Abdul Jabbar tidak hanya besar di lingkup pesantren dan masyarakat Garut, tetapi juga disebut dalam konteks sejarah nasional. Dalam catatan spiritualitas Nusantara, Mama Amilin tercatat sebagai salah satu tokoh yang pernah berdialog dengan Ir. Soekarno dalam perenungan menentukan lambang negara Republik Indonesia.
Dikisahkan bahwa perjalanan spiritual Bung Karno dalam mencari lambang negara dimulai ketika beliau berada di Gunung Guntur, Garut, saat putranya Guntur Soekarnoputra berumur sepuluh tahun. Dalam khalwatnya, Bung Karno mengalami beberapa peristiwa gaib di sekitar pohon waru di kawasan Taman Sari, Gunung Salak, Bogor:
1. Hari pertama, muncul seekor elang bondol yang mendarat di pohon waru.
2. Hari kedua, muncul elang laut berukuran besar.
3. Hari ketiga, turun seekor elang berwarna emas dengan bentangan sayap mencapai 1,8 meter kelak disebut burung rajawali.
Dari pengalaman spiritual itu, Bung Karno mengundang para tokoh ruhaniawan Nusantara untuk berdialog. Dalam pertemuan tersebut hadir sejumlah tokoh spiritual, antara lain:
Mama Amilin Abdul Jabbar (Garut)
Eyang Santri Kalamullah (Jati Kusuma)
KH. Surya Poerwanegara
Wali Cipta Gati Arjakusuma (Eyang Kencana Gading)
Mualim Adang

Dalam musyawarah ruhani tersebut, Mama Amilin Abdul Jabbar menyarankan agar nama burung rajawali diganti menjadi Garuda, sesuai dengan bahasa dan simbol peradaban Nusantara. Sementara Eyang Santri Kalamullah menegaskan bahwa Garuda adalah lambang yang mencerminkan bahasa alam untuk akhirat dan agama.
Dari sinilah disepakati bahwa lambang negara Indonesia adalah Burung Garuda, simbol kebesaran dan kemerdekaan bangsa.
Pemilihan Tanggal Kemerdekaan
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pertemuan spiritual lainnya, Bung Karno awalnya mengusulkan 15 Agustus 1945 sebagai tanggal kemerdekaan. Namun, Eyang Santri Kalamullah mengusulkan 17 Agustus 1945, dengan pertimbangan nilai-nilai simbolik keagamaan dan kosmologis.
Akhirnya, semua tokoh sepakat pada tanggal 17 Agustus 1945 tanggal yang hingga kini menjadi hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Adapun makna spiritual yang terkandung di dalamnya:
17 melambangkan jumlah raka’at shalat sehari semalam.
8 melambangkan delapan penjuru mata angin.
19 melambangkan jumlah huruf Bismillahirrahmanirrahim.
45, jika dijumlahkan menjadi 9, melambangkan Wali Songo sebagai simbol penyebar Islam di Nusantara.
Dengan demikian, berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukan sekadar hasil perjuangan politik dan militer, tetapi juga buah dari kasih sayang dan rahmat Allah SWT, sebagaimana disampaikan oleh Mama Amilin Abdul Jabbar dalam petuah-petuahnya.
Warisan Ilmu dan Empat Jalan Abdul Jabbar
Menurut para muridnya, setiap orang yang belajar kepada Mama Amilin Abdul Jabbar akan menempuh salah satu dari empat jalur keilmuan yang beliau wariskan, yaitu:
1. Pengobatan,
2. Fikih atau hukum Islam,
3. Tablig atau dakwah, dan
4. Ilmu kekuatan spiritual.
Keempat jalan itu mencerminkan integrasi antara lahir dan batin, dunia dan akhirat, serta antara kekuatan ilmu dan pengabdian kepada masyarakat.
Penutup,Cahaya dari Pasir Beurih
Dari Pasir Beurih Garut hingga ke Gunung Salak Bogor, jejak spiritual Mama Amilin Syech Abdul Jabbar dan para tokoh sezamannya mengalir ke dalam ruh kebangsaan Indonesia. Kisah ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya hasil perjuangan tangan, tetapi juga buah dari zikir, doa, dan musyawarah para arif billah Nusantara.
Warisan silsilah dan spiritualitas Mama Amilin bukan hanya milik keluarga besar Abdul Jabbar, tetapi juga bagian dari identitas kultural bangsa Indonesia yang berakar pada kebijaksanaan lokal dan keimanan universal
Catatan Redaksi:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar Situs Kendan. Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.
Penulis: Kopka Irvan














