SUARARAKYAT.info|| CIANJUR- Keprihatinan terhadap semakin memudarnya seni tradisi Sunda kembali disuarakan oleh Kang Usman Setiawan, seorang seniman asal Desa Naringgul, Kecamatan Naringgul, Cianjur Selatan, Jawa Barat. Seniman yang telah lama malang melintang di dunia hiburan, khususnya seni tradisi Degung Kliningan dan genre Pop Sunda, menilai bahwa warisan budaya leluhur tersebut kini berada di ambang kepunahan jika tidak segera mendapat perhatian serius.Selasa (27/1/2026).
Kang Usman yang juga pimpinan Lingkung Seni Degung Kliningan “Gending Pusaka”, beralamat di Kampung Lembur Lapang RT 04 RW 03 Desa Sukabakti, Cianjur Selatan, turut menggelar pagelaran seni budaya di Kampung Awi Sewu, Kabupaten Cianjur. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka syukuran sesepuh Kampung Awi Sewu, yang dikenal dengan sebutan Kang Kobra.
Pagelaran seni Degung Kliningan tersebut menjadi simbol ikhtiar pelestarian seni buhun Sunda yang sarat makna filosofis, historis, dan spiritual. Dalam kesempatan itu, Kang Usman menegaskan bahwa Degung Kliningan bukan sekadar hiburan, melainkan pusaka budaya yang mengandung nilai luhur dan jati diri orang Sunda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya sangat prihatin melihat kondisi seni Degung Kliningan saat ini yang semakin memudar. Padahal kesenian ini sangat unik dan memiliki keterkaitan erat dengan syiar Islam di tanah Sunda,” ujar Kang Usman saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan bahwa dalam sejarahnya, seni Degung Kliningan memiliki hubungan kuat dengan metode dakwah para wali, khususnya Sunan Bonang, yang menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan seni dan budaya. Salah satu instrumen penting dalam Degung Kliningan adalah bonang, alat musik gamelan yang terbuat dari logam seperti kuningan, tembaga, bahkan plat besi.
Menurut Kang Usman, setiap instrumen dan bunyi dalam Degung Kliningan mengandung filosofi kehidupan yang mendalam. Namun sayangnya, nilai-nilai tersebut kini mulai dilupakan, terutama oleh generasi muda yang lebih tertarik pada budaya asing dibandingkan seni tradisi leluhurnya sendiri.
“Orang Sunda hampir lupa pada jati diri budayanya sendiri. Padahal Degung Kliningan adalah pusaka seni buhun yang wajib dijaga keaslian dan kelestariannya,” tegasnya.
Sebagai seniman Sunda, Kang Usman berkomitmen untuk mengangkat kembali seni Degung Kliningan tanpa menghilangkan keaslian dan pakem tradisinya. Ia menolak modernisasi yang mengaburkan nilai inti kesenian tersebut, karena menurutnya Degung Kliningan adalah warisan luhur yang tidak boleh dipisahkan dari akar budaya dan sejarahnya.
Selain itu, Kang Usman juga berharap pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dapat memberikan ruang, perhatian, serta dukungan yang lebih maksimal terhadap seni dan budaya lokal.
“Nilai seni dan budaya Jawa Barat ini sangat tinggi. Jika dikelola dan dilestarikan dengan baik, Degung Kliningan bisa menjadi pusaka luhur yang bernilai positif, bahkan dikenal di tingkat internasional,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat Sunda, khususnya generasi muda di Jawa Barat, untuk lebih memahami filosofi alat musik Degung agar kesenian tersebut tidak hilang ditelan zaman.
Lebih lanjut, Kang Usman menuturkan bahwa setiap ketukan nada dalam gamelan Degung memiliki makna kehidupan. Dalam pandangan orang Sunda, irama tersebut mencerminkan prinsip hidup yang selaras, seimbang, dan penuh kebersamaan.
“Ketukan itu ibarat pesan kehidupan. Hirup kudu nincak kana tetekon, kudu sareundeuk saigel, sabobot sapihandean. Supaya bisa ngahiji, genah didenge jeung ditingali,” jelasnya.
Filosofi tersebut, menurut Kang Usman, sangat erat dengan ajaran Sunan Bonang dalam menyebarkan Islam secara damai melalui seni dan budaya, sehingga seni Degung Kliningan tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga spiritual.
Menutup pernyataannya, Kang Usman mengungkapkan rasa syukurnya karena hingga saat ini ia masih aktif, konsisten, dan istiqamah dalam menjaga serta melestarikan seni Degung Kliningan, meski di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan zaman.
“Alhamdulillah, sampai hari ini saya masih menjaga nilai seni dan budaya Degung Kliningan. Ini amanah leluhur yang harus terus dirawat,” pungkasnya.
Penulis : Agus Kapinis
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info














