SUARARAKYAT.info||Sukabumi — Palabuhan Ratu yang kini dikenal sebagai kawasan pesisir ikonik di selatan Jawa Barat, ternyata memiliki sejarah panjang dan mendalam yang berakar dari runtuhnya Kerajaan Sunda Pajajaran. Sejarah ini bukan sekadar legenda, melainkan jejak peradaban yang dibangun oleh tokoh perempuan kuat dari garis bangsawan Pajajaran, yakni Nyai Putri Purnamasari.(13/1/2026).
Nyai Putri Purnamasari merupakan putri bungsu Kerajaan Sunda Pajajaran yang melakukan hijrah ke wilayah selatan (pakidulan) pasca melemahnya kekuasaan Pajajaran akibat serangan Banten–Cirebon dan konflik internal kerajaan. Hijrah tersebut dilakukan sebagai upaya menyelamatkan garis keturunan dan nilai-nilai Pajajaran di tengah guncangan politik abad ke-16.
Perjalanan Hijrah dan Awal Mula Cidadap
Dalam perjalanan panjangnya, Nyai Putri Purnamasari didampingi sang suami, Kumbang Bagus Setra, serta Patih sepuh Pajajaran yang setia, Eyang Jaga Raksa atau dikenal pula sebagai Rakean Kalang Sunda. Rombongan ini menembus hutan belantara dari Dayeuh Pakuan Pajajaran menuju wilayah Basisir Lebak Cawene.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar tiga bulan, dimulai pada akhir Mangsa Bakti (penghujung bulan ke-12 Kalender Pajajaran) hingga Mangsa Ratu (bulan ke-3), pada kurun waktu 1488–1489 Saka atau sekitar 1566–1567 Masehi. Setibanya di wilayah yang kini dikenal sebagai Kampung Cidadap, rombongan tersebut menetap dan mulai membangun kehidupan baru.
Gugurnya Kumbang Bagus Setra dan Lahirnya Nama Jayanti
Namun perjalanan hijrah ini tidak lepas dari konflik. Suami Nyai Putri Purnamasari, Kumbang Bagus Setra, gugur dalam pertarungan di wilayah Bantar Gadung saat menghadapi Jaya Antean, seorang panglima perang yang mengejar pelarian keluarga Pajajaran.
Mendengar kabar gugurnya sang pangeran, Rakean Kalang Sunda mengejar Jaya Antean hingga ke sebuah pasir atau bukit. Di tempat tersebut terjadi pertarungan adu kesaktian yang berakhir dengan gugurnya Jaya Antean di tangan Rakean Kalang Sunda. Lokasi tersebut kemudian dikenal sebagai Pasir Jayanyi, yang kini dikenal sebagai Gunung Jayanti, menandai peristiwa penting dalam sejarah Palabuhan Ratu.
Kapuunan Cidadap dan Penobatan Nyai Ratu
Delapan tahun berselang, tepatnya pada 1575 Masehi, status Kampung Cidadap ditingkatkan menjadi sebuah Kapuunan dengan nama Cidadap Palabuhan Nyai Ratu. Pada momen ini, Nyai Putri Purnamasari dinobatkan sebagai pemimpin dengan gelar Ratu Puun Punar Diwastu, melalui prosesi pensucian dan penobatan yang bertepatan dengan Upacara Kuwera Bakti pada malam bulan purnama.
Nyai Putri Purnamasari memimpin Kapuunan Cidadap selama kurang lebih 15 tahun, hingga tahun 1590 Masehi, sebelum menyerahkan kepemimpinan kepada putri tunggalnya, Nyai Putri Mayang Sagara.
Lahirnya Negeri Palabuhan Nyai Ratu dan Gelar Ratu Kidul
Pada 1595 Masehi, pusat Kapuunan Cidadap dipindahkan ke wilayah Basisir Lebak Cawene, tepatnya di sebelah utara muara Sungai Cimandiri. Seiring perpindahan tersebut, status Kapuunan ditingkatkan menjadi sebuah negeri dengan nama Palabuhan Nyai Ratu, tanpa embel-embel Cidadap.
Dengan perubahan status ini, Nyai Putri Mayang Sagara secara otomatis menjadi Ratu Pakuan, atau Ratu Pusat Pemerintahan, dengan Ngaran Diwastu (nama nobat suci) RATU KIDUL. Penamaan ini merujuk pada posisi geografis dan kekuasaan wilayah selatan Pajajaran, bukan tokoh mitologi atau dongeng Nyi Roro Kidul seperti yang kerap disalahpahami.
Seiring meluasnya wilayah kekuasaan hingga mencakup Cianjur Selatan dan Binuwangeun (Banten), negeri ini kemudian berganti nama menjadi Palabuhan Nyai Ratu Pakuan Pajajaran Tengah Mandiri.
Jejak Istana dan Asal-usul Nama Palabuhan Ratu
Berdasarkan penuturan sejarah lokal, letak istana kerajaan Palabuhan Nyai Ratu berada di sekitar kawasan yang kini dikenal sebagai sekitar Restoran Queen/Geksor, di samping Indomaret, seberang Alun-Alun Godo Bangkong, dengan ciri khas vegetasi Haur Koneng.
Dalam perkembangan waktu dan penyederhanaan penyebutan, nama Palabuhan Nyai Ratu kemudian dikenal luas sebagai Palabuhan Ratu, nama yang bertahan hingga saat ini.
Meluruskan Sejarah Nyi Loro Kidul
Penyebutan Nyi Loro Kidul yang populer di masyarakat pesisir selatan sesungguhnya berasal dari fakta sejarah bahwa wilayah pakidulan kala itu dipimpin oleh dua ratu, yakni Nyai Putri Purnamasari dan Nyai Putri Mayang Sagara. Istilah “loro” merujuk pada dua pemimpin perempuan, bukan sosok mistis semata.
Sejarah ini menegaskan bahwa Palabuhan Ratu bukan hanya destinasi wisata, melainkan juga pusat peradaban, politik, dan kebudayaan Pajajaran Kidul, yang diwariskan oleh kepemimpinan perempuan tangguh dalam sejarah Sunda.
Catatan Redaksi Sejarah:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar . Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.
Penulis : Irv
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info














