Jejak Putih Telaga Bodas: Sejarah Vulkanik, Mitos Leluhur, dan Pesona Wisata di Perbatasan Garut–Tasikmalaya

- Penulis

Minggu, 16 November 2025 - 23:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info||Tasikmalaya — Telaga Bodas, sebuah kawah alami yang sejak masa kolonial Belanda dikenal dengan sebutan White Lake, terus memikat pengunjung dengan warna putih khas airnya yang berasal dari kandungan belerang. Di balik keindahan alamnya, kawasan ini menyimpan sejarah panjang, catatan geologi penting, serta legenda rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi.Senin (17/11/2025)

Secara geologis, Telaga Bodas merupakan bagian dari gunung stratovolcano purba yang telah terbentuk sejak ribuan tahun lalu. Aktivitas vulkanik yang masih terasa hingga kini mulai dari lubang asap, kolam lumpur panas, hingga mata air suhu tinggi menjadi bukti bahwa kawasan ini masih hidup sebagai ruang geotermal alami. Letusan-letusan bersejarah juga pernah tercatat, di antaranya pada tahun 1913 dan 1921. Dua peristiwa tersebut sempat mengubah komposisi dan warna air danau, sekaligus memperkaya catatan ilmiah para ahli vulkanologi kolonial.

Catatan sejarah menyebutkan bahwa Telaga Bodas mulai dikenal luas pada era Hindia Belanda. Pemerintah kolonial resmi menetapkannya sebagai objek wisata pada 4 Februari 1924, menjadikannya salah satu destinasi alam favorit kalangan Eropa di Priangan timur. Eksotisme danau putih ini bahkan diabadikan dalam kartu pos oleh fotografer Belanda pada tahun 1932. Kartu pos tersebut beredar luas hingga ke mancanegara, mengangkat nama Telaga Bodas sebagai lokasi wisata “ajaib” dari Hindia Timur yang sarat fenomena alam langka.

Di balik sejarah ilmiah dan kolonialnya, Telaga Bodas juga dibalut cerita rakyat yang tak kalah menarik. Masyarakat setempat meyakini bahwa danau ini terbentuk setelah peristiwa besar yang mengguncang bumi: gempa dahsyat yang memicu letusan gunung hingga lava mengalir deras menyusuri sungai di bawahnya. Dalam keputusasaan melihat ancaman bagi warganya, seorang lelaki tua sakti memanjatkan doa kepada Dewa agar rakyat diselamatkan. Doa itu dikabulkan hujan deras turun tanpa henti hingga memadamkan arus lava, mengeras, dan membentuk cekungan besar yang kemudian berisi air belerang putih yang dikenal sebagai Telaga Bodas.

Tidak jauh dari kawasan kawah, wisatawan juga bisa menikmati lokasi pemandian air panas Cipatuh lebih dikenal sebagai Cipanas yang memiliki tujuh pancuran dengan karakteristik rasa dan suhu air yang berbeda. Tempat ini dipercaya memiliki khasiat penyembuhan untuk beberapa penyakit kulit dan pegal-pegal akibat kandungan mineral vulkaniknya. Secara geografis, area wisata ini terletak di Desa Sundakerta, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, hanya beberapa kilometer dari Telaga Bodas. Lokasinya juga berada di wilayah perbatasan antara Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya, menjadikannya destinasi strategis yang dapat diakses dari dua kabupaten sekaligus.

Dengan perpaduan antara sejarah geologi, catatan kolonial, nilai budaya, hingga mitos lokal yang terus hidup, Telaga Bodas bukan hanya sebatas objek wisata alam. Ia adalah arsip terbuka yang merekam dinamika bumi, jejak peradaban, sekaligus khazanah kepercayaan masyarakat Sunda. Kini, kawasan ini terus dikembangkan menjadi destinasi unggulan garapan pemerintah daerah, sekaligus ruang edukasi untuk mengenalkan kekayaan geologis Jawa Barat kepada generasi muda.

Pesona Telaga Bodas terus bersinar putihnya air yang menenangkan menjadi saksi perjalanan panjang sebuah lanskap alam yang lahir dari bencana, tumbuh menjadi legenda, dan kini menjadi kebanggaan dua kabupaten di kaki Priangan timur.

Catatan Redaksi:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar Situs Kendan. Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.

Penulis: Kopka Irvan

READ  Limbangan, Haruman, dan Akar Peradaban Garut: Menyusuri Jejak Sejarah Dari Kerajaan Sunda hingga Pusat Penyebaran Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”
Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa
Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan
Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah
Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul
Ratu Sunyalarang dan Nyi Rambut Kasih: Fragmen Sejarah Budaya Talaga Manggung Majalengka
Menguak Jejak Leluhur di Gunung Nagara Padang: Wisata Spiritual yang Menyatu dengan Sejarah Kampung Tutugan
Jejak Legenda Batu Kukumbung di Laut Jayanti: Kopka Irvan Lakukan Monitoring Sambil Mengungkap Nilai Sejarah dan Budaya Lokal
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:04 WIB

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”

Jumat, 13 Maret 2026 - 05:59 WIB

Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa

Selasa, 27 Januari 2026 - 10:12 WIB

Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:20 WIB

Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah

Selasa, 13 Januari 2026 - 13:48 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul

Berita Terbaru

Berita Daerah

Kafilah SBB Hadiri Pembukaan Serimonial MTQ ke-XXXI Maluku 

Selasa, 23 Jun 2026 - 02:11 WIB