Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”

- Penulis

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info | Bandung, ecintaan terhadap sejarah dan kearifan lokal kembali diwujudkan melalui karya seni oleh seorang seniman Sunda asal Sukajadi, Bandung, Dr. Agus Kapinis, SH. Melalui lagu berbahasa Sunda berjudul “Kaboa Ngadaun Ngora”, ia berupaya menghidupkan kembali nilai-nilai kepemimpinan luhur yang berakar dari sejarah Kerajaan Sunda, khususnya keteladanan sosok raja legendaris Prabu Siliwangi.Jumat (13/3/2026)

Lagu tersebut tidak sekadar karya musik, melainkan sebuah pesan budaya yang sarat makna filosofis. Dalam tradisi bahasa Sunda, ungkapan “Kaboa Ngadaun Ngora” menggambarkan tunas muda yang mulai tumbuh dan mengeluarkan daun baru—sebuah simbol kehidupan, harapan, dan kelahiran generasi penerus. Melalui simbol tersebut, Agus Kapinis ingin menyampaikan gagasan tentang lahirnya generasi muda yang kelak mampu memimpin dengan kebijaksanaan, keberanian, serta cinta kepada rakyat.

Sebagai seniman yang dikenal aktif mengangkat tema-tema sejarah dan budaya Sunda dalam karya-karyanya, Agus Kapinis memadukan unsur musik tradisional Sunda dengan pesan spiritual dan refleksi sosial. Komposisi musik dalam lagu ini mengalir dengan nuansa etnik yang kuat, diperkaya dengan lirik yang mengandung pesan moral dan nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan oleh leluhur tanah Sunda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Agus Kapinis, inspirasi utama dari lagu tersebut berangkat dari kisah-kisah kepemimpinan dalam sejarah Kerajaan Sunda yang selama berabad-abad diwariskan melalui cerita rakyat, babad, serta tradisi lisan masyarakat. Dalam narasi sejarah Sunda, sosok Prabu Siliwangi dikenal sebagai raja yang bijaksana, adil, serta memiliki kedekatan dengan rakyatnya. Ia sering digambarkan sebagai pemimpin yang mampu menjaga keseimbangan antara kekuasaan, spiritualitas, dan kesejahteraan masyarakat.

“Lagu ini bukan sekadar tentang masa lalu, tetapi tentang harapan masa depan. Saya ingin menyampaikan pesan bahwa dari tanah Sunda akan selalu tumbuh generasi muda yang memiliki jiwa kepemimpinan, berani, berakhlak, dan mencintai rakyatnya,” ujar Agus Kapinis saat berbincang dengan sejumlah pegiat seni dan budaya di Bandung.

Melalui karya tersebut, ia juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk kembali mengenal akar sejarah dan identitas budayanya. Menurutnya, di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, nilai-nilai budaya lokal sering kali terpinggirkan, padahal di dalamnya tersimpan kebijaksanaan hidup yang sangat relevan bagi masa kini.

READ  Ratu Sunyalarang dan Nyi Rambut Kasih: Fragmen Sejarah Budaya Talaga Manggung Majalengka

Agus Kapinis menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu yang dipertahankan secara simbolik, melainkan sumber nilai moral, spiritual, serta panduan hidup yang dapat membentuk karakter bangsa. Oleh karena itu, ia percaya bahwa seni—terutama musik—dapat menjadi media efektif untuk menyampaikan pesan-pesan tersebut kepada masyarakat luas.

Para pegiat seni dan pemerhati budaya di Jawa Barat menyambut baik hadirnya karya musik seperti “Kaboa Ngadaun Ngora”. Mereka menilai karya tersebut memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan tradisi serta memperkuat kesadaran sejarah di kalangan generasi muda.

Dalam pandangan mereka, seni yang mengangkat tema sejarah dan filosofi lokal dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Melalui lagu, nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur dapat disampaikan dengan cara yang lebih mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat modern.

“Lagu-lagu bernuansa sejarah seperti ini memiliki nilai edukasi yang tinggi. Generasi muda tidak hanya menikmati musiknya, tetapi juga belajar memahami sejarah, filosofi hidup, serta nilai kepemimpinan yang diwariskan oleh para leluhur Sunda,” ujar salah satu pegiat budaya di Bandung.

Selain menjadi karya seni, lagu ini juga dianggap sebagai bentuk pengingat bahwa identitas budaya merupakan fondasi penting bagi sebuah bangsa. Tanpa pemahaman terhadap sejarah dan akar budayanya, suatu masyarakat berisiko kehilangan arah dalam menghadapi perubahan zaman.

Dengan dirilisnya lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”, Agus Kapinis berharap semangat kearifan lokal Sunda tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Ia juga berharap karya tersebut mampu menginspirasi generasi muda Indonesia untuk menggali kembali nilai-nilai luhur dari sejarah dan tradisi bangsa.

Bagi Agus Kapinis, seni bukan hanya sarana ekspresi, tetapi juga medium untuk menanamkan kesadaran sejarah, membangun karakter, serta menumbuhkan harapan akan lahirnya pemimpin masa depan yang berpijak pada nilai-nilai kebijaksanaan leluhur.

“Selama budaya masih hidup dalam hati masyarakatnya, maka jati diri bangsa tidak akan pernah hilang,” tutupnya.

Penulis : HS

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Suararakyat.info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa
Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan
Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah
Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul
Ratu Sunyalarang dan Nyi Rambut Kasih: Fragmen Sejarah Budaya Talaga Manggung Majalengka
Menguak Jejak Leluhur di Gunung Nagara Padang: Wisata Spiritual yang Menyatu dengan Sejarah Kampung Tutugan
Jejak Legenda Batu Kukumbung di Laut Jayanti: Kopka Irvan Lakukan Monitoring Sambil Mengungkap Nilai Sejarah dan Budaya Lokal
Naskah Naewolo Poestoko Rojo 1375: Dokumen Adat Nusantara yang Menjadi Ajaran Perdamaian Dunia dan Fondasi Pembangunan Semesta
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:04 WIB

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”

Jumat, 13 Maret 2026 - 05:59 WIB

Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa

Selasa, 27 Januari 2026 - 10:12 WIB

Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:20 WIB

Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah

Selasa, 13 Januari 2026 - 13:48 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul

Berita Terbaru