SUARARAKYAT.info||Cianjur-Di tengah keterbatasan fasilitas dan kurangnya perhatian pemerintah, kelompok rukun nelayan Jayanti di Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun, Cianjur Selatan, menunjukkan semangat gotong royong yang luar biasa. Dengan tenaga dan biaya sendiri, para nelayan bahu-membahu membangun jalur evakuasi untuk pendaratan dan penaikan perahu di Pelabuhan Jayanti, RT 02 RW 10.
Pembangunan jalur tersebut bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak. Jumlah perahu nelayan yang kian bertambah tidak sebanding dengan ketersediaan lahan parkir perahu yang layak. Akibatnya, banyak perahu nelayan rusak bahkan karam saat cuaca buruk melanda. Situasi ini tentu merugikan nelayan, yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil melaut.Rabu (10/9/2025)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini semua murni dari iuran kami, karena kami tidak bisa lagi menunggu janji yang tidak kunjung pasti. Harapan kami sebenarnya sederhana: pemerintah daerah maupun pusat segera turun tangan membangun kolam labuh atau dermaga ikan yang layak,” ungkap salah seorang nelayan.
Pernyataan tersebut menyiratkan kekecewaan mendalam terhadap pemerintah yang seolah abai menghadirkan solusi konkret. Padahal, sektor perikanan rakyat di Jayanti memiliki potensi besar dalam menopang ekonomi masyarakat pesisir. Namun, tanpa fasilitas pelabuhan yang memadai, potensi itu justru terancam tenggelam bersama perahu-perahu yang tak punya tempat aman untuk berlabuh.
Para nelayan Jayanti berharap pemerintah hadir bukan hanya dalam bentuk janji, melainkan aksi nyata yang berpihak pada rakyat kecil. Bagi mereka, kerja keras dan gotong royong ini adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakpedulian. Namun, mereka juga sadar bahwa kemampuan swadaya ada batasnya. Tanpa campur tangan negara, cita-cita memiliki pelabuhan yang representatif akan sulit tercapai.
“Pemerintah mestinya ada di tengah-tengah nelayan, bukan sekadar datang saat kampanye atau seremonial,” tambah tokoh nelayan lainnya dengan nada kecewa.

Kisah swadaya nelayan Jayanti ini menjadi cermin ironis dari wajah pembangunan: rakyat berjuang sendiri di tengah janji-janji pemerintah yang tak kunjung ditepati. Jika kondisi ini terus berlarut, maka yang terancam bukan hanya perahu dan penghidupan nelayan, melainkan juga masa depan generasi pesisir Jayanti yang bergantung pada laut sebagai sumber kehidupan.
(Cep Toto)














