DLH Telusuri Dugaan Pencemaran Sungai Cikaramat, Hasil Uji Laboratorium Jadi Penentu

- Penulis

Minggu, 19 Juli 2026 - 23:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT || SUKABUMI – Dugaan pencemaran Sungai Cikaramat di Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, yang sempat viral di media sosial hingga mendapat perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kini memasuki tahap investigasi.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat bersama DLH Kabupaten Sukabumi turun langsung ke lapangan untuk menelusuri sumber dugaan pencemaran tersebut. Tim gabungan yang didampingi unsur Kecamatan Cikembar menyusuri aliran Sungai Cikaramat dari kawasan hulu hingga hilir.

Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari observasi kondisi sungai, pengambilan sampel air di sejumlah titik, hingga peninjauan lokasi usaha pemotongan batu hijau yang berada di sekitar aliran sungai dan diduga berkaitan dengan perubahan warna air yang menjadi sorotan publik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sekretaris Kecamatan Cikembar, Lenni Nurliah, mengatakan kegiatan lapangan yang dilaksanakan pada Sabtu (18/7/2026) merupakan tindak lanjut atas laporan masyarakat mengenai dugaan pencemaran Sungai Cikaramat.

“Kami bersama tim analisis DLH Provinsi Jawa Barat dan DLH Kabupaten Sukabumi melaksanakan assessment lapangan. Pemeriksaan dimulai dari kawasan Bojongkaler di bagian hulu hingga Jembatan Bungur Pandak di wilayah hilir. Di beberapa titik, tim mengambil sampel air untuk dilakukan pengujian di laboratorium,” ujar Lenni mewakili Camat Cikembar.

Selain melakukan pengambilan sampel air, tim juga memeriksa sistem pengelolaan limbah di sejumlah lokasi usaha pemotongan batu hijau. Pemeriksaan difokuskan pada keberadaan kolam penampungan limbah sebagai langkah untuk memastikan tidak terjadi pembuangan limbah secara langsung ke badan sungai.

READ  Diduga Oknum KP2MI Sebarkan Foto Paspor TKI, Korban Dipaksa Jadi 'Uka-Uka'

Meski demikian, Lenni menegaskan pemerintah belum dapat menarik kesimpulan mengenai penyebab perubahan warna air Sungai Cikaramat. Seluruh dugaan masih menunggu pembuktian ilmiah melalui hasil uji laboratorium.

“Hingga saat ini kami belum bisa memastikan apakah perubahan warna air tersebut berasal dari aktivitas pemotongan batu hijau atau dipengaruhi faktor lain. Kami masih menunggu hasil uji laboratorium yang diperkirakan selesai dalam waktu sekitar 14 hari. Hasil resminya akan disampaikan oleh DLH Provinsi Jawa Barat,” katanya.

Ia menjelaskan, apabila hasil pengujian laboratorium membuktikan adanya pencemaran yang bersumber dari aktivitas usaha pengolahan batu hijau, pemerintah akan lebih dahulu mengedepankan langkah pembinaan agar seluruh pelaku usaha memenuhi ketentuan pengelolaan limbah sesuai regulasi.

“Pemerintah akan mencari solusi bersama agar perlindungan lingkungan tetap berjalan tanpa mengabaikan keberlangsungan ekonomi masyarakat. Pelaku usaha yang belum memiliki kolam penampungan limbah diimbau segera membangunnya agar limbah tidak mengalir ke sungai. Terlebih pada musim kemarau, sungai menjadi sumber air yang sangat dibutuhkan warga,” ujarnya.

Lenni menambahkan, apabila setelah hasil laboratorium diterbitkan masih ditemukan pelaku usaha yang mengabaikan kewajiban pengelolaan lingkungan, pemerintah akan mengambil langkah sesuai kewenangan dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab perubahan warna Sungai Cikaramat. Warga diminta menunggu hasil resmi uji kualitas air agar informasi yang berkembang tetap berdasarkan fakta dan hasil investigasi ilmiah.

Penulis : Prima RK

Editor : Redaksi

Sumber Berita: SUARARAKYAT.info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Forkopimda Absen di HUT Dadali Pati Ke-9, Komitmen Pemkot Sukabumi terhadap Pelestarian Budaya Dipertanyakan
RUSAIDA Bongkar Dugaan Praktik TPPO, PMI Asal Sukabumi Tertahan di Dubai, Keluarga Dibebani Biaya Pulang
Kasus Peluru Nyasar Alastlogo: PC PMII Pasuruan Sayangkan Sikap Polresta yang Menunggu Laporan Korban
BEM Nusantara Sukabumi Raya Soroti Tata Kelola RSUD Palabuhanratu: Anggaran Puluhan Miliar Digelontorkan, Pelayanan dan Fasilitas Dinilai Belum Sejalan
Diduga Teror Peluru Nyasar di Alastlogo Belum Terpecahkan, BEMPTNU Tapal Kuda Desak Polres Pasuruan Kota Buka Hasil Penyelidikan Secara Transparan
Bupati Sukabumi Drs H Asep Japar M.M. Apresiasi P3 A Dab GP3A Mitra Cai Berperan Vital Dalam Meningkatan Produksi Hasil Pertanian 
Anak Bangsa Belajar di Bangunan Rapuh, MI Tanjungsari Menanti Bukti Nyata Kepedulian Pemerintah
DPU Sukabumi Perkuat Kapasitas P3A dan GP3A, Dorong Pengelolaan Irigasi Demi Ketahanan Pangan
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 23:18 WIB

DLH Telusuri Dugaan Pencemaran Sungai Cikaramat, Hasil Uji Laboratorium Jadi Penentu

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:08 WIB

Forkopimda Absen di HUT Dadali Pati Ke-9, Komitmen Pemkot Sukabumi terhadap Pelestarian Budaya Dipertanyakan

Selasa, 14 Juli 2026 - 14:03 WIB

RUSAIDA Bongkar Dugaan Praktik TPPO, PMI Asal Sukabumi Tertahan di Dubai, Keluarga Dibebani Biaya Pulang

Jumat, 10 Juli 2026 - 11:00 WIB

Kasus Peluru Nyasar Alastlogo: PC PMII Pasuruan Sayangkan Sikap Polresta yang Menunggu Laporan Korban

Kamis, 9 Juli 2026 - 14:53 WIB

BEM Nusantara Sukabumi Raya Soroti Tata Kelola RSUD Palabuhanratu: Anggaran Puluhan Miliar Digelontorkan, Pelayanan dan Fasilitas Dinilai Belum Sejalan

Berita Terbaru