SUARARAKYAT.info|| GARUT – Sejarah Kabupaten Garut tidak dapat dipisahkan dari dua pusat penting perkembangan wilayahnya, yakni Limbangan sebagai embrio pemerintahan dan Gunung Haruman–Cibiuk sebagai pusat penyebaran Islam di Garut Utara. Minggu (16/11/2025)
Rangkaian perjalanan sejarah ini membentang dari era Kerajaan Sunda, masa Sumedang Larang, campur tangan VOC, hingga kolonial Inggris, yang kemudian membentuk identitas Garut seperti yang dikenal sekarang.
Limbangan Ibu Kota Tua dan Cikal Bakal Kabupaten Garut
Sebelum nama “Garut” muncul dalam catatan kolonial, wilayah ini dikenal sebagai Kabupaten Limbangan, yang menjadi salah satu pusat pemerintahan terpenting di Priangan Timur pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19.
Wilayah Limbangan pada masa awal dikenal dengan nama Rumenggong, dan dipimpin oleh seorang tokoh bernama Sunan Rumenggong. Setelah Kerajaan Sunda runtuh pada akhir abad ke-16, wilayah Rumenggong masuk ke dalam kekuasaan Kerajaan Sumedang Larang, yang kala itu menjadi penerus politik Sunda.
VOC akhirnya mengembalikan status Limbangan sebagai kabupaten mandiri pada 24 Maret 1706, dan mengangkat Rangga Merta Singa sebagai bupati pertamanya. Status ini menandai perjalanan administratif resmi Kabupaten Limbangan dalam struktur pemerintahan Hindia-Belanda.
Pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1811), Kabupaten Limbangan dibubarkan karena dianggap tidak menguntungkan secara ekonomi, terutama dalam penyediaan komoditas perkebunan yang sedang digenjot pemerintah kolonial.
Tidak lama kemudian, pada masa pemerintahan Inggris, Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles resmi mengembalikan status Limbangan sebagai kabupaten pada 16 Februari 1813. Pada masa inilah pusat pemerintahan Limbangan dipindahkan dari Suci ke lokasi baru yang kini dikenal sebagai Kota Garut, dipilih karena kondisi geografisnya yang dinilai lebih strategis bagi pengembangan perkebunan.Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Garut, yang diperingati setiap tanggal 16 Februari.
Pada tahun 1913 pemerintah kolonial menetapkan perubahan nama dari Kabupaten Limbangan menjadi Kabupaten Garut, sekaligus memindahkan pusat administrasi sepenuhnya ke Garut.
Gunung Haruman Cibiuk: Jejak Penyebaran Islam Garut Utara
Selain Limbangan sebagai pusat pemerintahan, Garut memiliki pusat spiritual dan dakwah Islam yang sangat berpengaruh, yaitu Gunung Haruman yang berada di wilayah Cibiuk.
Gunung Haruman diyakini sebagai tempat penyebaran Islam oleh Sunan Ja’far Sidiq, atau lebih dikenal masyarakat setempat sebagai Embah Wali Ja’far Sidiq. Beliau diperkirakan hidup pada akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18 dan menjadi tokoh penting dalam menyebarkan ajaran Islam dan ilmu pengetahuan di wilayah Cibiuk–Limbangan.Di wilayah Cibiuk terdapat masjid kuno yang masih berdiri dan menjadi bukti sejarah kuatnya proses islamisasi Garut Utara. Masjid ini menjadi pusat syiar agama, tempat masyarakat belajar tauhid, fikih, dan ajaran dasar Islam langsung dari para ulama Haruman.
Di puncak Gunung Haruman terdapat sebuah batu purba yang bentuknya menyerupai kepala kuda. Batu ini menyimpan banyak legenda:Sebagian masyarakat meyakini batu tersebut peninggalan Prabu Kian Santang, putra Prabu Siliwangi.
Versi lain menyebutkan batu tersebut pernah digunakan oleh Syekh Ja’far Sidiq sebagai “kendaraan karomah” ketika melakukan perjalanan spiritual menuju Mekkah.
Sayangnya, batu bersejarah ini kini mengalami kerusakan akibat pohon di sekitar lokasi ditebang oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Makam Embah Ja’far Sidiq berada di perbukitan kaki Gunung Haruman dan menjadi salah satu lokasi ziarah terpenting di Garut. Setiap tahun ribuan peziarah datang untuk mendoakan dan mengenang jasa dakwah beliau.
Garut Dari Pusat Pemerintahan Sunda hingga Kota Bersejarah
Jejak sejarah Limbangan dan Gunung Haruman memperlihatkan bahwa Garut bukan hanya kota wisata alam, tetapi wilayah dengan akar sejarah kuat yang melibatkan:
peradaban Sunda,
kekuasaan Sumedang Larang,
pemerintahan kolonial Belanda dan Inggris,
serta penyebaran Islam yang membentuk karakter masyarakatnya hingga sekarang.
Garut lahir dari rangkaian peristiwa politik dan spiritual yang saling terkait, menjadikannya salah satu kabupaten paling kaya sejarah di Jawa Barat.
Catatan Redaksi:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar Situs Kendan. Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.
Penulis: Kopka Irvan














