Jejak Mistis Kerajaan Batuwangi: Mengungkap Silsilah Leluhur yang Menjaga Tanah Ciudian Sejak Tahun 932 M

- Penulis

Jumat, 14 November 2025 - 23:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info|| GARUT – Dalam kabut pegunungan Singajaya yang sejuk dan sunyi, tersimpan sebuah kisah panjang yang bercampur antara sejarah, spiritualitas, dan legenda kesaktian. Di Desa Ciudian, Kecamatan Singajaya, berdiri Kerajaan Batuwangi sebuah kerajaan tua yang diyakini hadir sejak tahun 932 hingga 1759 Masehi. Di balik kerajaan ini, nama Eyang Dalam Batuwangi menjadi tokoh sentral yang hingga kini dihormati oleh keturunannya maupun masyarakat setempat.Sabtu (15/11/2025)

Jejak Kedatangan Sang Penyebar Islam

Menurut penuturan para sesepuh, Eyang Dalam Batuwangi datang ke Ciudian bukan sekadar sebagai pendatang, tetapi sebagai seorang ulama yang membawa misi penyebaran agama Islam ke wilayah pedalaman Garut Selatan. Kedatangannya disertai wibawa dan karisma yang kuat, hingga masyarakat setempat mengangkatnya sebagai pemimpin spiritual sekaligus pemuka adat.

Dari beliaulah kelak berdiri sebuah kerajaan yang dikenal sebagai Kerajaan Batuwangi, sebuah pusat penyebaran Islam yang memadukan nilai-nilai dakwah dengan kekuatan budaya lokal.

Keturunan Eyang Dalam Batuwangi: Pewaris Darah Kerajaan

Sumber-sumber lisan menyebutkan bahwa Eyang Dalam Batuwangi memiliki dua keturunan: seorang putra dan seorang putri yang dikenal berparas rupawan. Dari garis putra inilah lahir seorang tokoh besar yang kelak menjadi raja, yaitu:
Marjyahiang Bayu Prabu Pahayu Kinasihan, Raja Batuwangi yang disebut sebagai putra dari Sunan Batuwangi (gelar bagi Eyang Dalam Batuwangi).

Ia memimpin kerajaan dengan reputasi yang terkenal kuat, sakti, dan dihormati. Banyak cerita mistis yang melekat pada sosok raja ini, mulai dari kemampuannya membaca tanda alam hingga kedekatannya dengan para wali penyebar Islam di tanah Pasundan.

Wilayah Kekuasaan Batuwangi yang Membentang Luas

Pada masa kejayaannya, Kerajaan Batuwangi tidak hanya berada di sekitar Ciudian. Kekuasaan dan pengaruhnya disebut membentang ke wilayah,
Pamegatan,Pacing,Pendeuy,
Pamegatan Cikajang
Jejak-jejak kuno kerajaan ini masih dirasakan melalui nama kampung, struktur pemukiman, hingga adat istiadat yang masih dipertahankan masyarakat sekitar.

Tradisi Ziarah yang Tak Pernah Padam

Sampai saat ini, keturunan Eyang Dalam Batuwangi yang mendiami Kampung Ciudian masih menjaga tradisi leluhur. Ritual ziarah ke makam Eyang Dalam Batuwangi menjadi agenda penting, dilakukan sebagai penghormatan sekaligus rasa syukur.

Ziarah dilakukan tidak hanya oleh keluarga keturunan, tetapi juga masyarakat luas yang percaya bahwa Eyang Dalam Batuwangi adalah sosok wali yang menjadi penjaga spiritual tanah Batuwangi. Banyak warga meyakini bahwa makam beliau memancarkan cahaya ketenangan, dan doa-doa yang dipanjatkan di sana membawa berkah tersendiri.

Aura Mistis yang Menyelimuti Kerajaan Batuwangi

Walau kerajaan ini berakhir pada 1759 M, kisah-kisah mistis tentang Batuwangi tak pernah padam. Beberapa warga mengaku sering melihat cahaya putih di sekitar makam leluhur pada malam-malam tertentu. Ada pula cerita tentang suara gamelan halus yang terdengar dari arah bukit pada malam Senin dan Kamisn sesuatu yang oleh para sesepuh dianggap sebagai tanda penjagaan para karuhun.

Bagi masyarakat Ciudian, Kerajaan Batuwangi bukan hanya kisah sejarah. Ia adalah bagian dari identitas, garis darah, sekaligus sumber kekuatan spiritual yang terus hidup hingga kini.

Silsilah Leluhur Batuwangi adalah warisan panjang yang membentang lebih dari delapan abad. Di tengah modernisasi, masyarakat Ciudian tetap teguh menjaga tradisi, menghormati para karuhun, dan merawat jejak penyebar Islam yang pertama menapakkan kaki di tanah tersebut.

Kerajaan Batuwangi mungkin tidak lagi berdiri secara fisik, namun warisannya terus hidup di hati masyarakat membentuk sebuah kisah sejarah yang sarat mistis, penuh wibawa, sekaligus menjadi kebanggaan warga Garut Selatan.

Catatan Redaksi:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar Situs Kendan. Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.

Penulis: Kopka Irvan

READ  Jejak Peradaban Galuh di Tengah Danau: Menguak Sejarah Panjang Candi Cangkuang Garut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”
Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa
Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan
Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah
Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul
Ratu Sunyalarang dan Nyi Rambut Kasih: Fragmen Sejarah Budaya Talaga Manggung Majalengka
Menguak Jejak Leluhur di Gunung Nagara Padang: Wisata Spiritual yang Menyatu dengan Sejarah Kampung Tutugan
Jejak Legenda Batu Kukumbung di Laut Jayanti: Kopka Irvan Lakukan Monitoring Sambil Mengungkap Nilai Sejarah dan Budaya Lokal
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:04 WIB

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”

Jumat, 13 Maret 2026 - 05:59 WIB

Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa

Selasa, 27 Januari 2026 - 10:12 WIB

Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:20 WIB

Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah

Selasa, 13 Januari 2026 - 13:48 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul

Berita Terbaru

Berita Daerah

Kafilah SBB Hadiri Pembukaan Serimonial MTQ ke-XXXI Maluku 

Selasa, 23 Jun 2026 - 02:11 WIB