SUARARAKYAT.info||Yogyakarta-Sejarah panjang Kesultanan Yogyakarta menyimpan banyak tokoh penting, namun hanya sedikit yang menimbulkan perdebatan dan luka kolektif sedalam sosok Tan Jin Sing, atau yang kemudian dikenal dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Secodiningrat. Ia tercatat sebagai bupati pertama dan satu-satunya dari etnis Tionghoa yang pernah menduduki jabatan tinggi dalam struktur birokrasi Keraton Yogyakarta.
Namun, di balik pencapaian politiknya yang luar biasa pada awal abad ke-19, Tan Jin Sing justru menjalani hidup yang penuh keterasingan. Ia menjadi figur yang dibenci oleh dua dunia sekaligus: bangsawan Jawa dan komunitas Tionghoa, sebuah ironi sejarah yang mencerminkan kompleksitas relasi etnis, kekuasaan, dan kolonialisme di Jawa.
Dari Kapitan Cina ke Orang Kepercayaan Inggris
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tan Jin Sing memulai kariernya sebagai Kapitan Cina Yogyakarta, posisi strategis yang menjadikannya penghubung antara komunitas Tionghoa, Keraton, dan kekuatan kolonial. Ia dikenal cerdas, fasih berbagai bahasa, serta memahami dinamika politik lokal dan internasional.
Kemampuan inilah yang menarik perhatian Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Inggris di Jawa (1811–1816). Dalam situasi politik yang genting, Tan Jin Sing menjadi informan kunci Inggris menjelang peristiwa besar yang kelak dikenal sebagai Geger Sepehi pada Juni 1812.
Peran Kontroversial dalam Geger Sepehi
Puncak kebencian terhadap Tan Jin Sing bermula dari keterlibatannya dalam penyerbuan Inggris ke Keraton Yogyakarta. Sebagai orang dalam yang memahami seluk-beluk pertahanan keraton, Tan Jin Sing memberikan informasi rahasia dan peta detail kelemahan militer Yogyakarta kepada Raffles.
Berkat informasi tersebut, pasukan Inggris dengan mudah menaklukkan keraton, menggulingkan Sri Sultan Hamengkubuwono II, serta menjarah kekayaan dan simbol-simbol kedaulatan Jawa. Peristiwa ini menjadi trauma sejarah yang membekas hingga kini.
Di mata bangsawan dan rakyat Jawa, tindakan Tan Jin Sing dipandang sebagai pengkhianatan terbesar, bukan hanya terhadap Sultan, tetapi terhadap martabat tanah Jawa itu sendiri.
Hadiah Kekuasaan yang Berbuah Permusuhan
Sebagai imbalan atas jasanya, pada tahun 1813 Tan Jin Sing diangkat menjadi bupati oleh Raffles dan Sultan Hamengkubuwono III, dengan gelar KRT Secodiningrat. Ia dianugerahi tanah jabatan (perdikan) seluas sekitar 800 cacah di wilayah Lowano, Purworejo.
Namun, pengangkatan ini justru menjadi awal penderitaan sosialnya.
Bagi bangsawan Jawa, kehadiran seorang non-Muslim yang kemudian masuk Islam demi jabatan, sekaligus berasal dari etnis Tionghoa, dianggap melanggar tatanan kosmis dan tradisi politik Jawa yang sakral. Ia dipandang tidak pernah benar-benar setara, meski telah bergelar kebangsawanan.
Sementara itu, di sisi lain, komunitas Tionghoa justru merasa terancam. Mereka khawatir tindakan politik Tan Jin Sing akan memicu kebencian massal terhadap seluruh etnis Tionghoa. Dalam situasi sosial yang rapuh, ia dianggap telah mengorbankan keselamatan kolektif demi ambisi pribadi.
“Cina Wurung, Londo Durung, Jawa Tanggung”
Keterasingan Tan Jin Sing diabadikan dalam pantun satir yang populer di masyarakat Yogyakarta:
“Cina wurung, Londo durung, Jawa tanggung.”
Pantun ini menggambarkan krisis identitas yang dialaminya:
tak lagi dianggap sebagai orang Tionghoa,
belum pernah menjadi orang Eropa,
dan tak pernah sepenuhnya diterima sebagai orang Jawa.
Ia meninggalkan akar budaya Tionghoa, mengadopsi gaya hidup bangsawan Jawa, bahkan memeluk Islam.
Namun semua itu tidak cukup untuk menghapus stigma etnis dan politik yang melekat padanya.
Peran yang Terlupakan dalam Penemuan Borobudur
Di balik kontroversi dan kebencian, sejarah juga mencatat jasa besar Tan Jin Sing yang kerap terlupakan, bahkan sering diklaim sepihak oleh Raffles: penemuan kembali Candi Borobudur.
Berdasarkan sejumlah catatan, informasi awal mengenai keberadaan candi yang tertimbun tanah dan semak belukar itu berasal dari laporan Tan Jin Sing, yang mendapatkan data dari mandor dan pengamatan lapangan. Ia menyusun peta dan laporan detail yang kemudian diserahkan kepada Raffles pada tahun 1814.
Tanpa laporan tersebut, upaya pembersihan Borobudur yang dipimpin oleh Hermanus Christiaan Cornelius sangat mungkin tidak pernah terjadi. Namun, dalam historiografi kolonial, peran Tan Jin Sing kerap dihapus atau dipinggirkan.
Akhir Hayat yang Sunyi dan Terlupakan
Tan Jin Sing meninggal dunia pada Mei 1831, dalam kondisi ekonomi yang memburuk dan kehidupan sosial yang terisolasi. Ia wafat tanpa kemegahan, tanpa kehormatan, dan tanpa penerimaan dari komunitas mana pun.
Hingga kini, namanya tetap menjadi simbol tragisnya individu yang terjebak di antara kekuasaan kolonial, konflik etnis, dan politik identitas. Ia bukan pahlawan tanpa cela, namun juga bukan sekadar pengkhianat hitam-putih.
Sejarah Tan Jin Sing mengingatkan bahwa masa kolonial bukan hanya kisah penjajah dan yang dijajah, tetapi juga tentang manusia-manusia yang terseret, dimanfaatkan, lalu ditinggalkan oleh kekuasaan.
Referensi dan Sumber Bacaan
Carey, Peter
Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785–1855),
Jakarta: Komunitas Bambu, 2012.
— Memuat konteks politik Yogyakarta pasca Geger Sepehi serta dinamika elite keraton di bawah intervensi Inggris.
Raffles, Thomas Stamford
The History of Java,
London: Black, Parbury, and Allen, 1817.
— Sumber primer kolonial yang mencatat peristiwa Geger Sepehi, penyerbuan Keraton Yogyakarta, dan proses “penemuan kembali” Borobudur, meski dengan bias kolonial.
Ricklefs, M.C.
Jogjakarta under Sultan Mangkubumi, 1749–1792 dan
A History of Modern Indonesia since c.1200,
Stanford University Press.
— Menjelaskan struktur politik Jawa, peran elite non-Jawa, serta perubahan tatanan birokrasi akibat kolonialisme.
Lombard, Denys
Nusa Jawa: Silang Budaya, Jilid II,
Jakarta: Gramedia, 2005.
— Memberikan konteks relasi etnis Tionghoa–Jawa dan posisi sosial Kapitan Cina di kota-kota kerajaan Jawa.
Salmon, Claudine
The Chinese Community of Java,
Paris: École Française d’Extrême-Orient.
— Membahas peran elite Tionghoa, termasuk Kapitan Cina, dalam struktur kolonial dan lokal Jawa.
Carey, Peter & Houben, Vincent (ed.)
The British in Java 1811–1816,
Leiden: KITLV Press.
— Mengulas secara khusus masa pemerintahan Inggris, peran Raffles, dan figur-figur lokal yang bekerja sama dengannya, termasuk Tan Jin Sing.
Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah
Sejarah Penemuan dan Pemugaran Candi Borobudur,
Magelang.
— Menyebut peran informan lokal dan laporan awal sebelum ekspedisi Cornelius.
Artikel dan Arsip Sejarah Populer
“Tan Jin Sing, Bupati Yogyakarta Keturunan Tionghoa”
“Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa yang Akhir Hayatnya Diolok-olok”
“Tan Jin Sing dan Kontroversi Penemuan Borobudur”
— Berbagai media sejarah dan arsip daring Indonesia
Penulis : Irvan
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info













