SUARARAKYAT.info|| SUKABUMI — Di pesisir selatan Jawa Barat, tepatnya di wilayah Sukabumi, terbentang sebuah kawasan yang sarat legenda dan nilai sejarah Pelabuhan Ratu. Pantai yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia ini bukan hanya dikenal karena keindahan alamnya yang memukau, tetapi juga karena kisah mistis serta jejak sejarah yang ditinggalkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.Jumat (7/11/2025)
Sekitar tahun 1960, Soekarno membangun tempat peristirahatan pribadi di kawasan Tenjo Resmi, Pelabuhan Ratu. Keputusan itu bukan tanpa alasan panorama laut biru yang luas dan karakter alamnya yang kuat membuat tempat ini menjadi lokasi ideal untuk beristirahat sekaligus merenung. Dari sinilah kemudian muncul gagasan besar lainnya dari sang proklamator, yakni pembangunan Samudera Beach Hotel, salah satu hotel paling megah di Indonesia pada masa itu.
Hotel ini dibangun dalam kurun waktu yang sama dengan Hotel Indonesia, Bali Beach Hotel, dan Sarinah Department Store di Jakarta. Semuanya didanai dari hasil rampasan perang Jepang, simbol kebangkitan bangsa yang baru merdeka untuk menegakkan kemandirian ekonomi nasional.
Namun, Samudera Beach Hotel bukan sekadar monumen pembangunan era Soekarno. Bangunan berarsitektur megah di tepian laut ini menyimpan kisah mistis legendaris keberadaan kamar nomor 308 yang diyakini sebagai tempat persinggahan Nyai Roro Kidul, sang penguasa laut selatan. Hingga kini, kamar tersebut masih dipertahankan dengan segala atribut mistisnya, lengkap dengan lukisan Nyai Roro Kidul yang dikenal anggun dan berwibawa. Banyak pengunjung yang datang untuk berziarah, melakukan ritual, atau sekadar melihat-lihat karena rasa penasaran terhadap legenda yang telah turun-temurun dipercaya masyarakat.
Masyarakat pesisir selatan meyakini bahwa Pelabuhan Ratu adalah gerbang menuju kerajaan gaib di dasar Samudera Hindia, tempat Ratu Kidul bertahta. Keyakinan ini tidak hanya menjadi bagian dari cerita rakyat, tetapi juga membentuk identitas budaya dan spiritual masyarakat setempat.
Di sekitar pantai, tepatnya di kawasan Karang Hawu, terdapat patilasan Ratu Pantai Selatan yang dianggap keramat. Di tempat ini, pengunjung dapat menemukan sejumlah makam yang dihormati, antara lain:
1. Makam Eyang Sanca Manggala
2. Makam Eyang Jalah Mata Makuta
3. Makam Eyang Syech Husni Ali
Tempat-tempat tersebut sering menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat yang datang untuk memanjatkan doa atau melakukan ritual tertentu. Tak jarang, para peziarah juga menyempatkan diri mengunjungi kawasan hotel untuk melihat langsung kamar 308 yang telah menjadi ikon mistik Pelabuhan Ratu.
Selain sisi spiritual, Pelabuhan Ratu memiliki keunikan lain yang membuatnya tetap menjadi magnet wisata. Panorama tebing karang, hamparan pasir yang luas, dan ombak besar yang menggulung kuat menjadikannya destinasi favorit wisatawan lokal maupun mancanegara.
Kini, lebih dari setengah abad sejak Soekarno membangun jejak sejarahnya di sana, Pelabuhan Ratu tetap menjadi tempat yang menyimpan dua wajah: wajah sejarah yang monumental dan wajah mitos yang misterius. Dua hal yang berpadu harmoni membentuk karakter unik kawasan ini tempat di mana keindahan alam, peninggalan sejarah, dan legenda laut selatan hidup berdampingan di bawah langit Sukabumi yang biru.
Catatan Redaksi:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar Situs Kendan. Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.
Penulis: Kopka Irvan













