Legenda, Sejarah, dan Jejak Soekarno di Balik Misteri Pantai Pelabuhan Ratu Sukabumi

- Penulis

Jumat, 7 November 2025 - 12:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info|| SUKABUMI — Di pesisir selatan Jawa Barat, tepatnya di wilayah Sukabumi, terbentang sebuah kawasan yang sarat legenda dan nilai sejarah Pelabuhan Ratu. Pantai yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia ini bukan hanya dikenal karena keindahan alamnya yang memukau, tetapi juga karena kisah mistis serta jejak sejarah yang ditinggalkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.Jumat (7/11/2025)

Sekitar tahun 1960, Soekarno membangun tempat peristirahatan pribadi di kawasan Tenjo Resmi, Pelabuhan Ratu. Keputusan itu bukan tanpa alasan panorama laut biru yang luas dan karakter alamnya yang kuat membuat tempat ini menjadi lokasi ideal untuk beristirahat sekaligus merenung. Dari sinilah kemudian muncul gagasan besar lainnya dari sang proklamator, yakni pembangunan Samudera Beach Hotel, salah satu hotel paling megah di Indonesia pada masa itu.

Hotel ini dibangun dalam kurun waktu yang sama dengan Hotel Indonesia, Bali Beach Hotel, dan Sarinah Department Store di Jakarta. Semuanya didanai dari hasil rampasan perang Jepang, simbol kebangkitan bangsa yang baru merdeka untuk menegakkan kemandirian ekonomi nasional.

Namun, Samudera Beach Hotel bukan sekadar monumen pembangunan era Soekarno. Bangunan berarsitektur megah di tepian laut ini menyimpan kisah mistis legendaris keberadaan kamar nomor 308 yang diyakini sebagai tempat persinggahan Nyai Roro Kidul, sang penguasa laut selatan. Hingga kini, kamar tersebut masih dipertahankan dengan segala atribut mistisnya, lengkap dengan lukisan Nyai Roro Kidul yang dikenal anggun dan berwibawa. Banyak pengunjung yang datang untuk berziarah, melakukan ritual, atau sekadar melihat-lihat karena rasa penasaran terhadap legenda yang telah turun-temurun dipercaya masyarakat.

Masyarakat pesisir selatan meyakini bahwa Pelabuhan Ratu adalah gerbang menuju kerajaan gaib di dasar Samudera Hindia, tempat Ratu Kidul bertahta. Keyakinan ini tidak hanya menjadi bagian dari cerita rakyat, tetapi juga membentuk identitas budaya dan spiritual masyarakat setempat.

Di sekitar pantai, tepatnya di kawasan Karang Hawu, terdapat patilasan Ratu Pantai Selatan yang dianggap keramat. Di tempat ini, pengunjung dapat menemukan sejumlah makam yang dihormati, antara lain:

1. Makam Eyang Sanca Manggala
2. Makam Eyang Jalah Mata Makuta
3. Makam Eyang Syech Husni Ali

Tempat-tempat tersebut sering menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat yang datang untuk memanjatkan doa atau melakukan ritual tertentu. Tak jarang, para peziarah juga menyempatkan diri mengunjungi kawasan hotel untuk melihat langsung kamar 308 yang telah menjadi ikon mistik Pelabuhan Ratu.

Selain sisi spiritual, Pelabuhan Ratu memiliki keunikan lain yang membuatnya tetap menjadi magnet wisata. Panorama tebing karang, hamparan pasir yang luas, dan ombak besar yang menggulung kuat menjadikannya destinasi favorit wisatawan lokal maupun mancanegara.

Kini, lebih dari setengah abad sejak Soekarno membangun jejak sejarahnya di sana, Pelabuhan Ratu tetap menjadi tempat yang menyimpan dua wajah: wajah sejarah yang monumental dan wajah mitos yang misterius. Dua hal yang berpadu harmoni membentuk karakter unik kawasan ini tempat di mana keindahan alam, peninggalan sejarah, dan legenda laut selatan hidup berdampingan di bawah langit Sukabumi yang biru.

Catatan Redaksi:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar Situs Kendan. Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.

Penulis: Kopka Irvan

READ  Jejak Mistis Leuweung Sancang: Persinggahan Terakhir Prabu Siliwangi dan Pertarungan Keyakinan di Tanah Sunda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”
Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa
Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan
Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah
Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul
Ratu Sunyalarang dan Nyi Rambut Kasih: Fragmen Sejarah Budaya Talaga Manggung Majalengka
Menguak Jejak Leluhur di Gunung Nagara Padang: Wisata Spiritual yang Menyatu dengan Sejarah Kampung Tutugan
Jejak Legenda Batu Kukumbung di Laut Jayanti: Kopka Irvan Lakukan Monitoring Sambil Mengungkap Nilai Sejarah dan Budaya Lokal
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:04 WIB

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”

Jumat, 13 Maret 2026 - 05:59 WIB

Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa

Selasa, 27 Januari 2026 - 10:12 WIB

Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:20 WIB

Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah

Selasa, 13 Januari 2026 - 13:48 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul

Berita Terbaru