SUARARAKYAT.info|| Garut – Hutan Leuweung Sancang di pesisir selatan Garut bukan sekadar kawasan konservasi yang menyimpan keanekaragaman hayati. Hutan ini telah lama menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, legenda, spiritualitas, dan identitas Sunda, terutama lewat kisah tentang Prabu Siliwangi dan tokoh-tokoh masa kerajaan Tarumanegara serta Pajajaran.Rabu (19/11/2025)
Di balik rimbunnya pepohonan dan sunyinya belantara, masyarakat percaya bahwa jejak para raja besar Nusantara masih bersemayam. Dari Rakeyan Sancang, Raden Kiansantang, hingga sang penguasa Pajajaran Prabu Siliwangi, semua meninggalkan narasi yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Kisah tentang Leuweung Sancang kerap dirajut dengan legenda Rakeyan Sancang, putra Raja Kertawarman dari Tarumanegara. Namun, banyak cerita rakyat kemudian mencampuradukkannya dengan tokoh Raden Kiansantang atau Raja Sengara, putra Sri Baduga Maharaja dari Kerajaan Sunda-Pajajaran.
Dalam sebagian versi, Rakeyan Sancang digambarkan sebagai sosok yang telah mengenal ajaran Islam pada masa awal kedatangannya di Nusantara. Legenda lokal bahkan menyebut bahwa ia berupaya menyebarkan ajaran Islam, hingga memicu pertentangan dengan Prabu Sudawarman, salah satu penguasa Sunda kala itu.
Pertarungan keyakinan itulah yang kemudian menjadi salah satu pondasi cerita spiritual di kawasan Sancang.
Namun legenda paling populer terkait Leuweung Sancang adalah kisah Prabu Siliwangi, raja besar Pajajaran yang amat dihormati masyarakat Sunda. Cerita turun-temurun menyebut bahwa pada masa tuanya, sang prabu didatangi oleh putranya, Raden Kiansantang, yang telah memeluk Islam.
Raden Kiansantang berkali-kali membujuk ayahandanya agar ikut memeluk agama baru tersebut. Namun Prabu Siliwangi yang dikenal memegang teguh adat dan keyakinan leluhur tetap menolak. Demi menghindari pertumpahan darah antara dirinya dan putranya, Prabu Siliwangi memilih melarikan diri ke Leuweung Sancang bersama pasukannya.
Dalam versi masyarakat pesisir selatan Garut, ketika Kiansantang terus mengejar hingga hampir terjadi peperangan besar, Siliwangi memilih jalan spiritual tertinggi: ngahiang, menghilang dari dunia fana. Dalam proses itu, ia dan para pengikutnya diyakini menjelma menjadi harimau atau macan putih.
Legenda inilah yang melahirkan kepercayaan bahwa harimau-harimau misterius yang kadang muncul di Sancang adalah jalmaan Prabu Siliwangi dan bala pasukannya.
Misteri Pedang Nabi dan Pencarian Raden Walang Sungsang
Cerita Leuweung Sancang tak berhenti pada Kiansantang. Dalam babad Cirebon, disebut pula nama Raden Walang Sungsang, kakak Raden Kiansantang. Setelah berabad-abad berlalu, Walang Sungsang digambarkan menyusuri sungai-sungai tua di Sancang hingga menemukan sebilah pedang yang diyakini sebagai pedang Nabi Muhammad SAW.
Konon pedang itu pernah dimiliki oleh Rakeyan Sancang. Meski tidak ada bukti sejarah tertulis, kisah tersebut tetap menjadi bagian penting dari tradisi lisan masyarakat Sunda pesisir selatan.
Salah satu misteri lain yang hidup sampai kini adalah keberadaan pohon kaboa, pohon yang dianggap sakral. Masyarakat percaya bahwa sebelum menghilang, Prabu Siliwangi menuliskan pesan:
“Kaboa panggih, kaboa moal.”
Secara spiritual, kalimat tersebut ditafsirkan sebagai simbol tentang perjumpaan dan takdir, antara apa yang bisa bertemu dan apa yang tak akan pernah bersinggungan. Pohon kaboa menjadi titik ziarah dan dihormati sebagai peninggalan sang prabu sebelum memasuki alam gaib.
Situs-situs Keramat yang Masih Diziarahi
Leuweung Sancang bukan hanya ruang legenda, tetapi juga kawasan yang sarat situs keramat, antara lain:
1. Keramat Gua Prabu Siliwangi
Tempat ini dipercaya sebagai lokasi terakhir sang raja bermeditasi sebelum menghilang. Suasana hening dan aroma mistis membuatnya menjadi tujuan peziarah dari berbagai daerah.
2. Keramat Cikantoran
Diyakini sebagai tempat peristirahatan para pengikut setia Prabu Siliwangi. Banyak penduduk lokal melakukan ritual kecil saat datang ke sini.
3. Keramat Cikajayaan
Situs yang sering dijadikan tempat ziarah untuk meminta keselamatan sebelum memasuki hutan Sancang yang terkenal angker dan liar.
Cagar Alam yang Menjaga Jejak Spiritual dan Ekologi
Kini Leuweung Sancang ditetapkan sebagai cagar alam. Selain menjadi benteng terakhir ekosistem alami pesisir selatan—termasuk habitat macan tutul, banteng, dan spesies langka lainnya— kawasan ini tetap menyimpan aura mistis dari legenda yang hidup selama ratusan tahun.
Bagi masyarakat Sunda, Leuweung Sancang bukan sekadar hutan. Ia adalah ruang sakral, tempat bersatunya sejarah, kepercayaan, dan kisah leluhur yang tak pernah padam.
Catatan Redaksi:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar Situs Kendan. Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.
Penulis: Kopka Irvan














