SUARARAKYAT.info|| Jakarta-Untuk melompat menjadi negara maju diperlukan penguasaan sain dan teknologi secara drastis agar bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah.Tentu disatu sisi kampus harus berperan aktif sebagai pusat riset dan pengembangan kerja sama dengan industri secara kolaboratif.
Menurut Prof Sumaryoto sebetulnya secara teori memang sudah dengan hasil riset untuk pengembangan bisnis, meningkatkan kegiatan bisnis lalu mengantisipasi kedepan, itu secara teori mudah.
Persoalannya adalah yang pertama link and match antara dunia pendidikan dan sains sampai detik ini belum berjalan optimal apapun yang dikerjakan oleh perguruan tinggi sering diabaikan oleh dunia usaha, apalagi dunia usaha berorientasi pada profit sementara hasil riset itu biasanya tidak harus serta merta terjadi, ada perubahan-perubahan sesuai hasil riset,”ujar Prof Sumaryoto Rektor Unindra Kepada suararakyat.info, di Jakarta, Minggu (24/08/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lalu yang kedua tambah Prof Sumaryoto dunia perguruan tinggi menyadari betul riset itu memang mahal tapi tidak secara instan atau langsung bisa dirasakan hal ini yang oleh dunia usaha kurang menarik karena dampaknya tidak langsung memberikan profit alhasil dunia industri tidak langsung merespon dunia perguruan tinggi dalam hasil riset.
“Dengan demikian apapun hasil riset belum tentu menjamin bisa berhasil untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
Selama ini sikap perusahaan kurang merespon dengan alasan-alasan terkait dengan pendanaan menjadikan hasil riset tidak bisa dimanfaatkan secara optimal”imbuhnya.
Disinggung mengenai kolaborasi antara dunia usaha dengan pendidikan tinggi dikatakan Prof Sumaryoto untuk dunia pendidikan sebetulnya lebih pro aktif dengan melakukan suatu riset, survei dan melakukan perubahan-perubahan terhadap suatu kurikulum karena kurikulum ini harus disesuaikan dengan kebutuhan dengan dunia usaha/industri tapi begitu kita operasionalkan dalam bentuk riset tidak direspons secara positif oleh dunia usaha, itu masalahnya.
“Tidak direspons karena perbedaan persepsi, dunia usaha melihat hasil riset sementara dunia usaha ada tuntutan dengan mengeluarkan dana besar mengharapkan hasil yang diinginkan, padahal dunia pendidikan tidak seperti itu sementara dunia usaha tuntutannya satu profit oriented,”urainya.
Lebih lanjut Prof Sumaryoto menyebut memang disatu sisi dunia usaha memberikan kesempatan untuk magang dalam rangka merdeka belajar, namun demikian bicara riset belum ada satu persepsi yang sama karena tuntutan dunia usaha dalam jangka waktu yang tidak lama harus ada suatu hasil profit yang menguntungkan buat perusahaan.
“Kuncinya tidak ada persepsi yang sama antara dunia usaha/industri terkait penelitian/riset, kalaupun ada, tidak optimal. Hal demikian dikarenakan dunia usaha selalu disibukkan / berfokus pada masalah profit, yang sudah menjadi mindset para pengelola perusahaan. “tandasnya.
(han)














