Korupsi Tidak Pernah Berhenti, Indonesia Darurat Korupsi

- Penulis

Jumat, 6 Februari 2026 - 06:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Drs. Muhammad Bardansyah, Ch.Cht

SUARARAKYAT.info|| Jakarta-Awal 2026 kembali dibuka dengan kabar yang rasanya terlalu akrab: pejabat negara ditangkap karena korupsi. Lagi. Kali ini di sektor fiskal pajak, bea cukai, dan lembaga lain yang justru menjadi tulang punggung penerimaan negara.Jumat (6/2/2026)

Bukan kasus pertama. Dan, jujur saja, hampir pasti bukan yang terakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Publik marah, pemerintah bereaksi, aparat bergerak. Beberapa waktu kemudian, suasana mereda. Lalu pelan-pelan, pola yang sama muncul lagi.Begitulah siklusnya.

Realitas yang harus diakui meski tidak nyaman, sederhana:

korupsi di Indonesia tidak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya berpindah tangan, berganti modus, dan mencari panggung baru.

Data global sebenarnya sudah lama memberi sinyal. Skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia bergerak di tempat selama satu dekade terakhir. Sesekali naik, lalu turun lagi. Reformasi seolah berjalan, tetapi seperti berhenti sebelum menyentuh akar persoalan.

Karena itu, istilah โ€œdarurat korupsiโ€ bukan lagi retorika berlebihan. Ini sudah menyerupai diagnosis.

๐—ž๐—ผ๐—ฟ๐˜‚๐—ฝ๐˜€๐—ถ ๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—Ÿ๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ถ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป. ๐—œ๐—ฎ ๐—ฆ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฆ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—บ.

Narasi resmi negara hampir selalu sama setiap kali kasus muncul:

โ€œIni oknum.โ€,โ€œIni pengkhianatan individu.โ€Ini penyimpangan personal.โ€

Terdengar menenangkan, tapi sayangnya tidak menyentuh kenyataan.

Faktanya, pola itu muncul berulang di sektor yang sama:

– pajak

– bea cukai

– perizinan

– pertambangan

– pengadaan proyek

– politik, baik lokal maupun nasional

Korupsi tidak berdiri sendiri. Ia hidup, tumbuh, dan beradaptasi di dalam ekosistem kekuasaan.

Kalau praktik menyimpang terus terjadi di sektor strategis, terlalu mudah menyebutnya sekadar ulah individu. Itu tanda ada yang salah dengan sistemnya.

Di Indonesia, korupsi tidak lagi sekadar pelanggaran hukum. Ia pelan-pelan berubah menjadi mekanisme informal dalam cara kekuasaan dijalankan.

๐Œ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฉ๐š ๐Š๐จ๐ซ๐ฎ๐ฉ๐ฌ๐ข ๐“๐ข๐๐š๐ค ๐๐ž๐ซ๐ง๐š๐ก ๐‰๐ž๐ซ๐š?

Pertanyaan ini sering muncul, tapi jarang dijawab secara jujur.Jawabannya ada dan tidak selalu enak didengar.

1. ๐—›๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ-๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐˜๐—ธ๐—ฎ๐—ป

Penangkapan memang terjadi. Tapi apakah menciptakan ketakutan struktural? Tidak selalu.

Banyak pelaku:

– masih punya kekayaan setelah bebas,

– tetap dihormati secara sosial,

– bahkan tidak sepenuhnya kehilangan pengaruh politik.

Jika risiko korupsi lebih kecil daripada manfaatnya, efek jera memang sulit muncul.

2. ๐—ฃ๐—ผ๐—น๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—น ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐—ฟ๐—ผ๐—ฑ๐˜‚๐—ธ๐˜€๐—ถ ๐—ธ๐—ผ๐—ฟ๐˜‚๐—ฝ๐˜€๐—ถ

Pemilu butuh biaya besar. Biaya besar butuh sponsor. Sponsor menuntut balasan.

Dari sini lingkaran itu dimulai.

Korupsi bukan lagi deviasi. Ia menjadi konsekuensi logis dari sistem politik yang mahal.

3. ๐—ข๐—น๐—ถ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ถ ๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—ป๐—ผ๐—บ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฎ๐—ป

Korupsi hari ini tidak selalu berbentuk amplop atau suap langsung.

Ia sering hadir dalam bentuk yang lebih โ€œresmiโ€:

โ€ข kebijakan,

โ€ข konsesi tambang,

โ€ข proyek infrastruktur,

โ€ข regulasi fiskal.

Korupsi tingkat tinggi sering tidak terlihat karena dilegalkan lewat keputusan negara.

4. ๐—•๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฎ๐˜๐—ฟ๐—ผ๐—ป๐—ฎ๐˜€๐—ฒ ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐˜

Relasi kekuasaan masih dibangun di atas loyalitas, bukan kompetensi. Jabatan sering menjadi alat distribusi kekuasaan, bukan amanah publik.

5. ๐—ฅ๐—ฒ๐—ณ๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ ๐˜๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ต ๐—ท๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป

Indonesia punya banyak:

โ€ข undang-undang,

โ€ข lembaga,

โ€ข jargon.

Yang masih jarang terlihat adalah keberanian menyentuh lingkar elite sendiri.

Negara Lain Pernah Lebih Parah tapi berhasil bangkit,

Indonesia sering merasa korupsi adalah โ€œtakdir negara berkembang.โ€

Padahal banyak negara pernah berada di situasi yang sama, bahkan lebih buruk. Bedanya, mereka memutuskan untuk berubah secara serius.

๐—ฆ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฝ๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ: ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ถ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—›๐˜‚๐—น๐˜‚ ๐—ž๐—ฒ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฎ๐—ป

Singapura tidak selalu bersih. Pada masa awal, korupsi juga merajalela. Perubahannya dimulai ketika negara membangun sistem yang tidak memberi ruang kompromi.

Lembaga anti-korupsi diperkuat, hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, konflik kepentingan diawasi ketat, dan insentif pejabat diatur sedemikian rupa agar tidak mudah tergoda.

Pesannya sederhana, tapi tegas:

korupsi bukan pelanggaran administratif. Ia pengkhianatan terhadap negara.

๐—ž๐—ผ๐—ฟ๐—ฒ๐—ฎ ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป: ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฟ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป ๐—ฃ๐˜‚๐—ป ๐—•๐—ถ๐˜€๐—ฎ ๐——๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ

Korea Selatan pernah tenggelam dalam kolusi antara politik dan konglomerasi. Namun titik balik terjadi ketika hukum mulai menyentuh elite tertinggi. Mantan presiden diproses, diadili, dan dipenjara.

READ  Aminuddin TH Siregar: Kurator, Kritikus, dan Sejarawan Seni

Itu bukan hanya penegakan hukum. Itu sinyal keras bahwa tidak ada yang kebal. Tekanan masyarakat sipil, reformasi pendanaan politik, dan transparansi mempercepat perubahan budaya politik mereka.

๐—–๐—ต๐—ถ๐—ป๐—ฎ: ๐—ก๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ง๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ป ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—•๐—ฟ๐˜‚๐˜๐—ฎ๐—น

China memilih jalur yang lebih keras. Dalam satu dekade terakhir:

– ratusan ribu pejabat diperiksa,

– ribuan pejabat tinggi dihukum,

– jenderal hingga petinggi BUMN ikut ditindak.

Mereka menyebutnya โ€œmenangkap harimau dan lalatโ€, besar maupun kecil, semua kena.

Pendekatan ini mungkin tidak sempurna, tapi satu hal jelas: ada ketakutan nyata di birokrasi.

๐—ฃ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—•๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ง๐—ถ๐—ด๐—ฎ ๐—ก๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ

Pola yang muncul hampir sama:

1. Hukuman berat dan pasti

2. Lembaga anti-korupsi yang benar-benar kuat

3. Reformasi politik, bukan sekadar administratif

4. Transparansi kekayaan elite

5. Kepemimpinan yang berani mengambil risiko politik

Korupsi tidak turun karena masyarakat tiba-tiba lebih bermoral. Korupsi turun karena sistemnya dirombak.

๐—œ๐—ป๐—ฑ๐—ผ๐—ป๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฎ: ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฅ๐—ฒ๐—ณ๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—น๐˜‚ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ง๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ต ๐—๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป?

Karena kita masih melihat korupsi semata sebagai masalah hukum.

Padahal ia hidup di persimpangan:

โ€ข politik,

โ€ข ekonomi,

โ€ข birokrasi.

Selama tiga titik ini tidak disentuh bersamaan, hasilnya akan selalu setengah.

Kita sering:

– memperbanyak regulasi,

– membentuk satgas,

– menambah prosedur.

Tapi jarang:

– membongkar jaringan kekuasaan,

– mengubah sistem pendanaan politik,

– memotong relasi bisnisโ€“negara.

๐—๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐——๐—ถ๐˜๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—ต ๐—œ๐—ป๐—ฑ๐—ผ๐—ป๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฎ

Jika benar ingin keluar dari darurat korupsi, tidak ada pilihan selain reformasi yang lebih berani.

Korupsi harus diperlakukan sebagai kejahatan terhadap negara, bukan sekadar pelanggaran jabatan.

Pendanaan politik harus dibenahi. Kekayaan elite harus diaudit secara terbuka. Lembaga anti-korupsi harus diperkuat secara nyata, bukan hanya di pidato. Digitalisasi layanan negara harus dipercepat.

Dan yang paling penting: ada kepemimpinan yang berani menyentuh lingkar kekuasaannya sendiri. Tanpa itu, semua hanya akan berakhir sebagai slogan.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ต๐—ถ๐—ฟ: ๐—”๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—ก๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฆ๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐— ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ผ๐—ฟ๐˜‚๐—ฝ๐˜€๐—ถ?

China, Korea Selatan, dan Singapura berubah karena berani mengambil keputusan yang tidak populer.

Indonesia sering memilih jalan aman. Padahal korupsi tidak akan berhenti hanya dengan penangkapan. Ia berhenti ketika sistem yang memungkinkannya ikut dihancurkan.

Artinya: menyentuh elite, memotong rente,mengubah politik, dan berhadapan dengan oligarki.

Itu bukan pekerjaan teknis.Itu keputusan politik.

๐๐ž๐ง๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฉ

Indonesia Tidak Kekurangan Hukum, Tapi Kekurangan Keberanian

Setiap tahun, pejabat ditangkap. Setiap tahun, negara dirugikan. Setiap tahun, publik marah.

Namun sistemnya nyaris tidak berubah. Jika situasi ini dibiarkan, yang runtuh bukan hanya ekonomi.

Yang runtuh adalah kepercayaan publik. Dan negara yang kehilangan kepercayaan publik pelan-pelan kehilangan legitimasi.

Indonesia belum terlambat. Tapi waktu untuk reformasi setengah hati sudah lewat. Korupsi tidak pernah berhenti. Pertanyaannya bukan lagi โ€œmengapaโ€.

Pertanyaannya sekarang: masih adakah keberanian untuk benar-benar menghentikannya?

๐—ฅ๐—ฒ๐—ณ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐˜€๐—ถ

1. Corrupt Practices Investigation Bureau. (2024). Singapore remains among least corrupt countries in global rankings. Government of Singapore.

2. Johnston, M. (2014). Corruption, contention and reform: The power of deep democratization. Cambridge University Press.

3. Klitgaard, R. (1988). Controlling corruption. University of California Press.

3. Quah, J. S. T. (2011). Curbing corruption in Asian countries: An impossible dream? Emerald Group Publishing.

5. Transparency International. (2024). Corruption Perceptions Index 2024. Transparency International.

6. World Bank. (2020). Enhancing government effectiveness and transparency: The fight against corruption. World Bank Publications.

7. OECD. (2017). Preventing corruption in public procurement. OECD Publishing.

8. Manion, M. (2016). Information for autocrats: Representation in Chinese local congresses. Cambridge University Press.

9. Kim, B. (2019). Anti-corruption reforms in South Korea: Institutional change and political accountability. Asian Journal of Political Science, 27(2), 123โ€“141.

10. Rose-Ackerman, S., & Palifka, B. (2016). Corruption and government: Causes, consequences, and reform (2nd ed.). Cambridge University Press.

Penulis : Frk

Editor : Red

Sumber Berita: Suararakyat.info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kartini dan โ€œSi Tou Timou Tumou Touโ€: Seruan Bersama Menyalakan Terang Kemanusiaan
Ketika Hormuz Bergetar, Indo-Pasifik Berguncang: Bayang Bayang Perang Iran-AS/Israel dan Ujian Nyata Bagi ASEAN Serta Indonesia
Yakub F Ismail : Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia
Dari Depresi Berat Menuju Kepemimpinan Nasional: Transformasi Donny Andretti dan Lahirnya Berbagai Organisasi di Indonesia
Koruptor Hidup Mewah, Rakyat Mati Lapar: Saatnya Hukuman Mati dan Perampasan Aset
Para Serigala Penipu Berkedok Investasi yang Bersembunyi di Balik Korporasi Kini Dapat Dilibas dan Dimintai Pertanggungjawaban Pidana
Menutup Pintu Impunitas, Membuka Jalan Keadilan bagi Pers
Prof Dr Sutan Nasomal : Presiden RI harus Waspada Reaksi Alam Sampai Bencana Hujan Mikroplastik Indonesia
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 02:46 WIB

Kartini dan โ€œSi Tou Timou Tumou Touโ€: Seruan Bersama Menyalakan Terang Kemanusiaan

Senin, 27 April 2026 - 08:50 WIB

Ketika Hormuz Bergetar, Indo-Pasifik Berguncang: Bayang Bayang Perang Iran-AS/Israel dan Ujian Nyata Bagi ASEAN Serta Indonesia

Jumat, 3 April 2026 - 14:54 WIB

Yakub F Ismail : Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia

Minggu, 15 Februari 2026 - 01:33 WIB

Dari Depresi Berat Menuju Kepemimpinan Nasional: Transformasi Donny Andretti dan Lahirnya Berbagai Organisasi di Indonesia

Rabu, 11 Februari 2026 - 05:14 WIB

Koruptor Hidup Mewah, Rakyat Mati Lapar: Saatnya Hukuman Mati dan Perampasan Aset

Berita Terbaru