SUARARAKYAT.info||Surabaya— Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Wilayah Jawa Timur melakukan audiensi strategis dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur di Surabaya. Audiensi ini menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi berkelanjutan antara mahasiswa dan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas sosial, ketahanan ideologi, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan di Jawa Timur.pada (29/1/2026) 
Pertemuan tersebut dihadiri jajaran pengurus BEM PTNU Jatim dan diterima langsung oleh Kepala Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur, Eddy Supriyanto, S.STP., M.PSDM. Dialog berlangsung terbuka dan konstruktif, membahas berbagai isu strategis yang tengah berkembang di masyarakat, baik di tingkat desa hingga regional.
Koordinator BEM PTNU Wilayah Jawa Timur, Sefty Hasan Khusaini, dalam pemaparannya menegaskan bahwa mahasiswa PTNU memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah sebagai spirit kebangsaan yang selaras dengan ideologi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai kontrol sosial, tetapi juga sebagai mitra kritis pemerintah dalam merawat demokrasi dan persatuan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“BEM PTNU Jatim berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah daerah. Kami ingin memastikan bahwa dinamika sosial dan politik di Jawa Timur tetap berjalan dalam koridor kebangsaan, beretika, dan berkeadilan,” ujar Sefty.(2/2/2026)
Salah satu fokus utama audiensi adalah pengawalan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak yang akan datang. BEM PTNU menyoroti pentingnya langkah-langkah preventif untuk menjaga agar proses demokrasi di tingkat desa berjalan aman, jujur, dan damai. Secara khusus, mahasiswa menyoroti dinamika konflik Pilkades yang terjadi di Kabupaten Pamekasan, Madura, yang dinilai perlu mendapatkan perhatian serius agar tidak meluas menjadi konflik sosial berkepanjangan.
Selain isu politik desa, audiensi juga membahas persoalan kemanusiaan yang masih menjadi tantangan di Jawa Timur, seperti tingginya angka pernikahan usia dini serta kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). BEM PTNU menilai persoalan tersebut tidak bisa ditangani secara sektoral, melainkan membutuhkan sinergi lintas elemen, termasuk pemerintah, mahasiswa, tokoh agama, dan masyarakat sipil.
Dalam forum tersebut, BEM PTNU juga menyinggung peristiwa pembongkaran makam di Pasuruan yang sempat menimbulkan keresahan publik dan berpotensi memicu konflik horizontal. Mahasiswa menekankan pentingnya kehadiran negara melalui pendekatan persuasif dan dialogis, agar isu-isu sensitif berbasis sosial, budaya, dan keagamaan dapat diselesaikan secara beradab dan tidak memperuncing perpecahan.
Sebagai tindak lanjut, BPH BEM PTNU Jatim mendorong adanya ruang-ruang diskusi kebangsaan, pendidikan politik beretika, serta forum dialog berkelanjutan yang melibatkan mahasiswa dan pemerintah daerah. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat literasi kebangsaan sekaligus meningkatkan ketahanan sosial di tingkat akar rumput.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur, Eddy Supriyanto, menyampaikan apresiasi atas inisiatif dan kepedulian BEM PTNU Jatim terhadap isu-isu strategis kebangsaan. Ia menegaskan bahwa Bakesbangpol terbuka untuk berkolaborasi dengan elemen mahasiswa dalam menjaga stabilitas ideologi, politik, dan sosial di Jawa Timur.
“Kami memandang mahasiswa sebagai mitra penting dalam menjaga ketahanan bangsa. Kolaborasi seperti ini sangat dibutuhkan agar pemerintah tidak berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan kebangsaan,” ujar Eddy.
Audiensi ini diharapkan menjadi titik awal sinergi berkelanjutan antara BEM PTNU Jatim dan Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur, demi terwujudnya masyarakat yang rukun, aman, demokratis, dan berkeadaban, khususnya di wilayah Jawa Timur.
Sumber: M Ubaidillah Abdi
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info














