SUARARAKYAT.info|| Bandung-Di lembah sejuk Nagreg, antara kabut pagi dan desir angin dari pegunungan Bandung bagian timur, tersimpan kisah tua yang nyaris terlupakan. Di sanalah, di tanah yang kini hanya tampak sebagai perbukitan hijau dan ladang-ladang kecil, pernah berdiri sebuah kerajaan besar yang menjadi akar sejarah peradaban Sunda Kerajaan Kendan.Kamis (6/11/2025)
Kerajaan ini berdiri jauh sebelum Pajajaran berjaya, bahkan sebelum nama Galuh dikenal. Sekitar abad ke-6 Masehi, bumi Kendan telah menjadi pusat kebudayaan dan pemerintahan yang makmur di bawah naungan ajaran Hindu-Buddha. Sang pendirinya, Resiguru Manikmaya, bukanlah orang sembarangan. Ia seorang pendeta dan pemuka agama dari keluarga Calankayana di India Selatan, datang ke tanah Nusantara membawa ilmu, keyakinan, dan misi spiritual yang kelak mengubah wajah tanah Sunda.
Sang Resiguru dari Negeri Seberang
Manikmaya dikenal sebagai tokoh bijak, seorang pertapa yang menguasai ilmu agama Siwa dan ajaran dharma. Dalam perjalanan rohaninya, ia tiba di Kerajaan Tarumanagara, kerajaan besar yang kala itu berkuasa di wilayah barat Jawa. Karena kebijaksanaannya, ia disambut dengan hormat oleh Raja Suryawarman, penguasa Tarumanagara yang juga memeluk ajaran Hindu.
Kedekatan itu berbuah pernikahan suci antara Manikmaya dan Tirta Kancana, putri raja. Dari sinilah cerita Kerajaan Kendan dimulai. Sebagai hadiah pernikahan, Raja Suryawarman memberikan sebidang wilayah bernama Kendan, lengkap dengan rakyat dan pasukannya.
Wilayah Kendan yang subur dan strategis di kaki pegunungan Bandung timur itu kemudian berkembang pesat. Manikmaya, yang kini menjadi raja, membangun tatanan pemerintahan berbasis nilai spiritual dan hukum moral. Ia mendirikan pusat pemujaan, mengajarkan ajaran dharma, serta membentuk masyarakat yang taat dan damai.
Kemakmuran di Lembah Kendan
Di bawah pemerintahan Raja Manikmaya (536–568 M), Kendan menjadi kerajaan kecil yang makmur, meski tetap berada di bawah pengaruh Tarumanagara. Rakyatnya hidup dari bercocok tanam, mengolah logam, dan berdagang lintas daerah. Struktur sosialnya tertata rapi para brahmana, ksatria, dan waisya hidup berdampingan, sementara rakyat jelata menikmati keamanan di bawah kepemimpinan yang adil.
Peninggalan budaya dan spiritualnya masih terasa hingga kini. Di kawasan Gunung Sanghyang Anjung, masyarakat setempat sering menemukan batu-batu besar yang diyakini sebagai sisa punden berundak, tempat pemujaan leluhur Kendan. Suasana di sana masih terasa sakral seolah bayang-bayang masa lalu tak pernah benar-benar hilang dari hembusan angin pegunungan itu.
Silsilah Para Raja dan Perjalanan ke Timur
Setelah wafatnya Manikmaya, tahtanya diteruskan oleh Raja Putra Suraliman (568–597 M). Di masa inilah Kendan memperkuat posisinya sebagai kerajaan bawahan yang setia kepada Tarumanagara, namun memiliki otonomi dalam urusan pemerintahan.
Putra Suraliman kemudian digantikan oleh Raja Kandiawan (597–612 M). Ia dikenal sebagai raja yang visioner, memindahkan pusat pemerintahan dari Nagrek ke Medang Jati daerah yang kini berada di wilayah Garut. Langkah itu diambil untuk memperluas pengaruh ke wilayah timur dan memperkuat ekonomi kerajaan.
Namun masa keemasan Kendan berakhir di tangan Raja Wretikandayun (612–702 M), putra Kandiawan. Ia memutuskan untuk mendirikan pusat pemerintahan baru di Galuh, yang kini dikenal sebagai wilayah Ciamis. Sejak saat itulah, Kerajaan Kendan bertransformasi menjadi Kerajaan Galuh, membuka babak baru dalam sejarah panjang tanah Sunda.
Gunung Sanghyang Anjung: Saksi Bisu Kejayaan Tua
Di masa kini, nama Kendan hanya tinggal pada ingatan dan cerita rakyat. Namun di kaki Gunung Sanghyang Anjung, jejak itu masih terasa. Banyak warga percaya bahwa di situlah berdiri istana Manikmaya. Dari atas puncak gunung, mata bisa memandang hamparan sawah dan lembah pemandangan yang barangkali sama dengan yang disaksikan oleh para raja Kendan berabad-abad lalu.
Setiap tahun, masyarakat adat masih mengadakan ritual hening dan doa leluhur, mempersembahkan bunga dan dupa di kaki gunung. Mereka menyebutnya ngaruat bumi tradisi untuk menghormati alam dan roh nenek moyang. “Kami percaya, darah leluhur Kendan masih mengalir di tanah ini,” ujar Asep Surana, tokoh masyarakat setempat, dengan mata menerawang ke puncak gunung yang diselimuti kabut.
Kendan Hari Ini,Dari Situs Sejarah ke Desa Wisata Budaya
Kini, Pemerintah Kabupaten Bandung bersama masyarakat Nagreg tengah berupaya menghidupkan kembali situs Kerajaan Kendan sebagai pusat wisata budaya dan sejarah.
Kawasan Nagrek Kendan dan Citaman dikembangkan menjadi desa wisata, memadukan panorama alam yang indah dengan nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal.
Program ini melibatkan warga dalam berbagai kegiatan budaya seperti napak tilas sejarah Kendan, festival seni tradisional, serta pameran artefak lokal. Wisatawan yang datang tak hanya diajak menikmati alam, tapi juga belajar tentang akar sejarah Sunda yang berawal dari kerajaan kecil di lembah ini.
“Kerajaan Kendan bukan sekadar kisah masa lalu. Ia adalah jati diri orang Sunda tentang keselarasan manusia, alam, dan Sang Hyang,” tutur tokoh spiritual setempat kepada penulis
Kerajaan Kendan mungkin telah terkubur oleh waktu, namun rohnya tetap hidup dalam setiap cerita rakyat, dalam nama-nama kampung, dan dalam kesadaran masyarakat yang menjaga warisan leluhur. Dari Kendan lahir Galuh, dari Galuh lahir Pajajaran dan dari situlah peradaban Sunda berdiri tegak di atas nilai-nilai kearifan yang diwariskan sejak ribuan tahun silam.
Seperti kata pepatah Sunda “Nu ngindung ka waktu, nu ngabapa ka jaman.”
Yang artinya, siapa pun yang hidup hari ini mesti mengenal asal-usulnya sebab dari masa lalu, kita menemukan jati diri kita sendiri.
Catatan Redaksi:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar Situs Kendan. Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.
Penulis: Kopla Irvan














