SUARARAKYAT.info||Kuningan, Jawa Barat — Di kaki Gunung Ciremai, tepatnya di Desa Manis Kidul, Kabupaten Kuningan, berdiri sebuah tempat wisata legendaris yang telah ada sejak masa lampau Pemandian Air Dingin Cibulan. Tak sekadar tempat rekreasi, kawasan ini juga menyimpan jejak sejarah dan mitos yang kuat terkait sosok Prabu Siliwangi, raja besar dari Kerajaan Pajajaran.Rabu (5/11/2025)
Cibulan dikenal sebagai objek wisata tertua di Kabupaten Kuningan. Keberadaannya tidak hanya menawarkan kesejukan air pegunungan yang jernih, tetapi juga kisah mistis tentang ikan dewa yang menghuni kolam pemandian tersebut. Menurut cerita turun-temurun masyarakat setempat, ikan-ikan itu diyakini merupakan penjelmaan prajurit Prabu Siliwangi yang dikutuk karena pembangkangan mereka terhadap sang raja.
Legenda tersebut menyebutkan, saat prajurit-prajurit itu berkhianat, Prabu Siliwangi murka dan mengutuk mereka menjadi ikan. Hingga kini, ikan-ikan itu dikenal sebagai “ikan dewa” atau “kancra bodas”, yang dipercaya tidak pernah bertambah maupun berkurang jumlahnya. Hal yang membuat takjub, setiap kali kolam dikuras dan dikosongkan, ikan-ikan tersebut akan lenyap tanpa jejak, namun akan muncul kembali saat air kolam diisi.
Meski berwujud seperti ikan biasa berwarna abu-abu kehitaman, masyarakat sekitar percaya bahwa ikan dewa memiliki aura sakral dan perlindungan gaib. Hingga kini, tak seorang pun berani mengambil atau mengganggu ikan-ikan tersebut. Kepercayaan lokal menegaskan bahwa siapa pun yang berani mencuri atau menyakiti ikan dewa akan ditimpa kesialan dan kemalangan.
Di dalam kawasan wisata Cibulan terdapat dua kolam besar yang masing-masing dihuni oleh puluhan ikan dewa dengan ukuran bervariasi, mulai dari 20 sentimeter hingga lebih dari satu meter panjangnya. Uniknya, kolam-kolam tersebut tetap digunakan sebagai kolam pemandian umum, dan para pengunjung bisa berenang di antara ikan-ikan dewa yang jinak tanpa rasa takut.
Selain kolam utama, daya tarik spiritual Cibulan terletak pada Tujuh Sumur Keramat yang mengelilingi area pemandian. Ketujuh sumur tersebut dikenal dengan nama: Sumur Kejayaan, Sumur Kemuliaan, Sumur Pengabul, Sumur Cirancana, Sumur Cisadane, Sumur Kemudahan, dan Sumur Keselamatan.
Masing-masing sumur memiliki makna simbolik dan diyakini membawa keberkahan berbeda. Namun, di antara semuanya, Sumur Cirancana dianggap paling istimewa. Konon, di dalamnya terdapat seekor kepiting emas, yang hanya akan menampakkan diri kepada orang yang sedang mujur atau berhati bersih. Siapa pun yang berhasil melihat kepiting emas itu dipercaya akan dikabulkan segala keinginannya.
Tujuh sumur tersebut berada di sekitar petilasan Prabu Siliwangi, tempat di mana sang raja agung dikisahkan beristirahat setelah pulang dari Perang Bubat. Petilasan itu berupa susunan batu menyerupai menhir, lengkap dengan dua patung harimau loreng di sisi kanan dan kirinya simbol kebesaran dan kewibawaan Kerajaan Pajajaran.
Hingga kini, Cibulan tetap menjadi magnet wisata sejarah dan religi yang menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya. Airnya yang jernih dan dingin dipercaya memiliki khasiat menyegarkan tubuh dan menenangkan batin. Tak sedikit pula peziarah yang datang bukan hanya untuk mandi, tetapi juga untuk mengambil air dari Tujuh Sumur Keramat dengan harapan mendapat berkah, keselamatan, dan kemudahan dalam hidup.
Bagi masyarakat Kuningan dan sekitarnya, Cibulan bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan peninggalan spiritual dan simbol kearifan lokal yang hidup di tengah modernitas. Di sinilah mitos dan sejarah berpadu menjadi satu narasi budaya yang meneguhkan identitas masyarakat Sunda sebagai pewaris kisah besar Pajajaran.
Penulis: Kopka Irvan













