Cibulan, Pemandian Legendaris Warisan Prabu Siliwangi yang Menyimpan Misteri Ikan Dewa dan Tujuh Sumur Keramat

- Penulis

Rabu, 5 November 2025 - 10:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info||Kuningan, Jawa Barat — Di kaki Gunung Ciremai, tepatnya di Desa Manis Kidul, Kabupaten Kuningan, berdiri sebuah tempat wisata legendaris yang telah ada sejak masa lampau Pemandian Air Dingin Cibulan. Tak sekadar tempat rekreasi, kawasan ini juga menyimpan jejak sejarah dan mitos yang kuat terkait sosok Prabu Siliwangi, raja besar dari Kerajaan Pajajaran.Rabu (5/11/2025)

Cibulan dikenal sebagai objek wisata tertua di Kabupaten Kuningan. Keberadaannya tidak hanya menawarkan kesejukan air pegunungan yang jernih, tetapi juga kisah mistis tentang ikan dewa yang menghuni kolam pemandian tersebut. Menurut cerita turun-temurun masyarakat setempat, ikan-ikan itu diyakini merupakan penjelmaan prajurit Prabu Siliwangi yang dikutuk karena pembangkangan mereka terhadap sang raja.

Legenda tersebut menyebutkan, saat prajurit-prajurit itu berkhianat, Prabu Siliwangi murka dan mengutuk mereka menjadi ikan. Hingga kini, ikan-ikan itu dikenal sebagai “ikan dewa” atau “kancra bodas”, yang dipercaya tidak pernah bertambah maupun berkurang jumlahnya. Hal yang membuat takjub, setiap kali kolam dikuras dan dikosongkan, ikan-ikan tersebut akan lenyap tanpa jejak, namun akan muncul kembali saat air kolam diisi.

Meski berwujud seperti ikan biasa berwarna abu-abu kehitaman, masyarakat sekitar percaya bahwa ikan dewa memiliki aura sakral dan perlindungan gaib. Hingga kini, tak seorang pun berani mengambil atau mengganggu ikan-ikan tersebut. Kepercayaan lokal menegaskan bahwa siapa pun yang berani mencuri atau menyakiti ikan dewa akan ditimpa kesialan dan kemalangan.

Di dalam kawasan wisata Cibulan terdapat dua kolam besar yang masing-masing dihuni oleh puluhan ikan dewa dengan ukuran bervariasi, mulai dari 20 sentimeter hingga lebih dari satu meter panjangnya. Uniknya, kolam-kolam tersebut tetap digunakan sebagai kolam pemandian umum, dan para pengunjung bisa berenang di antara ikan-ikan dewa yang jinak tanpa rasa takut.

Selain kolam utama, daya tarik spiritual Cibulan terletak pada Tujuh Sumur Keramat yang mengelilingi area pemandian. Ketujuh sumur tersebut dikenal dengan nama: Sumur Kejayaan, Sumur Kemuliaan, Sumur Pengabul, Sumur Cirancana, Sumur Cisadane, Sumur Kemudahan, dan Sumur Keselamatan.

Masing-masing sumur memiliki makna simbolik dan diyakini membawa keberkahan berbeda. Namun, di antara semuanya, Sumur Cirancana dianggap paling istimewa. Konon, di dalamnya terdapat seekor kepiting emas, yang hanya akan menampakkan diri kepada orang yang sedang mujur atau berhati bersih. Siapa pun yang berhasil melihat kepiting emas itu dipercaya akan dikabulkan segala keinginannya.

Tujuh sumur tersebut berada di sekitar petilasan Prabu Siliwangi, tempat di mana sang raja agung dikisahkan beristirahat setelah pulang dari Perang Bubat. Petilasan itu berupa susunan batu menyerupai menhir, lengkap dengan dua patung harimau loreng di sisi kanan dan kirinya simbol kebesaran dan kewibawaan Kerajaan Pajajaran.

Hingga kini, Cibulan tetap menjadi magnet wisata sejarah dan religi yang menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya. Airnya yang jernih dan dingin dipercaya memiliki khasiat menyegarkan tubuh dan menenangkan batin. Tak sedikit pula peziarah yang datang bukan hanya untuk mandi, tetapi juga untuk mengambil air dari Tujuh Sumur Keramat dengan harapan mendapat berkah, keselamatan, dan kemudahan dalam hidup.

Bagi masyarakat Kuningan dan sekitarnya, Cibulan bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan peninggalan spiritual dan simbol kearifan lokal yang hidup di tengah modernitas. Di sinilah mitos dan sejarah berpadu menjadi satu narasi budaya yang meneguhkan identitas masyarakat Sunda sebagai pewaris kisah besar Pajajaran.

Penulis: Kopka Irvan

READ  Jejak Legenda di Balik Curug Sanghyang Taraje: Tangga Para Dewa dari Garut Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”
Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa
Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan
Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah
Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul
Ratu Sunyalarang dan Nyi Rambut Kasih: Fragmen Sejarah Budaya Talaga Manggung Majalengka
Menguak Jejak Leluhur di Gunung Nagara Padang: Wisata Spiritual yang Menyatu dengan Sejarah Kampung Tutugan
Jejak Legenda Batu Kukumbung di Laut Jayanti: Kopka Irvan Lakukan Monitoring Sambil Mengungkap Nilai Sejarah dan Budaya Lokal
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:04 WIB

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”

Jumat, 13 Maret 2026 - 05:59 WIB

Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa

Selasa, 27 Januari 2026 - 10:12 WIB

Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:20 WIB

Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah

Selasa, 13 Januari 2026 - 13:48 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul

Berita Terbaru