Jejak Peradaban Galuh di Tengah Danau: Menguak Sejarah Panjang Candi Cangkuang Garut

- Penulis

Senin, 17 November 2025 - 06:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info|| GARUT — Di sebuah pulau kecil yang tenang di tengah Danau Cangkuang, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, berdiri sebuah monumen yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang hubungan budaya, agama, dan sejarah di Tatar Sunda. Candi Cangkuang, satu-satunya candi Hindu yang ditemukan utuh di Jawa Barat, menghadirkan kembali jejak peradaban Kerajaan Galuh yang diperkirakan berasal dari abad ke-8 Masehi.Senin (17/11/2025)

Keberadaan Candi Cangkuang bukan sekadar temuan arkeologis biasa. Ia adalah simbol yang mempertemukan dua tradisi besar Hindu dan Islam yang hidup berdampingan dalam harmoni ratusan tahun lamanya. Di sisi candi, berdampingan namun tetap penuh penghormatan, terdapat makam Embah Dalem Arief Muhammad, tokoh penyebar agama Islam yang diyakini sebagai leluhur masyarakat setempat.

Sejarah Penemuan yang Terlupakan Berabad-abad
Awal mula penelusuran Candi Cangkuang tercatat pada tahun 1893 ketika peneliti Belanda, Vorderman, melaporkan temuan arca Siwa yang rusak serta keberadaan makam Arief Muhammad di wilayah Leles. Namun temuan ini tidak langsung ditindaklanjuti secara serius hingga hampir tujuh dekade kemudian.

Pada tahun 1966, tim peneliti dari Lembaga Purbakala Indonesia yang dipimpin oleh Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita melakukan eksplorasi lanjutan. Dari sinilah misteri struktur batu kuno mulai terpecahkan. Sisa-sisa candi yang tertimbun tanah dan vegetasi akhirnya teridentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Galuh, salah satu kerajaan Hindu tertua di Jawa Barat.

Penemuan ini sekaligus membuka bab baru dalam kajian arkeologi Sunda, karena sebelumnya banyak pakar menduga bahwa Tatar Sunda tidak memiliki bangunan candi yang tersisa akibat tradisi arsitektur kayunya.

Setelah temuan tersebut, proyek pemugaran pun dimulai secara bertahap. Pada 1966 dilakukan identifikasi batu-batu asli candi, namun hanya sekitar 40 persen material orisinal yang berhasil ditemukan. Kerusakan besar terjadi akibat usia, alam, dan kemungkinan pemanfaatan batu untuk keperluan masyarakat di masa lalu.

Pemugaran formal digagas pada tahun 1974 dan berlangsung hingga 1975. Rekonstruksi total dilakukan tahun 1976, menggunakan perpaduan batu asli serta batu baru agar struktur candi dapat berdiri tegak dan menyerupai bentuk aslinya pada masa Galuh. Meskipun sebagian besar merupakan rekonstruksi, para arkeolog tetap berpegang pada prinsip konservasi untuk menjaga keaslian bentuk, gaya arsitektur, serta simbol-simbol penting yang ada.

Dilihat dari struktur dan gaya arsitekturnya, Candi Cangkuang diyakini merupakan tempat pemujaan Dewa Siwa, mengikuti karakter umum candi-candi Hindu masa klasik di Jawa Barat. Kehadirannya memperkuat bukti bahwa wilayah Galuh pada abad ke-8 merupakan pusat perkembangan Hindu-Siwa yang cukup aktif.

Nama “Cangkuang” sendiri diambil dari tanaman pandan lokal yang banyak tumbuh di sekitar wilayah danau. Tanaman ini dulu digunakan masyarakat sebagai bahan kerajinan, termasuk tikar dan peralatan rumah tangga, memperlihatkan hubungan kuat antara alam dan budaya setempat.

Daya tarik terbesar Candi Cangkuang bukan hanya nilai sejarahnya, tetapi simbol toleransi yang terbangun secara natural. Keberadaan candi Hindu yang berdampingan dengan makam tokoh Islam menjadikan kawasan ini bukti hidup bahwa masyarakat Sunda telah lama hidup dalam keragaman budaya dan kepercayaan.

Embah Dalem Arief Muhammad diyakini datang dari kerajaan Mataram pada abad ke-17 sebagai tokoh penyebar Islam, dan keturunannya menjadi penghuni awal desa Cangkuang. Tradisi masyarakat setempat yang tetap merawat situs candi dan makam menunjukkan bahwa harmoni lintas agama bukan sekadar wacana, tetapi telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari sejak ratusan tahun lalu.

Kini, Candi Cangkuang menjadi salah satu destinasi sejarah terpenting di Garut. Keunikan lokasinya yang berada di pulau kecil di tengah danau hanya bisa dicapai dengan rakit tradisional, menambah pengalaman wisata yang khas dan penuh nilai budaya.

Para arkeolog, sejarawan, hingga wisatawan terus mengunjungi situs ini untuk menyaksikan bukti nyata keberlanjutan peradaban Sunda kuno. Pemerintah daerah pun terus mengembangkan kawasan ini sebagai pusat edukasi sejarah, budaya, dan toleransi.

Candi Cangkuang bukan hanya bangunan batu yang dipugar kembali dari masa lalu. Ia adalah jembatan lintas zaman yang menghubungkan warisan Hindu, Islam, dan kearifan lokal Sunda sebuah warisan yang tetap hidup hingga hari ini.

Catatan Redaksi:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar Situs Kendan. Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.

Penulis: Kopka Irvan

READ  Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”
Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa
Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan
Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah
Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul
Ratu Sunyalarang dan Nyi Rambut Kasih: Fragmen Sejarah Budaya Talaga Manggung Majalengka
Menguak Jejak Leluhur di Gunung Nagara Padang: Wisata Spiritual yang Menyatu dengan Sejarah Kampung Tutugan
Jejak Legenda Batu Kukumbung di Laut Jayanti: Kopka Irvan Lakukan Monitoring Sambil Mengungkap Nilai Sejarah dan Budaya Lokal
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:04 WIB

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”

Jumat, 13 Maret 2026 - 05:59 WIB

Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa

Selasa, 27 Januari 2026 - 10:12 WIB

Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:20 WIB

Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah

Selasa, 13 Januari 2026 - 13:48 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul

Berita Terbaru

Berita Daerah

Kafilah SBB Hadiri Pembukaan Serimonial MTQ ke-XXXI Maluku 

Selasa, 23 Jun 2026 - 02:11 WIB