Suararakyat.info.Sukabumi– Aktivitas Penambangan Tanpa Izin (PETI) di kawasan pesawahan Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, semakin meresahkan. Selain merusak lingkungan, praktik tambang ilegal ini juga mencemari aliran sungai yang menuju kawasan wisata Geopark Ciletuh.
Di beberapa titik lokasi, tambang dilakukan secara manual dengan metode “guguntur” istilah lokal untuk aktivitas penggalian menggunakan alat sederhana. Namun meski tampak tradisional, dampaknya sangat merusak. Air sungai yang biasanya jernih, kini berubah menjadi cokelat pekat dan membawa lumpur serta limbah dari aktivitas tambang.
Seorang warga kampung pesawahan yang enggan disebutkan namanya menyampaikan keresahannya. “Apalagi kalau malam hari, suara motor jembret mondar-mandir membawa hasil tambang bikin kami tidak bisa tidur. Sungai pun sekarang jadi kotor, airnya gak bisa dipakai lagi,” keluhnya.Senin (5/5/2025)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keluhan serupa datang dari seorang ibu salah satu tokoh di kampung tersebut.yang telah lama memantau kondisi di lapangan. “Airnya sekarang sering keruh, warga Ciletuh juga heran kenapa air bisa berubah begitu. Dulu aliran air dari Pasawahan ke Cirusit, Cibogo, Ciawi sampai Cilubang masih bersih,” ungkapnya dengan nada kesal
Ia juga menyebutkan bahwa aktivitas PETI tak hanya dilakukan di siang hari, tetapi juga kadang berlangsung malam-malam, saat warga sudah tidur. “Kadang ada yang malam-malam ngeguguntur-nya. Ini sudah keterlaluan,” ujarnya.
PETI di wilayah ini bukan hanya soal pelanggaran hukum, tetapi juga ancaman serius bagi keberlanjutan lingkungan dan sektor pariwisata. Aliran sungai yang tercemar ini berpotensi mengganggu kawasan konservasi dan wisata Geopark Ciletuh yang sudah diakui UNESCO.
Sayangnya, hingga kini belum ada tindakan tegas dari aparat untuk menghentikan aktivitas ilegal ini. Warga berharap pemerintah segera turun tangan, menindak pelaku PETI, dan memulihkan lingkungan yang rusak.
(*)














