Tragedi Maut di Tengah Maraknya PETI Kuantan Singingi, Seorang Penambang Tewas Tenggelam, Pengawasan Aparat Kembali Jadi Sorotan

- Penulis

Rabu, 1 Juli 2026 - 00:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT || KUANTAN SINGINGI – Tragedi kembali terjadi di tengah maraknya aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang selama ini berlangsung di sepanjang aliran Sungai Kuantan, wilayah Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Seorang pekerja tambang dilaporkan meninggal dunia diduga akibat tenggelam saat melakukan aktivitas penambangan emas ilegal pada Selasa (30/6/2026).

Peristiwa tersebut kembali memantik perhatian publik sekaligus mempertegas tingginya risiko keselamatan kerja dalam aktivitas pertambangan ilegal yang hingga kini masih terus berlangsung di sejumlah titik di wilayah hukum Polsek Cerenti.

Informasi awal yang diterima redaksi berasal dari warga melalui aplikasi WhatsApp. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa korban berinisial Dion R diduga tenggelam ketika bekerja di lokasi PETI yang berada di kawasan Pulau Jambu, Kecamatan Cerenti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain menyampaikan informasi, narasumber juga mengirimkan dokumentasi berupa foto dan video yang memperlihatkan proses pencarian hingga evakuasi korban dari lokasi kejadian.

Menurut keterangan warga, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Setelah dilakukan pencarian selama beberapa jam, korban akhirnya ditemukan sekitar pukul 16.00 WIB dalam keadaan tidak bernyawa.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Seorang pekerja tambang berinisial Dion R meninggal dunia akibat tenggelam di Sungai Pulau Jambu. Kejadian sekitar pukul 14.00 WIB dan korban ditemukan sekitar pukul 16.00 WIB. Semoga husnul khatimah,” tulis narasumber kepada redaksi.

Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi resmi dari pihak Polsek Cerenti, Polres Kuantan Singingi, maupun instansi terkait mengenai kronologi lengkap, penyebab pasti kejadian, serta langkah penanganan yang telah dilakukan.

Tragedi yang Kembali Membuka Luka Lama Persoalan PETI

Meninggalnya seorang pekerja tambang ilegal ini bukan sekadar musibah biasa. Peristiwa tersebut kembali membuka persoalan lama mengenai maraknya aktivitas PETI yang selama bertahun-tahun menjadi sorotan masyarakat, pegiat lingkungan, maupun berbagai media massa.

Selama beberapa pekan terakhir, aktivitas pertambangan emas tanpa izin di sepanjang Sungai Kuantan telah berulang kali diberitakan. Meski demikian, berdasarkan informasi masyarakat, aktivitas tersebut masih tetap berlangsung bahkan dalam jumlah yang disebut mencapai ratusan ponton.

Sebelumnya, pada 17 Juni 2026, media ini pernah mengungkap dugaan bocornya informasi mengenai rencana razia terhadap aktivitas PETI. Saat itu, ratusan rakit ponton dilaporkan mendadak menghilang sehari sebelum penertiban dilakukan.

Namun berdasarkan dokumentasi masyarakat yang diterima redaksi, tidak lama setelah isu razia mereda, aktivitas penambangan kembali berjalan seperti biasa.

Dalam pemberitaan sebelumnya juga muncul berbagai keterangan narasumber mengenai dugaan adanya pungutan terhadap pemilik ponton serta dugaan keterlibatan sejumlah pihak. Seluruh informasi tersebut telah diberitakan secara proporsional sebagai keterangan narasumber yang hingga kini masih memerlukan pembuktian dan verifikasi lebih lanjut.

Redaksi juga telah memberikan ruang hak jawab kepada seluruh pihak yang disebut sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Ratusan Ponton Disebut Masih Beroperasi

Tidak berhenti di situ, pada 22 Juni 2026 media ini kembali melakukan pemantauan lapangan di sejumlah titik sepanjang Sungai Kuantan.

READ  Bidpropam Polda Jateng Nyatakan Dugaan Pelanggaran Terbukti, Kasus Perampasan Pajero AD 1346 QP Seret Kanit Reskrim Polsek Banjarsari ke Pemeriksaan Lanjutan

Hasil pemantauan menunjukkan aktivitas PETI masih berlangsung di kawasan Desa Teluk Pauh, Pulau Bayur, Pulau Jambu, dan beberapa titik lainnya.

Warga menyebut ratusan rakit ponton masih beroperasi setiap hari menggunakan mesin penyedot yang mengeruk dasar sungai untuk mencari butiran emas.

Keberadaan aktivitas tersebut, menurut masyarakat, telah memunculkan berbagai persoalan lingkungan maupun sosial.

Air sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan masyarakat kini disebut semakin keruh. Hasil tangkapan ikan terus menurun. Area pemasangan jaring tradisional banyak yang rusak akibat lalu lintas ponton. Selain itu, kebisingan mesin tambang berlangsung hampir sepanjang hari dan dinilai mengganggu kenyamanan warga yang tinggal di bantaran sungai.

Masyarakat juga mengkhawatirkan meningkatnya potensi abrasi akibat aktivitas pengerukan yang dilakukan secara terus-menerus tanpa memperhatikan aspek lingkungan.

Keselamatan Pekerja Dipertaruhkan

Peristiwa meninggalnya Dion R menjadi gambaran nyata bahwa aktivitas PETI tidak hanya berdampak terhadap kerusakan lingkungan, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa para pekerjanya.

Karena beroperasi di luar ketentuan hukum, aktivitas tersebut umumnya tidak memiliki standar keselamatan kerja, pengawasan teknis, maupun perlindungan tenaga kerja sebagaimana diatur dalam kegiatan pertambangan yang legal.

Musibah ini pun kembali memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana upaya pencegahan terhadap aktivitas pertambangan ilegal yang selama ini masih berlangsung secara terbuka.

Efektivitas Penegakan Hukum Dipertanyakan

Terjadinya korban jiwa di tengah masih maraknya aktivitas PETI kembali memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas pengawasan dan penegakan hukum di wilayah Kecamatan Cerenti.

Sejumlah warga menilai aktivitas yang berlangsung dalam skala besar dan dilakukan secara terbuka seharusnya tidak sulit diketahui oleh aparat maupun instansi terkait.

Di tengah kondisi tersebut, kembali muncul berbagai dugaan yang berkembang di masyarakat mengenai kemungkinan adanya pembiaran atau keterlibatan oknum tertentu. Namun demikian, seluruh dugaan tersebut hingga saat ini masih sebatas informasi dari narasumber dan belum dapat dibuktikan secara hukum maupun diverifikasi secara independen.

Oleh karena itu, asas praduga tak bersalah tetap harus dikedepankan dan seluruh pihak berhak memberikan klarifikasi maupun hak jawab.

Masyarakat Mendesak Langkah Nyata

Pasca terjadinya musibah ini, masyarakat berharap pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta instansi terkait tidak hanya melakukan penindakan yang bersifat sementara, tetapi juga mengambil langkah nyata, konsisten, transparan, dan berkelanjutan dalam memberantas aktivitas PETI di sepanjang Sungai Kuantan.

Warga menilai persoalan ini tidak lagi semata-mata menyangkut pelanggaran hukum, tetapi telah menyentuh aspek keselamatan manusia, kelestarian lingkungan, keberlangsungan mata pencaharian masyarakat, hingga wibawa penegakan hukum.

Redaksi masih membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada Polsek Cerenti, Polres Kuantan Singingi, Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, maupun seluruh pihak yang disebut dalam pemberitaan ini sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.Apabila diinginkan, berita ini juga dapat dibuat dalam gaya **investigasi** yang lebih mendalam dengan penelusuran kronologi, data aktivitas PETI, dan analisis dampaknya terhadap lingkungan serta penegakan hukum.

Penulis : Athia

Editor : Redaksi

Sumber Berita: SUARARAKYAT.info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Warga Sukabumi Apresiasi Polda Jabar Ungkap Dugaan Korupsi Jembatan Cipamuruyan, Hilman: Bukti Penegakan Hukum Berjalan
Pilkades PAW Cibolang Masuki Tahap Akhir, DPMD Tekankan Musyawarah dan Netralitas
Demo 2626 Soroti Gaji ke-13 dan Tukin ASN yang Belum Cair, Desakan Hak Angket terhadap Wali Kota Menguat
Anggaran Ratusan Juta, Pekerjaan Diduga Hanya Puluhan Juta: Proyek SAB Sukabumi TA 2026 Diterpa Sorotan, Transparansi Disperkim Dipertanyakan
Aksi Damai 10 Ribu Relawan SPPG se- Sukabumi, Kritik Narasi Sepihak terhadap Program MBG
Ketua DPD Tani Merdeka Sukabumi Tegaskan MBG Penopang Petani, Serukan Aksi Damai Bermartabat
Tolak Moratorium Dapur MBG, Relawan SPPG Mutiara Pelabuhanratu 1 Desak BGN Tinjau Ulang Kebijakan
Dessy Ratnasari Apresiasi PAUDQU Al-Kahfi Kebonpedes, Tekankan Peran Orang Tua dalam Pendidikan Al-Qur’an Sejak Dini
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 00:29 WIB

Tragedi Maut di Tengah Maraknya PETI Kuantan Singingi, Seorang Penambang Tewas Tenggelam, Pengawasan Aparat Kembali Jadi Sorotan

Selasa, 30 Juni 2026 - 09:32 WIB

Warga Sukabumi Apresiasi Polda Jabar Ungkap Dugaan Korupsi Jembatan Cipamuruyan, Hilman: Bukti Penegakan Hukum Berjalan

Senin, 29 Juni 2026 - 14:35 WIB

Pilkades PAW Cibolang Masuki Tahap Akhir, DPMD Tekankan Musyawarah dan Netralitas

Sabtu, 27 Juni 2026 - 02:54 WIB

Demo 2626 Soroti Gaji ke-13 dan Tukin ASN yang Belum Cair, Desakan Hak Angket terhadap Wali Kota Menguat

Jumat, 26 Juni 2026 - 06:31 WIB

Anggaran Ratusan Juta, Pekerjaan Diduga Hanya Puluhan Juta: Proyek SAB Sukabumi TA 2026 Diterpa Sorotan, Transparansi Disperkim Dipertanyakan

Berita Terbaru