SUARARAKYAT.info||GARUT – Di balik gemuruh derasnya air dan kabut tipis yang menggantung di udara pegunungan, Curug Sanghyang Taraje menyimpan kisah panjang antara legenda, keyakinan masyarakat, hingga peringatan keselamatan yang tak boleh diabaikan. Air terjun kembar setinggi sekitar 90 meter yang berada di Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, ini bukan hanya destinasi wisata alam, tetapi juga situs budaya yang sarat cerita dari masa ke masa.Sabtu (15/11/2025)
Nama Sanghyang dalam tradisi Sunda merujuk pada gelar kehormatan untuk sosok suci dewa, raja, atau tokoh sakral sementara Taraje berarti tangga. Kombinasi keduanya melahirkan penamaan yang menyiratkan makna mendalam: tangga milik para dewa.
Legenda Sangkuriang dan Tangga Menuju Langit
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Cerita paling terkenal yang hidup dalam memori kolektif masyarakat sekitar adalah kisah Sangkuriang, tokoh mitologi Sunda yang hingga kini jejaknya dipercaya ada di berbagai tempat di Jawa Barat.
Menurut legenda, air terjun ini dulunya bukan sekadar aliran besar yang jatuh dari tebing, melainkan tangga raksasa yang digunakan Sangkuriang untuk naik ke langit. Tujuannya satu: mengambil bintang untuk dipersembahkan kepada Dayang Sumbi, wanita yang dicintainya.
Masyarakat setempat bahkan menyebutkan adanya sebuah batu yang menyerupai tapak kaki raksasa di dekat air terjun. Batu ini dipercaya sebagai jejak langkah Sangkuriang saat ia memulai perjalanannya menapaki “taraje” menuju kayangan.
Tempat Penyimpanan Bintang dan Penjaga dari Dunia Lain
Keyakinan lokal juga menuturkan bahwa di bagian terdalam kolam air terjun terdapat ruang mistis yang menjadi tempat penyimpanan bintang yang dibawa Sangkuriang. Ruang itu diyakini dijaga oleh seekor ular besar, simbol penjaga dunia gaib dalam banyak cerita Sunda.
Kepercayaan inilah yang membuat wilayah sekitar curug selalu diperlakukan dengan penuh hormat oleh penduduk, terutama ketika memasuki area pusaran air yang dianggap keramat dan sangat berbahaya.
Keindahan yang Memesona, Bahaya yang Tak Tampak
Curug Sanghyang Taraje memiliki karakteristik yang berbeda dari air terjun lain di Jawa Barat. Bentuknya yang kembar dan tingginya yang mencapai hampir 90 meter membuatnya tampak seperti tangga besar dari jauh sesuai dengan namanya.
Namun, di balik keindahan itu, tersimpan bahaya tersembunyi. Warga setempat pernah menyaksikan sendiri bagaimana sebatang pohon besar tumbang dan jatuh ke kolam pusaran air terjun. Pohon tersebut seketika menghilang, tersedot ke kedalaman yang nyaris tak terukur.
Kisah itu menjadi pengingat bahwa kedalaman kolam di bawah air terjun bukanlah hal yang dapat disepelekan. Banyak pengunjung tidak menyadari betapa kuatnya pusaran dan arus di dasar air terjun, terutama saat musim penghujan.
Imbauan Keselamatan: Wisata, Bukan Pertaruhan Nyawa
Tokoh masyarakat dan para penjaga kawasan wisata terus mengingatkan pengunjung agar tidak sembarangan berenang atau bermain di area yang tidak diperbolehkan. Aktivitas seperti swafoto (selfie) di bibir tebing, bermain air terlalu dekat pusaran, atau turun ke lokasi terlarang dapat mengancam keselamatan.
“Keindahan alam harus dinikmati dengan bijak,” kata salah satu warga yang akrab dengan kawasan tersebut. “Ikuti petunjuk petugas, jangan memaksakan diri, dan hormati area yang dianggap berbahaya.”
Curug Sanghyang Taraje bukan sekadar obyek wisata; ia adalah warisan budaya, kisah legenda, dan alam liar yang berdiri berdampingan. Di sana, sejarah lisan Sunda masih hidup, diwariskan, dan dijaga. Namun di saat yang sama, kehati-hatian tetap menjadi kunci bagi setiap pengunjung yang ingin merasakan pesonanya.
Catatan Redaksi:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar Situs Kendan. Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan penulis
Penulis: Kopka Irvan














