SUARARAKYAT.info|| Tasikmalaya— Wilayah Sukapura, yang kini menjadi cikal bakal Kabupaten Tasikmalaya, memiliki sejarah panjang yang terhubung dengan dinasti besar di Jawa, termasuk Pajang, Mataram Islam, serta kekuasaan Sunda-Padjajaran. Jejak sejarah ini membentuk identitas budaya dan politik Tasikmalaya hingga masa modern.Jumat (14/11/2025)
Akar Keturunan dari Dinasti Pajang
Rangkaian sejarah Sukapura bermula dari garis darah Jaka Tingkir, tokoh besar pendiri Kesultanan Pajang. Dari keturunan Jaka Tingkir lahirlah Pangeran Kusuma Diningrat, sosok bangsawan yang memperkuat hubungan kekuasaan melalui perkawinannya dengan putri Pangeran Rangga Gempol I dari Sumedang. Dari ikatan keluarga inilah kelak muncul tokoh penting bernama Saripeun Cibuni Agung.
Saripeun Cibuni Agung memiliki putra bernama Wira Hadiningrat, yang menikah dengan Braja Yuda. Dari pasangan inilah lahir seorang tokoh besar: Raden Wira Wangsa, yang kelak menjadi Bupati Sukapura pertama dengan gelar Raden Tumenggung Wira Dadaha I.
Peran Mataram dan Sultan Agung
Pada abad ke-17, wilayah Sukapura berada di bawah pengaruh Kesultanan Mataram Islam. Raden Wira Wangsa diangkat menjadi Bupati Sukapura sekitar tahun 1635 oleh Sultan Agung sebagai bentuk penghargaan atas jasanya membantu menumpas pemberontakan besar yang dipimpin Dipatiukur.
Dengan pengangkatan itu, wilayah Sukapura secara resmi menjadi bagian dari struktur pemerintahan Mataram. Dinasti Wira Dadaha pun lahir dan memerintah Sukapura selama beberapa generasi.
Sukakerta: Kerajaan Awal Sebelum Sukapura
Sebelum berdirinya Kabupaten Sukapura, terdapat kerajaan kecil bernama Sukakerta, yang berpusat di Dayeuh Tengah (kini Kecamatan Salopa). Penguasa pertama yang tercatat adalah Sri Gading Anteng, seorang tokoh yang memimpin wilayah tersebut pada masa akhir kekuasaan Sunda-Padjajaran.
Kerajaan Sukakerta berada di bawah naungan Kerajaan Sunda-Padjajaran. Namun setelah keruntuhan Padjajaran dan perluasan kekuasaan Mataram pada akhir abad ke-16, wilayah ini ikut masuk ke dalam kendali politik Mataram. Pada tahun 1595, pengaruh Kadipaten Galuh Islam juga melemah dan wilayahnya diambil alih Mataram.

Salah satu tokoh penting masa transisi ini adalah Raden Suryadi Wangsa, yang memimpin wilayah Sukapura sebelum kedatangan Dinasti Wira Dadaha. Cucu beliau, Raden Wira Wangsa, kemudian menjadi penguasa resmi pertama yang diangkat langsung oleh Sultan Agung.
Dinasti Wira Dadaha: Pewaris Tahta Sukapura Kepemimpinan Raden Tumenggung Wira Dadaha I dilanjutkan oleh para bupati dari garis keturunannya. Dinasti ini menjadi simbol pemerintahan lokal Sukapura selama beberapa abad.
Di antara para penerusnya adalah:
Raden Djaya Manggala – Bupati ke-2 (Wira Dadaha II)
Raden Angga Dipa I – Bupati ke-3 (Wira Dadaha III)
Raden Suba Manggala – Bupati ke-4 (Wira Dadaha IV)
Raden Angga Dipa II – Bupati ke-8 (Wira Dadaha VIII), tokoh penting yang memindahkan pusat pemerintahan
Raden Tumenggung Wira Hadiningrat, generasi berikutnya yang menandai masa perubahan besar menjelang munculnya nama Tasikmalaya.
Perpindahan Ibu Kota Sukapura
Dalam perjalanan sejarahnya, pusat pemerintahan Sukapura mengalami beberapa kali perpindahan. Awalnya berlokasi di Leuwi Loa, kemudian bergeser ke Tanjung Malaya (sekarang Manonjaya). Pada masa berikutnya, setelah kepemimpinan Wira Hadiningrat, pusat pemerintahan dipindahkan ke wilayah yang kini dikenal sebagai Tasikmalaya.
Lahirnya Nama Tasikmalaya Setelah Bencana Galunggung
Letusan besar Gunung Galunggung pada tahun 1822 mengubah lanskap Sukapura. Abu vulkanik dan pasir yang menutupi wilayah ini menciptakan fenomena alam yang mempengaruhi penamaan daerah. Dari peristiwa itu, muncul istilah:
Tasik berarti hamparan pasir
Malaya berarti bertebaran
Nama “Tasikmalaya” kemudian menjadi identitas baru yang menggantikan nama Sukapura dalam struktur administratif.
Jejak sejarah panjang Mataram Sukapura tidak hanya menunjukkan hubungan genealogis dengan dinasti-dinasti besar Nusantara, tetapi juga menggambarkan transformasi politik dan geografis yang membentuk Tasikmalaya modern. Dari akar Pajang, pengaruh Mataram, hingga perubahan wajah alam akibat letusan Gunung Galunggung, seluruh rangkaian peristiwa ini menjadi fondasi penting perjalanan sejarah daerah Priangan Timur.
Catatan Redaksi:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar Situs Kendan. Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.
Penulis; Kopka Irvan
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT














