Jejak Perjuangan dan Keteladanan Mama Amilin Syekh Abdul Jabbar: Ulama Pejuang dari Garut yang Membina Ribuan Pemuda Melawan Penjajah

- Penulis

Sabtu, 8 November 2025 - 05:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info|| GARUT — Dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia, nama Mama Amilin Syekh Abdul Jabbar menjadi bagian penting dari kisah ulama pejuang yang tak hanya menebar ilmu agama, tetapi juga membangkitkan semangat juang rakyat melawan penjajahan. Lahir pada tahun 1893 di Kampung Cimencek, Desa Citraraya, Kecamatan Samarang, Garut, beliau tumbuh dalam suasana keislaman yang kental dan kehidupan masyarakat Sunda yang sederhana namun sarat nilai perjuangan.Sabtu (8/11/2025)

Sejak muda, Syekh Abdul Jabbar sudah menampakkan kecintaannya terhadap ilmu agama. Ia menimba ilmu pertama kali kepada Ajengan Eman dan Ajengan Koji di Kampung Tanjung Siguru, masih di wilayah Samarang, Garut. Ketekunannya dalam menuntut ilmu membuatnya dikenal sebagai santri yang cerdas, rendah hati, dan memiliki semangat spiritual yang tinggi.

Pada tahun 1918, beliau melanjutkan perjalanan ilmunya ke Kampung Kopok Bulentra, Cirebon, untuk memperdalam ilmu agama di pesantren. Masa itu menjadi titik penting dalam pembentukan karakter keilmuan dan kepemimpinan beliau. Setelah menimba ilmu selama beberapa tahun, pada 1921, beliau kembali ke tanah kelahirannya dan mulai mengajar ngaji di Kampung Pangsor, Kecamatan Samarang, Garut.

Namun perjalanan spiritual dan intelektualnya tidak berhenti di situ. Pada tahun 1928, beliau menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah. Di sana, beliau berguru kepada Syekh Fahtoni, seorang ulama besar dari lingkungan Mazhab Syafi’i. Dari sang guru itulah, beliau memperoleh gelar “Haji Abdul Jabbar” sebagai pengakuan atas kedalaman ilmu dan ketekunan dalam menuntut agama. Selama satu tahun di Mekkah, beliau memperdalam tafsir, hadis, fiqih, dan ilmu tasawuf yang kemudian menjadi dasar perjuangan dakwahnya di tanah air.

Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1929, Haji Abdul Jabbar menetap di Ujung Berung, Bandung, dan memulai kiprah besar dalam membina generasi muda. Beliau mendirikan majlis ilmu dan pembinaan pemuda, yang kelak menjadi wadah bagi ribuan anak muda untuk belajar agama, moral, dan semangat kebangsaan. Tercatat, sekitar 3.000 pemuda menjadi murid dan pengikutnya pada masa itu sebuah angka yang luar biasa besar untuk ukuran zaman penjajahan.

Di tengah situasi kolonial Belanda yang menindas rakyat, Syekh Abdul Jabbar menanamkan semangat kemerdekaan dan harga diri bangsa. Pemuda-pemuda binaannya dikenal gagah berani, tak gentar menghadapi pasukan Belanda. Mereka bergerak secara rahasia, dan salah satu sasaran perjuangan mereka adalah Hotel Horman, pusat pemerintahan kolonial di Bandung kala itu. Gerakan tersebut menjadi simbol perlawanan anak-anak bangsa terhadap penjajahan, sebuah bentuk jihad fi sabilillah dalam konteks mempertahankan kehormatan dan kedaulatan tanah air.

Dengan penuh keikhlasan, beliau memimpin dan membimbing perjuangan tanpa pamrih. Baginya, kemerdekaan bukan hanya urusan politik, tetapi juga panggilan iman untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan. Dalam pandangan beliau, berjuang untuk rakyat tertindas adalah bagian dari pengamalan ajaran Islam yang sejati.

Kini, meski zaman telah berubah, ajaran dan semangat Mama Amilin Syekh Abdul Jabbar tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Sosoknya tidak hanya dikenang sebagai ulama, tetapi juga sebagai tokoh kebangkitan moral dan nasionalisme di kalangan pemuda Sunda dan masyarakat Jawa Barat.

Syekh Abdul Jabbar wafat pada tanggal 28 Maulid tahun 1968, dan dimakamkan di Dayeuh Kolot, Bandung. Makamnya hingga kini menjadi tempat ziarah dan doa bagi banyak orang yang ingin meneladani perjuangan dan kesalehannya.

Sebagai bangsa yang telah merdeka, masyarakat Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan perjuangan beliau memelihara kemerdekaan, menegakkan keadilan, dan menjaga semangat persatuan. Semoga Allah SWT menerima segala amal sholeh beliau, mengampuni segala kekhilafan, dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.

Al-Fatihah untuk Mama Amilin Syekh Abdul Jabbar, ulama pejuang dari Garut yang menyalakan api kemerdekaan dari pesantren dan majlis ilmu.

Catatan Redaksi:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar Situs Kendan. Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.

Penulis: Kopka Irvan

READ  Sri Ratu Indung Rumbiyang Jati: Jejak Perempuan Penjaga Jati Diri Sunda Luhung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”
Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa
Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan
Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah
Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul
Ratu Sunyalarang dan Nyi Rambut Kasih: Fragmen Sejarah Budaya Talaga Manggung Majalengka
Menguak Jejak Leluhur di Gunung Nagara Padang: Wisata Spiritual yang Menyatu dengan Sejarah Kampung Tutugan
Jejak Legenda Batu Kukumbung di Laut Jayanti: Kopka Irvan Lakukan Monitoring Sambil Mengungkap Nilai Sejarah dan Budaya Lokal
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:04 WIB

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”

Jumat, 13 Maret 2026 - 05:59 WIB

Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa

Selasa, 27 Januari 2026 - 10:12 WIB

Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:20 WIB

Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah

Selasa, 13 Januari 2026 - 13:48 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul

Berita Terbaru