Sri Ratu Indung Rumbiyang Jati: Jejak Perempuan Penjaga Jati Diri Sunda Luhung

- Penulis

Minggu, 2 November 2025 - 11:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info|| Cianjur—Di antara kabut pagi yang menggantung di lereng-lereng Priangan, di sela gemericik sungai yang disebut leuwi dan bisikan angin dari awang-awang, tersimpan kisah tua yang nyaris tertimbun oleh debu zaman. Kisah ini bukan sekadar legenda, melainkan cermin dari pandangan hidup masyarakat Sunda purba tentang keberanian, keseimbangan, dan kesetiaan pada jati diri.minggu (2/11/2025)

Kisah itu bermula dari perjalanan panjang para peneliti dan pemerhati budaya Sunda yang berusaha menelusuri galur karuhun silsilah dan tapak jejak leluhur. Mereka menyebut perjalanannya sebagai “nyucruk galur mapai laratan,” yaitu menapaki jejak purba, menelusuri aliran sejarah yang menghubungkan manusia dengan semesta. Di setiap tapak jejak yang mereka temukan, muncul simbol-simbol dan kisah yang mengarah pada satu nama agung Sri Ratu Indung Rumbiyang Jati.

Dari Haur Sindur yang Hilang ke Lahirnya Negeri Pudjadaran

Konon, pada masa kala yang tak tercatat dalam hitungan tahun, di kahyangan terjadi peristiwa besar. Sanghyang Wening dan Sanghyang Wenang, dua dewa penjaga keseimbangan alam, kehilangan benda sakral bernama Haur Sindur selembar lambang kesucian dan keseimbangan hidup. Benda itu jatuh dari langit, melayang-layang hingga akhirnya hilang di bumi.

Berbagai makhluk pun turun tangan mencarinya. Namun hanya empat hewan sakti yang berhasil menemukannya: Lutung, Ciung, Maung, dan Badak. Dengan kesetiaan dan keberanian mereka, Haur Sindur akhirnya dikembalikan ke kahyangan.

Sebagai balasan, Sanghyang Wenang berjanji memberi anugerah besar: menjadikan keempatnya raja di bumi, di tanah yang kelak dikenal sebagai Pajajaran. Namun, dengan kerendahan hati, keempat makhluk ini menolak tahta. Mereka memilih untuk melanjutkan tapa brata menyucikan diri, mendekat pada kesempurnaan.

Mereka lalu menunjuk seorang wanita yang pernah berjasa kepada mereka sebagai pengganti. Wanita itu bukan sembarang manusia ia adalah Sri Ratu Indung Rumbiyang Jati, sosok pemberani, bijaksana, dan memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa.

Gambar ikustrasi sesuai cerita

Sosok Ratu yang Mewarisi Sifat Alam
Dari keempat hewan sakti itu, Sri Ratu Indung Rumbiyang Jati mewarisi kekuatan yang menjadikannya sosok istimewa:
Dari Badak, ia mendapat tenaga dan keteguhan hati.
Dari Maung, ia mewarisi keberanian tanpa gentar.
Dari Lutung, ia memperoleh kecerdikan dan keluwesan berpikir.
Dari Ciung, ia dikaruniai kefasihan dalam berbicara dan kemampuan memimpin dengan kata-kata.

Keempat sifat itu menyatu dalam diri sang ratu menjadikannya lambang kesempurnaan manusia yang seimbang antara kekuatan, kebijaksanaan, dan kelembutan.

Di masa kepemimpinannya, Sanghyang Wening menamai negeri yang ia pimpin sebagai Nagara Pudjadaran, atau “Negeri yang dipuja karena dasarnya kebenaran.” Nama itu bukan hanya penghormatan pada sang ratu, tetapi juga pengingat bagi manusia: bahwa kekuasaan sejati bukan pada kuasa, melainkan pada kebenaran dan kebijaksanaan.

Makna di Balik Sunda Luhung

Dari kisah inilah muncul konsep Sunda Luhung Sunda yang luhur, yang berani berdiri dengan purba jati-nya sendiri.
Sunda Luhung berarti keberanian untuk menjadi diri sendiri, tanpa harus menunduk pada budaya atau keyakinan asing yang tidak sejiwa. Ia adalah semangat untuk memuliakan nilai-nilai sendiri, tanpa harus meniru kemegahan bangsa lain.

Di masa kini, nilai itu menjadi pesan yang amat relevan.
Ketika banyak masyarakat terjebak dalam pencarian jati diri modern yang serba asing, Sunda Luhung mengingatkan kekuatan sejati terletak pada akar, bukan pada bayang-bayang.

Sri Ratu Indung: Lambang Perempuan Sunda yang Mandiri

Keberanian Sri Ratu Indung Rumbiyang Jati juga menandai bahwa perempuan dalam pandangan Sunda kuno bukan sekadar pelengkap, tetapi penjaga keseimbangan. Ia bukan berada di belakang laki-laki, tetapi berdiri sejajar bahkan menjadi simbol indung jagat, ibu semesta yang melahirkan kehidupan.

Dalam banyak naskah Sunda kuno, perempuan kerap digambarkan sebagai sumber keseimbangan alam. “Indung tunggul rahayu, bapak tunggul kasab” ibu adalah sumber keselamatan, ayah sumber kebijaksanaan. Maka dalam diri Sri Ratu Indung Rumbiyang Jati, kedua unsur itu menyatu.

Dari cerita itu, muncul petuah abadi:

“Hirup téh kudu diajar diajar ngahaturkeun nuhun, diajar narima, diajar sabar sanajan beurat, jeung diajar satia kana pilihan hirup sorangan.”
(Hidup itu harus belajar belajar bersyukur, menerima, sabar meski berat, dan setia pada pilihan hidup sendiri.)

Ajaran ini seolah menjadi nasihat dari masa silam untuk manusia modern. Dalam dunia yang penuh persaingan dan kebisingan, nilai-nilai seperti sabar, ikhlas, dan teguh pada keyakinan menjadi semakin langka.

Kisah Sri Ratu Indung Rumbiyang Jati mengingatkan bahwa kebesaran tidak selalu datang dari kemenangan perang atau kekuasaan, tetapi dari keberanian menjaga kebenaran dalam diam, dari kesetiaan pada prinsip hidup, dan dari keikhlasan berbuat tanpa pamrih.

Menghidupkan Kembali Ruh Karuhun

Kini, di berbagai komunitas budaya Sunda, kisah ini kembali digali dan diajarkan. Ia bukan hanya legenda, tetapi sumber nilai-nilai pendidikan moral dan kearifan lokal. Sejumlah budayawan menilai bahwa pemahaman terhadap kisah ini dapat menjadi fondasi penting dalam membangun kembali karakter masyarakat Sunda yang someah, leuleus, tapi tegas dina kayakinan.

Dari leuwi hingga awang-awang, dari tapak meuri hingga tapak soang, sejarah ini terus bernafas dalam ingatan kolektif masyarakat. Sebuah penanda bahwa kejayaan Sunda tidak akan pernah lahir dari imitasi, melainkan dari keberanian memuliakan warisan leluhur sendiri.

Dan di antara nama-nama besar dalam sejarah, Sri Ratu Indung Rumbiyang Jati tetap bersinar sebagai simbol bahwa perempuan Sunda dan Sunda itu sendiri memiliki jiwa yang tidak tunduk, tidak silau oleh asing, dan tidak luntur oleh zaman.
Ia adalah cermin jati sunda yang sejati: lembut tapi kuat, sederhana tapi luhur, luhung ku budi, herang ku rasa.

Penulis: Kopka Irvan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”
Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa
Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan
Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah
Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul
Ratu Sunyalarang dan Nyi Rambut Kasih: Fragmen Sejarah Budaya Talaga Manggung Majalengka
Menguak Jejak Leluhur di Gunung Nagara Padang: Wisata Spiritual yang Menyatu dengan Sejarah Kampung Tutugan
Jejak Legenda Batu Kukumbung di Laut Jayanti: Kopka Irvan Lakukan Monitoring Sambil Mengungkap Nilai Sejarah dan Budaya Lokal
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:04 WIB

Jejak Siliwangi dalam Nada: DR. Agus Kapinis Hidupkan Filosofi Kepemimpinan Sunda Lewat Lagu “Kaboa Ngadaun Ngora”

Jumat, 13 Maret 2026 - 05:59 WIB

Menjaga Warisan Leluhur: Kearifan Masyarakat Adat sebagai Penjaga Alam dan Masa Depan Desa

Selasa, 27 Januari 2026 - 10:12 WIB

Seni Degung Kliningan Terancam Punah, Seniman Sunda Naringgul Suarakan Keprihatinan

Kamis, 15 Januari 2026 - 07:20 WIB

Tan Jin Sing: Bupati Tionghoa Pertama Yogyakarta yang Terasing di Persimpangan Sejarah

Selasa, 13 Januari 2026 - 13:48 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Palabuhan Ratu: Warisan Nyai Putri Purnamasari hingga Lahirnya Negeri Pesisir Pajajaran Kidul

Berita Terbaru

Berita Daerah

Kafilah SBB Hadiri Pembukaan Serimonial MTQ ke-XXXI Maluku 

Selasa, 23 Jun 2026 - 02:11 WIB