SUARARAKYAT.info|| GARUT – Di balik perbukitan hijau dan udara sejuk di Kampung Godog, Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan, Garut, tersimpan sebuah situs sejarah yang sarat nilai spiritual dan budaya. Di tempat inilah dipercaya bersemayam tokoh besar dalam perjalanan Islam di Tatar Sunda Raden Kian Santang, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Rohmat Suci, Sunan Godog, atau Galantrang Setra.Jumat (14/11/2025)
Makam beliau menjadi tujuan ziarah dari berbagai penjuru Nusantara, bukan hanya karena kisah kesaktiannya, tetapi juga peran pentingnya dalam proses islamisasi di wilayah Pajajaran.
Putra Prabu Siliwangi yang Memilih Jalan Dakwah
Raden Kian Santang adalah putra dari Prabu Siliwangi, penguasa Kerajaan Sunda Pajajaran, dan Nyi Subang Larang, seorang bangsawati yang telah lebih dahulu memeluk agama Islam. Garis keturunan inilah yang kelak menempatkan Kian Santang dalam persimpangan besar: antara tetap mengikuti kepercayaan ayahandanya atau menapaki jalan dakwah sang ibu.
Sejak kecil, ia dikenal sebagai kesatria yang sakti, pemberani, dan memiliki kemampuan spiritual luar biasa. Banyak kisah tutur rakyat menggambarkannya sebagai tokoh yang mampu melampaui kekuatan manusia pada umumnya.
Ketertarikannya pada Islam semakin kuat ketika dewasa. Berbagai sumber sejarah lisan menyebut bahwa Kian Santang melakukan perjalanan panjang ke berbagai pusat ilmu, bahkan disebut pernah menimba ilmu agama di Mekkah. Dalam proses belajar itu, ia digelari Galantrang Setra, sebuah nama yang menandai kedalaman ilmu dan spiritualitasnya.
Kembali ke Pajajaran Sebagai Penyebar Islam
Setelah menyelesaikan pengembaraan spiritualnya, Raden Kian Santang kembali ke Pajajaran. Kali ini ia tidak lagi hanya sebagai seorang pangeran, tetapi sebagai pendakwah Islam yang menebarkan ajaran tauhid secara damai kepada masyarakat setempat.
Meski berbeda keyakinan dengan Prabu Siliwangi yang tetap memeluk agama Hindu Kian Santang dikenal tetap menjunjung tinggi penghormatan kepada ayahandanya. Sikap ini menjadi teladan bahwa penyebaran agama dapat dilakukan dengan bijaksana tanpa memutus tali keluarga dan adat.
Tidak sedikit catatan folklor menyebut bahwa setelah kepulangan Raden Kian Santang, wilayah Pajajaran mengalami gelombang islamisasi. Ia disebut turut berperan dalam membangun kembali struktur masyarakat dan memperkenalkan ajaran Islam secara bertahap kepada rakyat Sunda.
Sunan Rohmat Suci dan Godog: Situs Keramat yang Dijaga
Nama Sunan Rohmat Suci kemudian melekat pada diri Kian Santang sebagai gelar kehormatan seorang tokoh suci. Sementara sebutan Sunan Godog merujuk pada lokasi tempat ia wafat dan dimakamkan.
Kompleks pemakamannya di Godog menjadi pusat spiritual masyarakat. Selain makam utama Kian Santang, di kompleks tersebut juga terdapat delapan makam sahabat dan pengikut dekatnya yang turut berjuang dalam penyebaran Islam. Mereka adalah:
Eyang Pagar Jaya
Eyang Kuwu Kandang Sakti
Syekh Dhora
Syekh Cikandang Herang
Eyang Cibuyut
Eyang Jiwanata
Eyang Jaya Kusuma
Eyang Panday
Keberadaan makam-makam tersebut memperkuat keyakinan masyarakat bahwa Godog adalah pusat dakwah Islam pada masa awal penyebaran agama di Tanah Sunda.
Napak Tilas Jejak Dakwah Sang Pangeran
Hingga hari ini, Kampung Godog dipenuhi peziarah, terutama pada hari-hari tertentu dalam kalender Islam. Mereka datang untuk berdoa, mengenang perjalanan dakwah Kian Santang, dan mengambil pelajaran dari nilai-nilai keikhlasan serta pengabdiannya.
Pemerintah daerah dan masyarakat sekitar turut menjaga kelestarian situs ini, baik sebagai warisan budaya maupun destinasi religi. Kisah hidup Sunan Godog menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Sunda tentang transformasi spiritual yang dilakukan dengan damai, terhormat, dan penuh kebijaksanaan.
Warisan Abadi Seorang Putra Raja
Raden Kian Santang bukan hanya tokoh dalam cerita rakyat atau legenda semata. Ia menjadi figur penting dalam perjalanan sejarah penyebaran Islam di Jawa Barat. Perjalanan hidupnya menggambarkan perpaduan antara kekuatan, ilmu, dan ketulusan dalam membimbing masyarakat menuju ajaran baru tanpa meninggalkan akar budaya.
Situs makamnya di Godog menjadi simbol penghormatan atas perjuangannya dan sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan keyakinan masyarakat masa kini.
Catatan Redaksi:
Cerita ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah, tradisi lisan, dan penuturan masyarakat sekitar Situs Kendan. Apabila terdapat perbedaan penulisan nama tempat, tahun, atau tokoh, hal tersebut sepenuhnya merupakan bagian dari dinamika penafsiran sejarah dan bukan kesengajaan penulis.
Penulis: Kopka Irvan














