SUARARAKYAT.info||Tembilahan – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan setelah insiden dugaan keracunan yang dialami sejumlah siswa SDN 008 Jalan Bunga, Tembilahan Hilir, pada Jumat (22/8/2025). Kepala sekolah SDN 008, Ibu Siti Salamah, S.Pd., S.P., menyampaikan keterangan resmi terkait peristiwa tersebut di ruang kerjanya pada Sabtu (23/8/2025).
Menurutnya, paket makanan MBG diterima pihak sekolah dalam dua kali pengiriman, yakni pukul 08.30 pagi dan sekitar pukul 12.00 siang, dengan menu yang sama. “Kami tidak bisa memastikan apa penyebabnya. Hanya saja, setelah mengonsumsi makanan tersebut, ada tiga siswa yang mengalami gejala diduga keracunan. Jumlah keseluruhan siswa kami ada 186 orang, dan alhamdulillah, tidak ada laporan gejala lanjutan dari siswa lainnya setelah ditangani,” jelasnya.
Siti menambahkan, selama ini pihak guru tidak bisa turut mencicipi paket makanan MBG karena tidak ada jatah uji rasa yang disediakan vendor. “Saat makanan datang, tidak ada pengawasan langsung dari tenaga ahli gizi atau pihak pengawas. Jadi guru tidak bisa memastikan lebih dulu kualitas makanan yang dikonsumsi siswa,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa sehari sebelum pengiriman, pihak penyedia MBG sempat meminta data jumlah siswa, termasuk catatan riwayat alergi masing-masing murid. Namun, menurutnya, langkah itu belum cukup menjamin keamanan bila kualitas pengolahan dan distribusi makanan tidak benar-benar diawasi.
Peristiwa ini memunculkan kembali perdebatan soal apakah mi instan dan olahan berbahan dasar mi yang kerap masuk dalam menu MBG tergolong makanan sehat untuk anak sekolah. Sejumlah pakar gizi menilai, mi bukan makanan utama yang dianjurkan bagi anak-anak, terlebih bila disajikan tanpa tambahan sumber protein dan sayuran yang memadai.
Menutup keterangannya, Siti Salamah berharap agar insiden ini menjadi perhatian serius bagi pihak penyelenggara MBG. “Kami tentu sangat berharap kualitas makanan ke depan lebih dijaga. Jangan sampai ada lagi murid yang jatuh sakit karena makanan yang seharusnya bergizi, justru menjadi ancaman kesehatan,” tegasnya.
Pihak sekolah kini menunggu langkah evaluasi lebih lanjut dari penyedia MBG maupun dinas terkait. Insiden ini diharapkan bisa menjadi pelajaran penting agar tujuan mulia program MBG benar-benar dirasakan masyarakat, bukan sebaliknya menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua murid.
(Syahwani)














