Tayangan Trans7 Singgung Martabat Kyai dan Santri, Ratu Nisya: Luka Mendalan Bagi Umat Islam

- Penulis

Rabu, 15 Oktober 2025 - 00:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info|| Banten-Dalam konteks masyarakat Indonesia yang multikultural dan religius, media massa memegang peran krusial sebagai pilar keempat demokrasi, yang seharusnya tidak hanya menyampaikan informasi tetapi juga menjunjung tinggi etika jurnalistik dan sensitivitas budaya.

Namun, tayangan program Xpose pada 13 Oktober 2025, yang menampilkan narasi tentang santri dan kyai di Pondok Pesantren Lirboyo, telah menimbulkan gejolak emosional yang luas di kalangan umat Muslim, seolah menjadi “patah hati” kolektif yang menyiratkan pengabaian terhadap nilai-nilai sakral keagamaan.

Secara faktual, tayangan tersebut menggambarkan adegan santri yang “ngesot” untuk memberikan amplop kepada kyai sepuh, disertai narasi yang menyiratkan bahwa hal ini menjadi penyebab kyai semakin kaya raya. Narasi ini tidak hanya simplistik tetapi juga cenderung _reductio ad absurdum_, mereduksi praktik budaya pesantren yang sarat dengan nilai hormat, disiplin, dan pengabdian menjadi karikatur yang melecehkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari perspektif sosiologi agama, seperti yang dikemukakan oleh Emile Durkheim dalam karyanya The Elementary Forms of Religious Life, institusi seperti pesantren merupakan manifestasi dari solidaritas kolektif masyarakat berbasis kepercayaan, di mana kyai dan santri mewakili simbol kemuliaan spiritual. Penghinaan terhadap elemen ini bukan sekadar kesalahan redaksional, melainkan serangan terhadap fondasi identitas umat Muslim Indonesia, yang mencakup jutaan santri dan alumni pesantren sebagai tulang punggung moral bangsa.

Dampak dari tayangan ini telah meluas, memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk seruan boikot di media sosial dengan tagar #BoikotTrans7 yang menjadi trending. Hal ini mencerminkan “patah hati” umat Muslim, di mana rasa sakit hati bukan hanya emosional tetapi juga struktural, mengingat pesantren telah berkontribusi signifikan dalam pembangunan karakter bangsa sejak era pra-kemerdekaan. Studi etnografis tentang pesantren, seperti yang dilakukan oleh Clifford Geertz dalam The Religion of Java, menunjukkan bagaimana lembaga ini menjadi pusat pembentukan nilai toleransi dan keilmuan Islam yang moderat. Oleh karena itu, narasi yang merendahkan kyai sepuh seperti KH. Anwar Manshur seorang ulama yang dihormati tidak hanya melukai individu tetapi juga mengikis kepercayaan publik terhadap media sebagai agen edukasi.

READ  BMKG Pantau Ancaman Tsunami, Sorong Aman Warga Diminta Jangan Panik

Dalam kerangka etika media, prinsip-prinsip yang diatur dalam Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999 menekankan kewajiban jurnalis untuk menghormati keragaman budaya dan menghindari konten yang menimbulkan kebencian atau penghinaan terhadap kelompok tertentu. Tayangan Trans7 ini tampaknya melanggar asas tersebut, mengingat kontennya dinilai tidak mendidik dan cenderung sensasionalisasi demi rating.

Dari sudut pandang psikologi sosial, fenomena ini dapat dianalogikan dengan teori labeling Howard Becker, di mana labeling negatif terhadap kyai dan santri berpotensi memperkuat stereotip yang merugikan, sehingga memperlemah kohesi sosial di masyarakat plural seperti Indonesia.

Oleh sebab itu, saya Ratu Nisya Yulianti, Wakil Bendahara Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), merasa terpanggil untuk menyuarakan keprihatinan mendalam atas isu terkini yang melibatkan tayangan televisi di Trans7. Saya mendesak Trans7 untuk memberikan klarifikasi resmi yang transparan mengenai proses produksi tayangan tersebut: Apakah ada verifikasi fakta sebelum penayangan? Siapa yang bertanggung jawab atas narasi yang digunakan? Klarifikasi ini bukan hanya formalitas, melainkan langkah esensial untuk memulihkan kepercayaan publik.

Selain itu, sebagai institusi media yang berpengaruh, Trans7 memiliki tanggung jawab moral dan melanjutkannya dengan komitmen konkrit, seperti program edukasi tentang etika beragama atau kerjasama dengan lembaga pesantren untuk konten positif. Tanggung jawab ini sejalan dengan konsep akuntabilitas media dalam teori komunikasi massa Denis McQuail, yang menegaskan bahwa media harus bertanggung jawab atas dampak sosial dari kontennya.

Akhirnya, insiden ini harus menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan media untuk merefleksikan peran mereka dalam membangun harmoni sosial. PB HMI siap berdialog konstruktif untuk mencegah kejadian serupa, demi terwujudnya masyarakat yang adil dan beradab. Mari kita jaga martabat umat dan bangsa dengan bijaksana.

(Sandi pale)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat
DPR Kota Sorong Dorong Penyelesaian Internal Terkait Pemalangan Kantor Distrik Sorong Barat
Babinsa Koramil 1802-02/Sorong Barat Monitoring Pembangunan Jembatan Garuda Tahap IV
Pangdam XVIII/Kasuari Hadiri Rapat Kerja Pemprov Papua Barat : Perkuat Sinergi dan Stabilitas Daerah
Percepatan Konstruksi Jembatan Garuda Tahap IV, Kodim 1802/Sorong Perkuat Struktur Dasar
Bamsoet Raih Penghargaan Wartawan Parlemen Awards 2026 Kategori Legislator Penggerak Profesionalisme Institusi dan Aparat Penegak Hukum
Korupsi APBD Kabupaten Sorong Terbongkar, Kerugian Negara Capai Rp54 Miliar
Dugaan Minim nyaTransparansi Proyek Kopdes Merah Putih, Publik Pertanyakan Penggunaan Anggaran Negara di Lapangan
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 23:51 WIB

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Sabtu, 18 April 2026 - 07:59 WIB

DPR Kota Sorong Dorong Penyelesaian Internal Terkait Pemalangan Kantor Distrik Sorong Barat

Sabtu, 18 April 2026 - 03:45 WIB

Babinsa Koramil 1802-02/Sorong Barat Monitoring Pembangunan Jembatan Garuda Tahap IV

Jumat, 17 April 2026 - 13:03 WIB

Pangdam XVIII/Kasuari Hadiri Rapat Kerja Pemprov Papua Barat : Perkuat Sinergi dan Stabilitas Daerah

Jumat, 17 April 2026 - 03:22 WIB

Percepatan Konstruksi Jembatan Garuda Tahap IV, Kodim 1802/Sorong Perkuat Struktur Dasar

Berita Terbaru

Berita Daerah

Kodim 1802/Sorong Percepat Progres Jembatan Perintis Garuda Tahap IV

Minggu, 19 Apr 2026 - 02:13 WIB