SUARARAKYAT.info|| Garut- Udara dingin khas pegunungan menyambut kehangatan pertemuan yang telah lama dinantikan. Irvan, bersama sejumlah rekan, mengungkapkan rasa syukurnya dapat kembali bersilaturahmi dengan saudara seperjuangan dan seideologi di kaki Gunung Sadakeling. Pertemuan ini terasa istimewa, karena setelah tiga tahun tak bertemu, akhirnya ia dapat berjumpa kembali dengan dua tokoh lokal yang dikenal dekat dengan sejarah dan budaya setempat, yakni Ki Maung (Asep) dan Deris Maharani.
Momen tersebut menjadi ajang saling bertukar informasi dan pengalaman, khususnya tentang salah satu destinasi wisata religi yang menyimpan banyak kisah, yakni Tujuh Saung Keramat Cibatu Agung. Lokasi ini berada di Desa Sukaluyu, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat.senin (11/8/2025)
Menurut penuturan Ki Maung, penjaga sekaligus perawat situs tersebut, Tujuh Saung Keramat Cibatu Agung bukanlah sekadar deretan saung biasa. Masing-masing saung memiliki nama dan sejarah yang dipercaya masyarakat setempat memiliki nilai spiritual tinggi. Ketujuh saung itu adalah: Saung Ibu Nyimas Siti Ningrum, Saung Eyang Dalem Prabu Mas, Saung Eyang Jangkung Jaya Diningrat, Saung Eyang Surya Kencana, Saung Eyang Jaya Laksana, Saung Kasepuhan, dan Saung Tajug Inalillahi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski belum ada papan nama resmi yang terpasang di setiap saung, penamaan tersebut telah hidup dalam ingatan warga dan menjadi bagian dari tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun.
Tidak hanya itu, Gunung Sadakeling sendiri diyakini menyimpan aura mistis yang kental. Asal-usul namanya konon berasal dari kisah Ki Sadakeling, seorang jawara terkenal yang dipercaya merupakan salah satu julukan bagi Eyang Prabu Siliwangi, tokoh legendaris dalam sejarah Tatar Sunda. Kepercayaan ini membuat gunung tersebut menjadi salah satu pusat cerita rakyat yang memikat bagi pencinta sejarah dan budaya lokal.
Perbincangan yang hangat antara Irvan, Ki Maung, dan Deris Maharani berlangsung hingga larut malam. Tanpa terasa, jarum jam telah menunjuk pukul 01.30 WIB dini hari. Pertemuan itu pun diakhiri dengan doa bersama, memohon perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, kesehatan lahir dan batin, serta kelimpahan rahmat dan berkah.
Ki Maung dan Deris Maharani berharap agar pemerintah daerah maupun pusat dapat memberikan perhatian serius terhadap potensi wisata religi ini. Menurut mereka, pengelolaan yang baik tidak hanya akan menjaga kelestarian sejarah dan budaya, tetapi juga mampu mengangkat nama daerah serta meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.
“Tempat ini bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga sarana untuk belajar sejarah, memperkuat keyakinan diri, dan mempertebal keimanan kepada Sang Pemilik Segala Kehidupan,” ujar Ki Maung.
Dengan kekayaan sejarah, nilai religi, dan keindahan alamnya, Tujuh Saung Keramat Cibatu Agung dan Gunung Sadakeling berpotensi menjadi magnet wisata yang mendunia, sekaligus menjadi warisan budaya yang patut dilestarikan untuk generasi mendatang.
(Cep Toto)














