SUARARAKYAT || TULUNGAGUNG – Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan terus menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk kalangan perguruan tinggi. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung Posko Desa Jeli menggelar kegiatan edukasi pencegahan bullying yang dikemas melalui pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Kepramukaan di Gugus Depan (Gudep) MIN 2 Tulungagung.
Kegiatan yang diprakarsai oleh Divisi Gender, Anak, dan Disabilitas KKN UIN SATU Desa Jeli tersebut menjadi salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada pembentukan karakter anak sejak usia dini. Melalui pendekatan edukatif yang interaktif, para mahasiswa mengajak peserta didik memahami berbagai bentuk perundungan, dampaknya terhadap korban, serta pentingnya membangun budaya saling menghargai di lingkungan sekolah.Minggu (25/7/2026)
Materi disampaikan dengan metode yang menyenangkan melalui permainan edukatif, diskusi kelompok, simulasi, hingga aktivitas khas kepramukaan. Dengan cara tersebut, para anggota Pramuka Siaga dan Penggalang tidak hanya memperoleh pemahaman secara teori, tetapi juga diajak mempraktikkan nilai-nilai kebersamaan, empati, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Anggota Divisi Gender, Anak, dan Disabilitas KKN UIN SATU Desa Jeli, Gading Haryo Bismoko, menjelaskan bahwa pendidikan karakter akan lebih mudah diterima anak-anak apabila disampaikan melalui kegiatan yang telah mereka kenal dan sukai, salah satunya melalui latihan Pramuka.
“Pramuka memiliki landasan moral yang sangat kuat melalui Trisatya dan Dasa Darma. Pada Dasa Darma kedua, yaitu Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia, sudah sangat jelas bahwa perilaku bullying tidak memiliki tempat dalam kehidupan seorang Pramuka. Pramuka sejati adalah pribadi yang melindungi, menghargai, dan membantu sesama, bukan menyakiti atau merendahkan orang lain,” ujar Gading.
Ia menambahkan bahwa bullying bukan hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga dapat berupa ejekan, penghinaan, pengucilan, hingga tindakan yang membuat seseorang kehilangan rasa percaya diri. Karena itu, anak-anak perlu dibekali pemahaman sejak dini agar mampu mengenali, menolak, sekaligus berani melaporkan apabila melihat ataupun mengalami tindakan perundungan.
Selama kegiatan berlangsung, suasana terlihat penuh antusias. Para peserta aktif mengikuti setiap sesi yang diberikan. Dalam berbagai permainan kelompok, siswa diajak membangun kerja sama, belajar menghargai pendapat teman, serta menumbuhkan rasa saling percaya tanpa membedakan latar belakang maupun kemampuan masing-masing.
Momentum latihan Pramuka juga dimanfaatkan sebagai sarana mempererat rasa persaudaraan antarsiswa. Nilai kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas Gerakan Pramuka diperkuat kembali melalui aktivitas yang menanamkan sikap saling menghormati, gotong royong, toleransi, serta kepedulian terhadap sesama.
Melalui dinamika regu, para peserta diajak memahami bahwa keberhasilan sebuah kelompok hanya dapat dicapai apabila seluruh anggotanya saling mendukung, bukan saling merendahkan. Pesan tersebut menjadi inti dari pendidikan karakter yang ingin ditanamkan oleh mahasiswa KKN kepada para siswa MIN 2 Tulungagung.
Pihak Gugus Depan MIN 2 Tulungagung menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurut mereka, penyelarasan materi pencegahan bullying dengan Kode Kehormatan Pramuka merupakan pendekatan yang sangat relevan dalam membentuk karakter peserta didik yang berakhlak, berempati, serta mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan.
Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa program KKN tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik maupun pemberdayaan masyarakat, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan karakter. Mahasiswa hadir sebagai mitra sekolah dalam memberikan edukasi yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan anak-anak.
Dengan terselenggaranya kegiatan tersebut, diharapkan semangat anti-bullying dapat terus tumbuh di lingkungan sekolah. Nilai-nilai luhur Kepramukaan seperti persaudaraan, kepedulian, tanggung jawab, disiplin, serta kasih sayang terhadap sesama diharapkan menjadi benteng moral bagi peserta didik dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di era modern.
Melalui sinergi antara dunia pendidikan, perguruan tinggi, dan Gerakan Pramuka, diharapkan dapat tercipta generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, berintegritas, menghargai keberagaman, serta mampu menjadi pelopor dalam mewujudkan sekolah yang ramah anak, inklusif, dan bebas dari segala bentuk perundungan.
Penulis : Gading
Editor : Redaksi
Sumber Berita: SUARARAKYAT.info














