Penetapan Tersangka Proyek Bandara Rahadi Usman Dipertanyakan, Akademisi: Hukum Jangan Diseret Jadi Alat Represif

- Penulis

Rabu, 18 Juni 2025 - 23:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Kalbar-penetapan enam orang tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat (Kejati Kalbar) terkait dugaan korupsi dalam proyek pengembangan Bandara Rahadi Usman di Kabupaten Ketapang menuai kritik keras dari kalangan akademisi.

Pengamat hukum dan kebijakan publik Kalimantan Barat, Dr. Herman Hofi Munawar, menilai langkah Kejati Kalbar dalam menangani kasus ini harus dikaji ulang secara hati-hati dan tidak boleh mengabaikan prinsip-prinsip dasar hukum yang adil dan proporsional.

“Penegakan hukum bukan sekadar semangat mengejar pelaku, tapi harus berbasis presisi dan keadilan. Jika salah penerapan hukum, kita bisa menghadapi kecelakaan yuridis yang berujung pada ketidakadilan,” kata Herman dalam keterangan tertulis yang diterima media, Rabu, 18 Juni 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut informasi yang beredar, kerugian negara dalam proyek tersebut ditaksir lebih dari Rp8 miliar, yang disebut berasal dari pelaksanaan pekerjaan yang dianggap tidak sesuai kontrak, baik dari segi volume maupun spesifikasi teknis. Kejati Kalbar pun mengenakan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Tipikor jo Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU No. 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 KUHP kepada para tersangka.

Namun Herman berpendapat bahwa ketidaksesuaian antara pelaksanaan pekerjaan dan kontrak bukan serta merta masuk ke ranah pidana. Ia menyatakan, hal ini lebih tepat dikategorikan sebagai pelanggaran kontraktual atau wanprestasi, yang seyogianya ditangani melalui jalur perdata.

READ  HPN 2026 Jadi Momentum Peneguhan Pers Konstitusional, Prof Sutan Nasomal Tegaskan Jurnalisme Harus Tegak Lurus pada Hukum

“Kalau memang volume dan spesifikasi teknis tidak sesuai adendum kontrak, maka penyelesaiannya melalui ganti rugi sebagaimana diatur dalam Pasal 1243 KUHPerdata. Mengapa dipaksakan masuk ke ranah pidana korupsi?” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa hukum pidana seharusnya menjadi ultimum remedium, yakni jalan terakhir apabila upaya perdata atau administratif tidak mampu menyelesaikan masalah.

“Jika setiap sengketa pengadaan barang dan jasa (PBJ) langsung ditarik ke pidana, kita akan mengabaikan keseluruhan mekanisme lex specialis yang justru sudah diatur dalam regulasi PBJ itu sendiri. Ini menciptakan ketakutan bagi kontraktor, ketidakpastian bagi birokrasi, dan akhirnya menghambat pembangunan,” ujar Herman.

Lebih jauh, Herman mendorong agar kepala daerah di Kalimantan Barat turut menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi ini kepada Kejaksaan Agung dan Kepolisian RI.

“Ketidakjelasan arah penegakan hukum dalam dunia konstruksi dan PBJ harus segera diklarifikasi. Kalau tidak, kita akan terus menghadapi kontraktor yang enggan bekerja, proyek mangkrak, dan stagnasi pembangunan,” pungkasnya.

 

Sumber: Dr. Herman Hofi Munawar, Pengamat Hukum dan Kebijakan Publik Kalimantan Barat

(Jn//98)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peresmian Kantor Advokat Ikhwan, S.H. & Partners serta DPD LBH CCI Meranti, Siap Berikan Pendampingan Hukum bagi Masyarakat
Jelang Operasi Patuh Dofior 2026, Polda Papua Barat Daya Ajak Masyarakat Tertib Berlalu Lintas
Abang Ijo Wakil Bupati Purwakarta Menyerahkan Kuasa Penuh atas perkara Kasus perdata Rp. 35 Miliar ‎
Sepihak Pasang Tanda Jual Cepat, Oknum Pegawai Bank BRI Diduga Intimidasi Nasabah.
Dugaan Romance Scam Rp500 Juta di Sukabumi Memanas, Korban Klaim Dikriminalisasi Setelah Tempuh Jalur Hukum
Dr. Dhifla Wiyani Sampaikan Badan Hukum Menjadi Subyek Hukum didalam Tindak Pidana Korporasi di Seminar Hukum Bersama PT Adhi Karya
Oknum Polisi Diduga Terlibat Illegal Logging, Ujian Integritas Institusi di Humbang Hasundutan, Begini Tanggapan Pengamat Hukum
Diduga Cemarkan Nama Baik Bupati Kepulauan, Pemilik Akun “Sasa Rasa Mak” Dilaporkan ke Polisi
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 03:12 WIB

Peresmian Kantor Advokat Ikhwan, S.H. & Partners serta DPD LBH CCI Meranti, Siap Berikan Pendampingan Hukum bagi Masyarakat

Jumat, 5 Juni 2026 - 06:37 WIB

Jelang Operasi Patuh Dofior 2026, Polda Papua Barat Daya Ajak Masyarakat Tertib Berlalu Lintas

Sabtu, 23 Mei 2026 - 04:43 WIB

Abang Ijo Wakil Bupati Purwakarta Menyerahkan Kuasa Penuh atas perkara Kasus perdata Rp. 35 Miliar ‎

Rabu, 20 Mei 2026 - 06:05 WIB

Sepihak Pasang Tanda Jual Cepat, Oknum Pegawai Bank BRI Diduga Intimidasi Nasabah.

Sabtu, 9 Mei 2026 - 16:05 WIB

Dugaan Romance Scam Rp500 Juta di Sukabumi Memanas, Korban Klaim Dikriminalisasi Setelah Tempuh Jalur Hukum

Berita Terbaru