Merakyat Tapi Palsu: Ketika Gaya Kepemimpinan Menyembunyikan Wajah Asli Kekuasaan

- Penulis

Senin, 12 Mei 2025 - 10:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk panggung politik nasional, narasi “pemimpin merakyat” kembali dijual dengan murah dalam baliho-baliho dan kampanye media sosial. Mulai dari blusukan ke pasar tradisional hingga makan di warung pinggir jalan, citra kesederhanaan dijadikan alat untuk meraih simpati publik. Namun, pertanyaannya: apakah kedekatan ini sungguh mencerminkan substansi demokrasi, atau hanya kemasan populis yang menutupi watak otoriter kekuasaan?

Fenomena ini bukan hal baru. Menurut Marcus Mietzner (2015) dalam studinya tentang populisme di Indonesia, gaya “merakyat” sering digunakan sebagai alat mobilisasi politik, tetapi kerap tidak diiringi oleh komitmen terhadap prinsip-prinsip demokrasi deliberatif dan akuntabilitas. Alih-alih memperkuat partisipasi publik, gaya ini justru bisa mereduksi rakyat menjadi sekadar penonton dalam proses politik.

Contoh nyata bisa dilihat dalam pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja pada 2020 yang diprotes luas oleh masyarakat sipil karena dinilai minim partisipasi dan transparansi. Di saat yang sama, figur-figur pemimpin yang mengklaim diri “dekat dengan rakyat” justru bersikap defensif dan antikritik. Lembaga seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan KontraS menyoroti kecenderungan represi terhadap aktivis dan pelajar yang mengkritik UU tersebut (Komnas HAM, 2021).

Pengamat politik dari Universitas Nasional, Dr. Irwan Sihombing, menegaskan bahwa pemimpin merakyat sejati tidak cukup ditentukan dari seberapa sering mereka turun ke pasar atau menyapa warga lewat media sosial. “Esensi demokrasi adalah pelibatan rakyat dalam pengambilan keputusan dan keberanian menerima kritik. Tanpa itu, semua pencitraan hanyalah topeng kekuasaan,” ujarnya dalam diskusi publik “Demokrasi dan Populisme” (Jakarta, 2023).

Lebih lanjut, laporan International IDEA (2022) menyebutkan bahwa Indonesia mengalami regresi demokrasi akibat konsentrasi kekuasaan eksekutif dan lemahnya peran oposisi. Ini menjadi indikasi bahwa gaya merakyat sering kali tidak berbanding lurus dengan konsistensi kebijakan yang pro-rakyat.

Demokrasi sejati tidak lahir dari pencitraan, tetapi dari keberanian membuka ruang dialog, memperkuat institusi, dan memastikan kebijakan berpihak pada rakyat, bukan oligarki. Jika gaya merakyat hanya menjadi strategi pemasaran politik, maka yang lahir adalah demokrasi semu—di mana rakyat hanya dijadikan latar belakang dalam drama kekuasaan.

Kini saatnya publik lebih kritis terhadap gaya kepemimpinan populis. Pemimpin sejati bukan yang tampil sederhana, tetapi yang mengabdi secara substansial melalui kebijakan yang adil, transparan, dan partisipatif.

(Red)

Referensi:
1. Mietzner, M. (2015). Reinventing Asian Populism: Jokowi’s Rise, Democracy, and Political Contestation in Indonesia. East-West Center
2. Komnas HAM. (2021). Laporan Tahunan Pelanggaran Hak Sipil dan Politik. Jakarta.
3. International IDEA. (2022). The Global State of Democracy Report: Forging Social Contracts in a Time of Discontent.
4. Diskusi Publik “Demokrasi dan Populisme”, Universitas Nasional, 2023.

READ  JOURNALISTICIDE: Teror Global Terhadap Kebebasan Pers? 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prajurit Menyusup Lumpur, Menyelamatkan Bangsa:TNI Semangat Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatra 2025
Yakub F Ismail: Kala Solidaritas Menembus Tapal Batas
Wilson Lalengke: Mangkir terhadap Panggilan Pengadilan, Paspampres Harus Ditarik dari Kesatuan Pengawal Jokowi
Sumatera Dalam Amukan: Ketika Deforestasi Berbuah Bencana Kemanusiaan
Menuntut Terang-Benderang di Kasus Kematian Nelita Saragih Sebuah Luka 12 Tahun yang Belum Sembuh
Pakar Hukum M Jaya,Vonis Eks Dirut ASDP: Benturan Business Judgment dan Hukum Pidana Jadi Alarm Serius Tata Kelola BUMN
Aceng Syamsul Hadie: Polri Seharusnya Jadi Pengawal, Bukan Pengelola Dalam Program MBG
Lensa Kesadaran: Warga Desa Cijengkol Gerakkan Kampanye Fotografi Lawan Sampah Plastik
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 6 Desember 2025 - 10:51 WIB

Prajurit Menyusup Lumpur, Menyelamatkan Bangsa:TNI Semangat Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatra 2025

Sabtu, 6 Desember 2025 - 00:30 WIB

Yakub F Ismail: Kala Solidaritas Menembus Tapal Batas

Jumat, 5 Desember 2025 - 11:53 WIB

Wilson Lalengke: Mangkir terhadap Panggilan Pengadilan, Paspampres Harus Ditarik dari Kesatuan Pengawal Jokowi

Selasa, 2 Desember 2025 - 11:08 WIB

Sumatera Dalam Amukan: Ketika Deforestasi Berbuah Bencana Kemanusiaan

Selasa, 25 November 2025 - 04:47 WIB

Menuntut Terang-Benderang di Kasus Kematian Nelita Saragih Sebuah Luka 12 Tahun yang Belum Sembuh

Berita Terbaru