Kartini dan “Si Tou Timou Tumou Tou”: Seruan Bersama Menyalakan Terang Kemanusiaan

- Penulis

Kamis, 30 April 2026 - 02:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info | MANADO – Peringatan Hari Kartini pada 21 April 2026 tidak sekadar menjadi agenda tahunan yang sarat seremoni. Di tangan para pemikir dan tokoh masyarakat, momentum ini kembali dimaknai sebagai refleksi mendalam tentang arah perjuangan bangsa. Salah satunya disampaikan oleh tokoh masyarakat Minahasa, Dr. Charles P.N. Rembang, yang mengaitkan semangat emansipasi Raden Ajeng Kartini dengan filosofi luhur Minahasa, “Si Tou Timou Tumou Tou.”

Dalam pandangannya, semboyan legendaris Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang,” bukan sekadar ungkapan puitis, melainkan sebuah panggilan moral yang terus relevan lintas zaman. Kalimat tersebut mencerminkan keyakinan bahwa masa depan yang cerah tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diperjuangkan melalui keberanian meninggalkan berbagai bentuk “kegelapan” sosial.

“Kegelapan yang dimaksud bukan hanya soal keterbatasan pendidikan, tetapi juga mencakup kemiskinan struktural, penindasan, keserakahan, hingga diskriminasi yang masih membelenggu masyarakat,” ujar Charles Rembang dalam keterangannya di Manado. Ia menegaskan bahwa perjuangan menuju “terang” menuntut kesadaran kolektif, bukan sekadar usaha individu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di titik inilah, filosofi Minahasa “Si Tou Timou Tumou Tou” menemukan relevansinya. Secara harfiah berarti “manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain,” nilai ini menurutnya menjadi fondasi etik dalam membangun masyarakat yang berkeadilan. Filosofi tersebut menekankan pentingnya solidaritas, gotong royong, dan tanggung jawab sosial sebagai jalan menuju kemajuan bersama.

“Terang tidak akan pernah benar-benar terbit jika manusia masih berjalan sendiri-sendiri. Kita harus saling mengangkat, saling menguatkan, dan memastikan tidak ada yang tertinggal,” tambahnya.

Lebih lanjut, Charles Rembang juga menyoroti peran perempuan dalam menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam praktik nyata. Ia menilai bahwa perempuan Indonesia, khususnya di Sulawesi Utara, telah menunjukkan kapasitasnya sebagai agen perubahan yang tidak hanya memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat.

READ  Peringati Hari Kartini, Kompolnas: Kesamaan Pandangan Modal Utama Cegah Kekerasan Berbasis Gender

Salah satu figur yang ia sebut adalah Maya Rumantir, yang dinilai mampu merepresentasikan semangat Kartini dalam konteks kekinian. Kepercayaan publik terhadap kepemimpinan perempuan, menurutnya, menjadi indikator bahwa nilai emansipasi telah berkembang menjadi kekuatan sosial yang nyata.

“Perempuan hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang kesetaraan, tetapi juga tentang kontribusi nyata dalam pembangunan, pencerahan, dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika Kartini di masa lalu telah menyalakan api perjuangan emansipasi, maka filosofi “Si Tou Timou Tumou Tou” berperan sebagai penjaga nyala api tersebut agar tetap hidup dan berkembang dalam kehidupan sosial. Kombinasi keduanya menjadi kekuatan moral yang mampu menuntun bangsa keluar dari berbagai krisis kemanusiaan.

Peringatan Hari Kartini, lanjutnya, semestinya tidak berhenti pada kegiatan simbolik seperti upacara atau seremoni budaya. Lebih dari itu, diperlukan komitmen nyata dalam mengimplementasikan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan solidaritas dalam kehidupan sehari-hari.

“Memaknai Kartini hari ini adalah tentang bagaimana kita benar-benar memanusiakan manusia. Itu inti dari perjuangan yang harus terus kita lanjutkan,” tegasnya.

Dengan demikian, refleksi atas semangat Kartini yang dipadukan dengan kearifan lokal Minahasa menghadirkan pesan kuat: bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi atau ekonomi, tetapi juga oleh sejauh mana nilai kemanusiaan dijunjung tinggi.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, sinergi antara warisan pemikiran Kartini dan filosofi “Si Tou Timou Tumou Tou” menjadi pengingat bahwa terang sejati hanya akan lahir dari keberanian untuk peduli, berbagi, dan membangun sesama.

Penulis : Franky Lambogia

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Suararakyat.info

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Di Tengah Himpitan Ekonomi, Dugaan Korban Akibat Biaya Pendidikan Mengguncang Kesadaran Publik
Hari Anak Nasional 2026: Saatnya Menghadirkan “Sacred Time”, Bukan Sekadar Membatasi Screen Time
Meranti Menanti Keadilan Anggaran, Saatnya Wakil Riau Bersatu Mengawal RUU Daerah Kepulauan
Yakub F Ismail : Berantas Korupsi, Wujudkan Visi Prabowo
Ketika Hormuz Bergetar, Indo-Pasifik Berguncang: Bayang Bayang Perang Iran-AS/Israel dan Ujian Nyata Bagi ASEAN Serta Indonesia
Yakub F Ismail : Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia
Dari Depresi Berat Menuju Kepemimpinan Nasional: Transformasi Donny Andretti dan Lahirnya Berbagai Organisasi di Indonesia
Koruptor Hidup Mewah, Rakyat Mati Lapar: Saatnya Hukuman Mati dan Perampasan Aset
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 00:39 WIB

Di Tengah Himpitan Ekonomi, Dugaan Korban Akibat Biaya Pendidikan Mengguncang Kesadaran Publik

Minggu, 26 Juli 2026 - 23:20 WIB

Hari Anak Nasional 2026: Saatnya Menghadirkan “Sacred Time”, Bukan Sekadar Membatasi Screen Time

Senin, 13 Juli 2026 - 11:34 WIB

Meranti Menanti Keadilan Anggaran, Saatnya Wakil Riau Bersatu Mengawal RUU Daerah Kepulauan

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:46 WIB

Yakub F Ismail : Berantas Korupsi, Wujudkan Visi Prabowo

Kamis, 30 April 2026 - 02:46 WIB

Kartini dan “Si Tou Timou Tumou Tou”: Seruan Bersama Menyalakan Terang Kemanusiaan

Berita Terbaru