Suararakyat.info.Jakarta-Menteri Pendidikan Tinggi Sains Teknologi (Mendiktisaintek) telah mengeluarkan Keputusan Menteri no 63/2025 yang mengatur tentang petunjuk teknis layanan pembinaan dan pengembangan profesi dan karir dosen untuk keadilan dan efektivitas dalam pengembangan karir dosen hingga akhir 2025 sambil melakukan evaluasi terhadap Permendikbud no 44/2024.
Menurut Prof Sumaryoto bicara tentang pengembangan karir dosen sejak dulu sudah ada aturannya cuma sejak era digital belum sepenuhnya diperbaiki. Namun sekarang sudah serba sistemik/online termasuk pengembangan karir itu sendiri, sehingga perlu ada revisi regulasi yang menyeluruh.
“Terkait perubahan Permendikbud No 44/2024 pasti ada hal yang perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi dilapangan.Kita perlu pahami bahwa dosen ada yang ASN/non ASN pasti akan beda baik regulasi tentang penghasilan maupun karir Dosen. Itulah sebabnya, perlu ada aturan-aturan yang membingkai/menampung kepentingan-kepentingan yang berbeda, sehingga tidak ada kesenjangan antara dosen ASN/non ASN,”ujar Prof Sumaryoto Rektor Unindra kepada SUARARAKYAT.INFO, di Jakarta, Jumat (14/03/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dikatakan Prof Sumaryoto terkait karir dosen dalam Permen No 44 cenderung diserahkan ke perguruan tinggi. Namun kenyataannya, kondisi perguruan tinggi berbeda-beda, ada yang sudah mapan dengan jumlah guru besar relatif banyak. Jadi bagi yang sudah mapan , dengan regulasi itu otomatis tidak ada kesulitan. Namun sebaliknya bagi PT yang belum mapan akan mengalami kesulitan dalam pengembangan karir Dosen .
“Intinya harus memperhatikan kondisi lapangan sehingga peraturan itu betul-betul bisa dilaksanakan tanpa harus mengorbankan,”urainya.
Diharapkan untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi swasta tambah Prof Sumaryoto harus ada subsidi seperti BOS/sekolah karena secara tidak langsung Unindra sudah membantu pemerintah menghasilkan guru-guru berkualifikasi sarjana.
“Saya berharap ada bantuan subsidi dari pemerintah secara selektif., karena kondisi PTS sangat beragam, ada yang sangat mapan , mapan dan kurang mapan. Jadi memang realita nya seperti itu,”tandasnya.
(s handoko)














