SUARARAKYAT.info || TASIKMALAYA— Di tengah derasnya arus modernisasi yang kian menggerus nilai-nilai tradisional, terdapat sebuah kampung adat yang tetap teguh menjaga warisan leluhur tanpa terpengaruh zaman. Kampung tersebut adalah Kampung Naga, sebuah perkampungan adat yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.
Kampung Naga dikenal sebagai simbol kearifan lokal masyarakat Sunda yang masih bertahan hingga kini. Dengan luas wilayah sekitar 1,5 hektare, kampung ini dihuni oleh 102 kepala keluarga dengan total penduduk mencapai 287 jiwa. Terdapat 109 bangunan di kawasan ini, termasuk rumah warga dan fasilitas umum seperti masjid, balai kampung, serta lumbung padi yang menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat.
Mayoritas warga Kampung Naga menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan sebagian lainnya berwirausaha secara sederhana. Kehidupan mereka berjalan selaras dengan alam, memegang teguh prinsip kesederhanaan dan keseimbangan lingkungan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu hal yang menarik dari Kampung Naga adalah kuatnya aturan adat yang masih dijaga secara turun-temurun. Masyarakat setempat meyakini adanya larangan tertentu, salah satunya adalah pantangan membicarakan asal-usul kampung dan adat istiadat pada hari Selasa, Rabu, dan Sabtu. Kepercayaan ini menjadi bagian dari nilai sakral yang dihormati bersama.
Selain itu, masyarakat Kampung Naga sangat menjunjung tinggi sosok leluhur mereka, yakni Eyang Sembah Singaparna yang dipercaya sebagai cikal bakal berdirinya kampung tersebut. Penghormatan terhadap leluhur ini diwujudkan dalam berbagai ritual adat dan pola kehidupan sehari-hari yang tetap berlandaskan tradisi.
Dari sisi arsitektur, Kampung Naga memiliki ciri khas yang sangat unik dan berbeda dari pemukiman modern. Seluruh rumah dibangun dengan bentuk yang seragam, memanjang, dan tertata rapi menghadap ke dua arah, yakni utara dan selatan. Rumah-rumah tersebut berbentuk persegi panjang dengan konstruksi tradisional, menggunakan bahan-bahan alami seperti bambu.
Lantai rumah terbuat dari palupuh (anyaman bambu), dinding menggunakan bilik bambu dengan teknik anyaman sasag, serta pondasi dari batu alam. Atap rumah umumnya berbahan ijuk atau rumbia, yang semakin memperkuat kesan alami dan ramah lingkungan.
Keteraturan tata ruang dan keseragaman bentuk bangunan bukan sekadar estetika, melainkan mencerminkan filosofi hidup masyarakat Kampung Naga yang menjunjung tinggi kesederhanaan, kebersamaan, dan keharmonisan dengan alam.
Dalam kesempatan terpisah, salah satu aparat yang turut mengamati kehidupan sosial masyarakat setempat, Kopka Irvan Setiawan, menyampaikan pandangannya terkait keberadaan Kampung Naga.
“Kampung Naga bukan hanya sekadar kampung adat, tetapi juga benteng terakhir nilai-nilai budaya yang masih dijaga secara konsisten. Di tengah modernisasi, masyarakat di sini mampu mempertahankan identitasnya tanpa kehilangan jati diri. Ini menjadi contoh penting bagi generasi muda agar tidak melupakan akar budaya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa sinergi antara masyarakat adat dan pemerintah perlu terus diperkuat agar keberadaan Kampung Naga tetap lestari tanpa harus mengorbankan nilai-nilai yang sudah diwariskan secara turun-temurun.
Keberadaan Kampung Naga tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat lokal, tetapi juga menjadi destinasi wisata budaya yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Banyak pengunjung datang untuk belajar tentang kehidupan adat yang masih asli, sekaligus merasakan suasana tenang yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Di tengah dunia yang terus berubah, Kampung Naga berdiri sebagai pengingat bahwa tradisi dan nilai-nilai leluhur tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan manusia. Ia bukan sekadar kampung adat, melainkan cermin dari identitas budaya yang terus hidup dan dijaga dengan penuh kesadaran.
Penulis : Irv
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Suararakyat.info














