SUARARAKYAT.info|| Kendal- Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode X Universitas Ivet Semarang di Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, resmi berakhir. Sebanyak 13 mahasiswa ditarik dari lokasi pengabdian setelah lebih dari satu bulan menjalankan rangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat yang mengusung tema besar “Pemberdayaan Masyarakat melalui Program Circular Economy untuk Mendukung SDGs dan Mewujudkan Kampus Berdampak.”
Kegiatan yang dimulai sejak 7 Januari 2026 tersebut menjadi bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Selama berada di Desa Meteseh, para mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga membangun kolaborasi aktif dengan pemerintah desa, kelompok masyarakat, serta pelajar dalam upaya mendorong kesadaran dan praktik ekonomi sirkular di tingkat desa.Rabu (12/2/2026)
Fokus utama program KKN X ini adalah penerapan konsep circular economy atau ekonomi sirkular, yakni sistem pengelolaan sumber daya yang menekankan pengurangan limbah, penggunaan kembali, dan daur ulang untuk menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejumlah kegiatan konkret telah dilaksanakan, di antaranya edukasi pengelolaan sampah terpadu secara terstruktur, pelatihan pembuatan kompos dari limbah organik tanpa aroma, hingga pemanfaatan barang bekas menjadi produk kerajinan bernilai guna dan ekonomis. Mahasiswa juga mengadakan literasi lingkungan bagi pelajar sekolah dasar dan menengah sebagai upaya membangun kesadaran sejak dini terhadap pentingnya menjaga ekosistem.
Tak hanya itu, pendekatan partisipatif turut menjadi metode utama dalam pelaksanaan program. Mahasiswa memfasilitasi kerja bakti kawasan bersih di beberapa RT, serta menggelar diskusi kelompok terarah (FGD) bersama warga untuk memetakan potensi ekonomi berbasis lingkungan yang dapat dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.
Balai Desa Meteseh menjadi pusat koordinasi sekaligus ruang interaksi antara mahasiswa dan warga. Sementara kegiatan lapangan difokuskan di sejumlah titik permukiman yang dinilai memiliki potensi pengembangan sistem daur ulang dan pengurangan limbah rumah tangga.
Pemerintah Desa Meteseh menyambut baik kehadiran mahasiswa KKN Universitas Ivet. Program yang dijalankan dinilai sejalan dengan arah pembangunan desa yang semakin menekankan aspek keberlanjutan dan kepedulian lingkungan.
Kepala Desa Meteseh, Sisyanto, S.Sos., menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa dalam memperkuat kesadaran kolektif masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan. Menurutnya, sejumlah inisiatif yang telah diperkenalkan membuka peluang baru bagi desa untuk mengembangkan program berbasis ekonomi hijau.
“Kami melihat program ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pemerintah desa berkomitmen untuk melanjutkan beberapa kegiatan yang terbukti bermanfaat dan memungkinkan untuk dijalankan secara mandiri oleh warga,” ujarnya.
Komitmen tersebut diharapkan menjadi pijakan awal bagi terbentuknya sistem pengelolaan lingkungan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan di Desa Meteseh.
Sebelum penarikan resmi dilakukan, tim mahasiswa menyusun laporan evaluasi komprehensif yang memuat capaian program, pemetaan dampak, serta rekomendasi keberlanjutan. Evaluasi tersebut mencakup tingkat partisipasi masyarakat, efektivitas pelatihan, serta peluang pengembangan program circular economy sebagai agenda jangka panjang desa.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Drs. Tri Leksono Prihandoko, S.Kom., M.Pd., Kons., menilai mahasiswa telah menunjukkan kinerja yang positif dan profesional selama menjalankan tugas pengabdian.
“Mahasiswa mampu mengedepankan kolaborasi, mengintegrasikan keilmuan dengan kebutuhan riil masyarakat, serta memahami konteks sosial desa. Tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan program agar tidak berhenti setelah masa KKN selesai,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya pembentukan dan penguatan kader lingkungan dari unsur masyarakat sebagai motor penggerak keberlanjutan program.
Universitas Ivet Semarang menilai keberhasilan KKN tidak semata-mata diukur dari banyaknya program yang terlaksana, tetapi juga dari dampak sosial yang ditinggalkan, termasuk perubahan pola pikir dan tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sumber daya secara bijak.
Bagi mahasiswa, pengalaman KKN menjadi ruang pembelajaran kontekstual yang memperkaya kompetensi sosial, kepemimpinan, serta kemampuan problem solving di tengah dinamika masyarakat. Interaksi langsung dengan warga memberikan pemahaman nyata mengenai tantangan pembangunan desa sekaligus potensi yang dapat dikembangkan secara kolaboratif.
Dengan berakhirnya kegiatan KKN X di Desa Meteseh, mahasiswa kembali ke kampus untuk melanjutkan proses akademik. Sementara itu, dokumentasi kegiatan penarikan serta seluruh rangkaian program telah disiapkan sebagai arsip dan bahan publikasi lanjutan bagi universitas maupun pemerintah desa.
Penarikan ini bukan sekadar penutupan agenda pengabdian, melainkan menjadi titik awal bagi tumbuhnya praktik keberlanjutan yang lebih konsisten di Desa Meteseh. Sinergi antara perguruan tinggi dan desa diharapkan terus terjalin sebagai bagian dari kontribusi nyata dunia akademik dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals () di tingkat lokal.
Penulis : Sukindar
Editor : Red
Sumber Berita: Suararakyat.info














