SUARARAKYAT.info|| Jakarta — Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Yandri Susanto menegaskan komitmennya untuk mendorong optimalisasi penggunaan dana desa agar semakin berdampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Menurut Mendes Yandri, dana desa bukan hanya sekadar alat pembangunan infrastruktur, tetapi juga instrumen strategis untuk memperkuat kapasitas ekonomi rakyat di akar rumput. Karena itu, pemerintah melalui Kemendes PDTT terus mengarahkan agar pemanfaatan dana desa fokus pada kegiatan yang produktif dan berkelanjutan.
“Dana desa harus menjadi penggerak utama ekonomi lokal. Kita ingin desa tidak hanya membangun jalan, jembatan, atau fasilitas umum, tetapi juga membangun sumber daya manusianya dan membuka peluang ekonomi baru,” ujar Yandri dalam keterangannya yang dikutip dari laman resmi Kemendesa, Rabu (5/11/2025).
Lebih lanjut, Yandri menjelaskan bahwa optimalisasi dana desa dapat dilakukan melalui berbagai program yang langsung menyentuh masyarakat. Di antaranya ialah bantuan modal usaha bagi pelaku ekonomi kecil, pelatihan keterampilan kerja dan kewirausahaan, penyediaan bibit pertanian serta sarana produksi, hingga pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) sebagai lokomotif ekonomi desa.
Langkah ini, kata Yandri, sejalan dengan program prioritas nasional yang menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat desa sebagai subjek pembangunan. Melalui berbagai bentuk intervensi produktif, diharapkan warga desa dapat memiliki kemampuan lebih besar untuk mengelola potensi lokal dan meningkatkan taraf hidupnya secara mandiri.
“Pemberdayaan ekonomi masyarakat desa adalah kunci agar pembangunan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga berdampak sosial dan ekonomi jangka panjang. Kita ingin setiap individu dan komunitas di desa memiliki kapasitas, akses terhadap sumber daya, dan kesempatan yang sama untuk tumbuh,” tegasnya.
Selain memperkuat BUM Desa, Kemendes PDTT juga terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan sektor swasta. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat penguatan ekosistem ekonomi desa yang inklusif dan berkeadilan.
“Ke depan, desa harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Kalau desa kuat, Indonesia pasti hebat,” tutur Yandri.
Dengan semangat “Bangun Desa, Bangun Indonesia”, program optimalisasi dana desa diharapkan tidak hanya menekan angka kemiskinan, tetapi juga menciptakan masyarakat desa yang lebih produktif, inovatif, dan mandiri secara ekonomi.
(Swd)














