Suararakyat.info.Bandung-Dalam sebuah upaya nyata melestarikan kekayaan hayati Indonesia sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam pelestarian lingkungan, puluhan mahasiswa dari Universitas Nasional (UNAS) Jakarta bersama masyarakat lokal dan komunitas hijau menggelar aksi pengembangan tanaman endemik dan langka di kawasan Malaberes, Gambung, Kabupaten Bandung. Kegiatan ini menjadi bagian dari program kolaboratif yang tak hanya mengedepankan aksi tanam, tetapi juga menumbuhkan semangat edukasi dan kesadaran ekologis secara kolektif.
Bertempat di lahan seluas kurang lebih 3 hektare yang telah mulai digarap sejak tiga bulan lalu, para mahasiswa bersama warga secara gotong royong menanam dan memantau berbagai jenis tanaman yang mulai sulit ditemukan di alam liar. Di antaranya adalah berbagai varietas buah-buahan lokal, rempah-rempah tradisional, dan tanaman langka lain yang menjadi bagian dari warisan hayati Nusantara.
Tidak berhenti pada kegiatan fisik, acara ini juga diisi dengan sesi diskusi interaktif yang membahas pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. Dalam diskusi yang berlangsung hangat di bawah rindangnya pepohonan, para peserta diajak untuk mengenali manfaat ekologis dari setiap jenis tanaman, termasuk jenis-jenis bambu lokal yang memiliki potensi besar sebagai solusi material berkelanjutan dan ramah lingkungan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Bambu adalah salah satu tanaman yang mulai kembali kami perkenalkan dan kembangkan. Selain cepat tumbuh, bambu juga memiliki nilai ekologis dan ekonomis tinggi,” ujar salah satu pegiat komunitas hijau yang menjadi mitra kegiatan.(7/7/2025)
Hingga saat ini, tercatat sudah ada 201 jenis tanaman yang telah ditanam di kawasan tersebut. Yang membanggakan, seluruh kegiatan ini berjalan secara swadaya. Tanpa dukungan dana besar atau sponsor resmi, seluruh kebutuhan kegiatan dipenuhi dari hasil patungan dan semangat gotong royong para peserta serta masyarakat setempat. Hal ini menjadi bukti bahwa inisiatif pelestarian lingkungan tak harus menunggu program besar, tetapi bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama.
Salah satu koordinator dari pihak mahasiswa UNAS menekankan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini bukan semata-mata menanam pohon, tetapi menciptakan ruang belajar alami yang bisa mempererat hubungan manusia dengan alam. “Kami ingin kegiatan ini menjadi tempat di mana kita semua, khususnya generasi muda, bisa belajar mencintai alam, memahami peran kita sebagai penjaga bumi, dan menanamkan nilai-nilai keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Diharapkan, kegiatan ini bisa terus berlanjut sebagai program berkesinambungan dan bahkan direplikasi di wilayah lain yang juga memiliki potensi keanekaragaman hayati. Ke depan, kolaborasi antara kampus, komunitas lokal, dan kelompok lingkungan diharapkan dapat menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tantangan krisis iklim dan kerusakan alam.
Dengan semangat kebersamaan yang terus dijaga, Malaberes di Gambung tak hanya menjadi titik pelestarian tanaman langka, tetapi juga simbol harapan akan masa depan yang lebih hijau dan lestari.
Sumber: Baladpandawa














