Respons Umat Islam Indonesia Terhadap Konflik Iran-Israel

- Penulis

Minggu, 22 Juni 2025 - 05:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suararakyat.info.Jakarta-Pernyataan serangan Iran sebagai “Pelepas Dahaga” secara akurat menangkap kompleksitas dan polarisasi pandangan di kalangan umat Islam Indonesia. Ini bukan isu hitam-putih, dan perpecahan yang terjadi didasari oleh campuran sentimen keagamaan, frustrasi geopolitik, dan kekhawatiran kemanusiaan.

Ini adalah inti dari sentimen kelompok yang mendukung atau setidaknya memaklumi tindakan Iran. Alasan di baliknya sangat kuat secara emosional dan psikologis. Selama berbulan-bulan, umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia, menyaksikan penderitaan luar biasa di Gaza. Harapan besar disematkan pada negara-negara Arab yang kuat secara militer dan ekonomi (seperti Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab) untuk mengambil tindakan nyata. Namun, respons mereka dianggap terlalu lemah, terbatas pada kecaman diplomatik, dan bahkan beberapa dituduh menormalisasi hubungan dengan Israel.

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam kekosongan tindakan dari negara-negara Arab Sunni, serangan langsung Iran terlepas dari hasil militernya dilihat sebagai satu-satunya tindakan perlawanan yang berani dan konkret terhadap Israel oleh sebuah negara Muslim. Bagi kelompok ini, tindakan Iran menjadi simbol bahwa Israel tidak “kebal hukum” dan bisa diserang balik. Inilah yang dimaksud dengan “pelepas dahaga”; sebuah kelegaan psikologis bahwa ada yang berani membalas.

Bagi pendukung pandangan ini, penderitaan rakyat Palestina jauh lebih mendesak daripada perbedaan teologis Sunni-Syiah. Mereka berargumen bahwa dalam menghadapi musuh bersama (dalam persepsi mereka adalah agresi Israel), solidaritas sesama Muslim harus diutamakan.(22/6/2025)

Pandangan Fahmi Huwaidi

Kutipan “Mazhab Pejuang Kemanusiaan vs. Mazhab Apartheid Zionis” dari intelektual Mesir, Fahmi Huwaidi, ini sangat penting karena menawarkan kerangka baru untuk memahami konflik ini, yang beresonansi kuat dengan kelompok pro-perlawanan di Indonesia.

Huwaidi secara cerdas menggeser narasi dari “Sunni vs. Syiah” menjadi “Kemanusiaan vs. Penindasan”. Ini memungkinkan banyak Muslim Sunni di Indonesia untuk mendukung tindakan Iran tanpa merasa mengkhianati identitas mazhab mereka.

READ  Keberadaan Tambang Galian C di Rumpin Ketika Negara Melayani Pengusaha Bukan Rakyat, Ini Kata Pengamat Kebijakan Publik

Dengan membingkainya sebagai perjuangan untuk kemanusiaan, spektrum pendukung menjadi lebih luas. Siapa pun, tanpa memandang agama atau kebangsaan, yang menentang apartheid dan genosida dapat masuk ke dalam “mazhab pejuang kemanusiaan”. Sebaliknya, siapa pun yang mendukung atau diam terhadap tindakan Israel dikelompokkan sebagai pendukung “mazhab apartheid Zionis”.

Kelompok yang Kontra atau Berhati-hati terhadap Tindakan Iran

Di sisi lain, ada sebagian besar umat Islam Indonesia yang bersikap skeptis, khawatir, atau menentang serangan Iran. Kelompok ini sering kali diwakili oleh organisasi Islam besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, serta Pemerintah Indonesia.

Alasan utama adalah pragmatisme. Mereka khawatir serangan Iran akan memicu perang regional yang jauh lebih besar dan destruktif. Perang semacam itu tidak hanya akan menghancurkan kawasan Timur Tengah tetapi juga akan memperburuk kondisi rakyat Palestina. Sikap resmi pemerintah Indonesia dan ormas Islam besar adalah menyerukan de-eskalasi dan menahan diri bagi semua pihak.

Tidak dapat dipungkiri, sentimen anti-Syiah masih ada di sebagian kalangan Muslim Sunni di Indonesia. Mereka memandang Iran dengan curiga, menganggap tindakan Iran bukan murni untuk membela Palestina, melainkan bagian dari agenda geopolitiknya untuk memperluas pengaruh Syiah (hegemoni Persia) di Timur Tengah. Bagi mereka, ini adalah “perang proksi” di mana Palestina hanya dijadikan alasan.

Ada juga kelompok yang Fokus pada Diplomasi dan Solusi Jangka Panjang, mereka percaya bahwa kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Jalan yang paling realistis, menurut mereka, adalah melalui tekanan diplomatik internasional, bantuan kemanusiaan, dan terus memperjuangkan solusi dua negara (two-state solution) yang adil bagi Palestina.

 

Penulis:Aceng Syamsul Hadie,S.Sos.,MM.Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional).

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Yakub F Ismail : Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia
Dari Depresi Berat Menuju Kepemimpinan Nasional: Transformasi Donny Andretti dan Lahirnya Berbagai Organisasi di Indonesia
Koruptor Hidup Mewah, Rakyat Mati Lapar: Saatnya Hukuman Mati dan Perampasan Aset
Para Serigala Penipu Berkedok Investasi yang Bersembunyi di Balik Korporasi Kini Dapat Dilibas dan Dimintai Pertanggungjawaban Pidana
Korupsi Tidak Pernah Berhenti, Indonesia Darurat Korupsi
Menutup Pintu Impunitas, Membuka Jalan Keadilan bagi Pers
Prof Dr Sutan Nasomal : Presiden RI harus Waspada Reaksi Alam Sampai Bencana Hujan Mikroplastik Indonesia
Yakub F Ismail: Membaca Mens Rea: Komedi dan Kritik Sosial
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 14:54 WIB

Yakub F Ismail : Tekanan Ganda Ekonomi Indonesia

Minggu, 15 Februari 2026 - 01:33 WIB

Dari Depresi Berat Menuju Kepemimpinan Nasional: Transformasi Donny Andretti dan Lahirnya Berbagai Organisasi di Indonesia

Rabu, 11 Februari 2026 - 05:14 WIB

Koruptor Hidup Mewah, Rakyat Mati Lapar: Saatnya Hukuman Mati dan Perampasan Aset

Selasa, 10 Februari 2026 - 08:58 WIB

Para Serigala Penipu Berkedok Investasi yang Bersembunyi di Balik Korporasi Kini Dapat Dilibas dan Dimintai Pertanggungjawaban Pidana

Jumat, 6 Februari 2026 - 06:46 WIB

Korupsi Tidak Pernah Berhenti, Indonesia Darurat Korupsi

Berita Terbaru