Suararakyat.info.Sukabumi- Di sudut sunyi Kampung Rawa, RT 05 RW 06, Desa Bantargadung, Sukabumi, hidup seorang pria sederhana bernama Syarifudin. Namun, warga sekitar lebih akrab menyapanya dengan nama panggilan: Ajag. Nama itu mungkin terdengar biasa saja bagi orang luar, namun di mata masyarakat desa, Ajag adalah lambang kegigihan dan keikhlasan seorang ayah yang tak pernah menyerah pada keadaan.
Selama sembilan tahun terakhir, Ajag menjalani hidupnya sebagai penjual cilok keliling makanan berbahan dasar aci singkong yang kenyal dan gurih, digemari anak-anak hingga orang dewasa. Tapi, berbeda dari kebanyakan pedagang sejenis, Ajag bukan hanya menjual; ia memproduksi sendiri semua cilok yang ia jajakan. Di dapur kecil rumahnya yang berdinding bilik, ia menggiling singkong mentah, menyaring pati, mencampur bumbu, membentuk bulatan-bulatan kecil, hingga akhirnya mengukus dan menyiapkannya dalam wadah sederhana untuk dijajakan.
Setiap pagi sebelum fajar menyingsing, Ajag sudah bangun. Sementara sebagian besar orang masih terlelap dalam mimpi, tangannya sudah sibuk bekerja. Dapur sederhana dengan pencahayaan remang menjadi saksi bisu perjuangannya yang sunyi. Ia tahu, tidak ada waktu untuk bermalas-malasan. Tiga anaknya yang masih membutuhkan biaya hidup dan pendidikan menjadi sumber semangat yang tak pernah padam.
“Saya cuma ingin anak-anak bisa sekolah dan makan cukup,” ujar Ajag pelan, dengan mata yang teduh namun menyimpan tekad baja.Selasa (13/5/2025)
Mengandalkan sepeda motor tua yang telah ia modifikasi menjadi gerobak dorong bermesin, Ajag berkeliling dari kampung ke kampung. Di antara jalanan tanah merah yang licin saat hujan dan berdebu kala kemarau, ia tak gentar. Hujan maupun panas bukan halangan. Ia berhenti di depan sekolah dasar, di pinggir jalan desa, atau kadang ikut mangkal di pasar kecil. Dengan harga yang sangat terjangkau, cilok buatan Ajag laris manis, tak hanya karena rasanya yang enak, tapi juga karena kejujurannya yang tak tergoyahkan.
“Ciloknya beda, Kak, empuk dan bersih,” kata seorang pelanggan cilik, sambil menggigit cilok panas yang masih mengepul dari tusukannya.

Namun, di balik kisah keberhasilan kecil ini, tersimpan pula lika-liku kehidupan yang panjang. Ajag mengaku pernah merasa putus asa, terutama saat pandemi melanda dan penjualannya turun drastis. Tapi ia tidak menyerah. Ia mencoba berinovasi, menyesuaikan porsi, bahkan sempat menitipkan dagangannya ke warung tetangga. “Kalau saya berhenti, anak-anak makan apa?” katanya lirih.
Kini, meskipun belum bisa dibilang mapan, Ajag telah mampu menyekolahkan anak-anaknya. Satu di antaranya sudah menginjak bangku SMP, yang lain masih duduk di sekolah dasar. Ia dan istrinya hidup sederhana, tapi penuh syukur. Rumah mereka memang kecil dan jauh dari mewah, namun suasana hangat selalu terasa di dalamnya.
Kisah Ajag adalah potret nyata dari wajah Indonesia yang sesungguhnya bukan yang penuh sorotan kamera dan megahnya pencapaian, tapi yang hadir dalam bentuk kejujuran, kerja keras, dan cinta kepada keluarga. Di tengah hiruk-pikuk narasi besar pembangunan, kisah-kisah kecil seperti milik Ajag sering luput dari perhatian. Padahal, dari merekalah fondasi bangsa ini sesungguhnya dibangun.
Ajag tidak pernah mengeluh. Ia tak berharap jadi terkenal, apalagi viral. Baginya, cukup jika ciloknya laku, anak-anaknya sehat, dan keluarganya tetap bisa tersenyum di meja makan. Namun, kisahnya layak diceritakan sebagai pengingat bagi kita semua, bahwa inspirasi sejati tak selalu datang dari podium atau panggung besar. Kadang, ia datang dari seorang ayah yang setiap hari mengendarai motornya yang sudah jadul membawa cilok menyusuri jalan-jalan sunyi desa.
(Hs)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT














