SUARARAKYAT.info||Sukabumi– Dari ruang-ruang diskusi hingga jalanan penuh demonstrasi, suara perempuan semakin lantang menyuarakan keadilan dan perubahan. Hal itu pula yang tergambar dalam tulisan reflektif Hanna Fitri Raziah, kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sukabumi, yang diberi tajuk “Tidak Usah Mengajarkan Perempuan Teori Keadilan (Don’t Teach Women the Theory of Justice).”
Dalam tulisannya, Hanna menegaskan bahwa perempuan sejatinya adalah pengelola sekaligus penyalur keadilan di tengah keluarga dan masyarakat. Ia menyinggung sosok Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi Muhammad SAW, sebagai teladan perempuan yang jujur, tangguh, dan adil meski tanpa pendidikan formal. Menurut Hanna, Khadijah sudah mempraktikkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari, jauh sebelum filsuf besar seperti Kant, Aristoteles, maupun John Rawls menuliskan teori-teori keadilan.
Lebih jauh, Hanna melontarkan kritik pedas terhadap kondisi bangsa yang ia sebut “rapuh setipis tisu dan sekusut benang.” Pancasila, menurutnya, hanya dijadikan hiasan di gedung-gedung pemerintah, tanpa benar-benar menghidupi nurani para pemimpin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menyinggung maraknya kasus korupsi, ijazah palsu pejabat, hingga wakil rakyat yang bersikap tidak pantas di parlemen. Semua itu, kata Hanna, menjadi tontonan murahan yang mencederai hati rakyat. “Dari rakyat jelata hingga pelajar SMA, semua geleng kepala, menepuk jidat, dan merasakan amarah yang sama,” tulisnya.
Perempuan di Garda Perlawanan
Di tengah kritiknya, Hanna menghadirkan sosok inspiratif bernama Ibu Ana, seorang perempuan renta yang tetap tegak berdiri dalam aksi demonstrasi. Baginya, Ibu Ana adalah simbol keberanian dan keteguhan hati, sejajar dengan keteladanan perempuan hebat dalam sejarah: Syaidah Aisyah, Sumayyah, hingga Raden Ajeng Kartini.
“Sekali perempuan berbicara, tidak ada yang bisa memberhentikan. Suara perempuan adalah suara keadilan,” tegas Hanna dalam tulisannya.
Perempuan sebagai Tiang Negara
Hanna mengingatkan bahwa perempuan adalah “Ummi Madrasatul Ula”—sekolah pertama bagi anak-anaknya. Jika karakter perempuan kuat, negara akan kokoh; sebaliknya, jika perempuan dilemahkan, negara pun akan rapuh. Ia menekankan bahwa karakter adalah fondasi negara, sama halnya dengan shalat sebagai tiang agama.
Dalam pandangan Hanna, bangsa ini tidak akan pernah mencapai kemenangan tanpa membangun karakter yang kokoh, baik pada laki-laki maupun perempuan. Ia mengajak masyarakat untuk bercermin, berbenah, dan kembali ke jalan yang diridai Tuhan.
Ajakan untuk Introspeksi
Tulisan tersebut ditutup dengan seruan moral: mari saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. “Sudahkah kita bekerja dengan sepenuh hati atau justru menyalahi hati nurani?” tanyanya, sembari mengutip pesan Al-Qur’an dan menyerukan agar bangsa ini kembali ke jalan lurus.
Lekas pulih negeriku,
(Hs)














