SUARARAKYAT.info|| Jakarta – Suasana kondusif Jakarta menjelang rangkaian HUT Kemerdekaan RI ke-80 diwarnai dengan gebyar dialog interaktif bertajuk Fokus Diskusi Kebangsaan yang digelar di teras Gedung Joang 45, Cikini, Jakarta. Acara ini menghadirkan lintas tokoh bangsa, mulai dari akademisi, aktivis, rohaniawan, hingga perwakilan organisasi masyarakat.rabu (3/9/2025)
Kehadiran tokoh-tokoh seperti Dr. Bernard BBBBI Siagian SH., Makp., Dr. Kristanto Manullang SH., MH., Dr. Moses Robert Waimuri SH., Mth., Agip Supendi SH., Rusman Pinem S.Sos., dan Bunda Tiur Simamora bersama jajaran organisasi GAKORPAN, LBH Pers Presisi Polri, Aliansi Papua Bersatu untuk NKRI, PPWI, hingga gerakan solidaritas kebangsaan, memberi bobot khusus pada pertemuan tersebut.
Dalam kesempatan itu, lahirlah sebuah dokumen moral bertajuk “Petisi Keprihatinan Kebangsaan Agustus 2025”, sebagai bentuk kepedulian atas kondisi bangsa yang dinilai mengalami degradasi moral, ketimpangan keadilan, dan maraknya praktik korupsi berjamaah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Isi Petisi Keprihatinan Kebangsaan
1. Keprihatinan atas Gelombang Kemarahan Rakyat
Para tokoh menilai, peristiwa sosial dan politik akhir-akhir ini telah menimbulkan kulminasi kemarahan rakyat yang tumpah di jalanan, media sosial, hingga ruang publik. Menurut mereka, kondisi ini harus dilihat dari perspektif korban, bukan semata kepentingan elite.
2. Empati Lintas Agama dan Keyakinan
Keprihatinan rakyat harus menjadi bagian integral dari misi rohani semua agama. Kehidupan berbangsa, kata mereka, tidak dapat dilepaskan dari panggilan rohani untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan.
3. Deklarasi Doa Pertobatan untuk Pemimpin Bangsa
Para rohaniawan menyerukan doa pertobatan bagi pemimpin bangsa yang lalai mensejahterakan rakyat, larut dalam pesta kekuasaan, serta terjebak dalam praktik KKN. Mereka mengecam fenomena korupsi berjamaah yang makin akut akibat kolaborasi penguasa dengan oligarki dan mafia.
4. Seruan Persatuan dan Damai
Petisi ini mengajak semua elemen anak bangsa untuk meningkatkan kondusivitas dengan semboyan “Damai Itu Indah”. Seruan doa dan karya rohani diarahkan pada rekonsiliasi transformatif dan inkarnatif yang membalut luka batin masyarakat serta menegakkan keadilan sejati.
5. Ajakan Kembali ke Hati Nurani
Para buzzer, aktor politik, maupun rohaniawan diingatkan untuk tidak larut dalam egoisme dan pembenaran yang menyesatkan. Sebaliknya, mereka harus kembali pada hati nurani yang diterangi iman, taqwa, dan hikmat Tuhan Yang Maha Adil.
Dalam petisi tersebut, turut disinggung nama Affan Kurniawan (21 tahun), driver ojek online yang gugur dalam aksi demonstrasi dan kemudian disebut sebagai pejuang demokrasi anumerta. Ia disebut sebagai simbol dari jutaan rakyat kecil yang terluka, baik secara fisik maupun batin, akibat benturan antara aparat dan massa.
“Cinta kami kepada bangsa ini diwujudkan dalam doa dan solidaritas bagi mereka yang tertindas. Dari Affan hingga para demonstran yang terbungkam, mereka adalah saksi penderitaan rakyat akibat politik busuk dan kekuasaan yang serakah,” ungkap salah satu narasumber, Pdt Victor Rembeth, mewakili puluhan rohaniawan lintas agama.
Lintas Rohaniawan Lintas Organisasi.Petisi ini ditandatangani oleh lebih dari 90 tokoh, di antaranya:
Rm Adrianus Suyadi, Pdt Yudit Tompah, Prof. Muhammad Alie Humaedi, Pdt Manuel Raintung, Budi Setiawan (MDMC/Muhammadiyah), Syamsul Ardiansyah (Dompet Dhuafa), RM Freddy Rante Taruk (Karitas Indonesia), Tommi Hendrajati (Human Initiative), Henny Widiastuti (Rumah Zakat), serta perwakilan dari NU, Muhammadiyah, PGI, dan berbagai lembaga kemanusiaan.
Keterlibatan lintas iman ini menunjukkan bahwa persoalan bangsa bukan semata urusan politik, tetapi juga persoalan moral, kemanusiaan, dan kebersamaan anak bangsa dalam menjaga empat pilar demokrasi: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Di penghujung pernyataan, para rohaniawan menyampaikan doa:
“Indonesia diberkati Tuhan Yang Maha Esa. GBU, Amin.”
Mereka menegaskan, cinta damai harus menjadi jalan tengah menghadapi krisis, dan doa bersama lintas iman adalah pondasi kokoh dalam menyongsong Indonesia emas yang berkeadilan.
(Dr Bernard)














