SUARARAKYAT.info || SUKABUMI — Kesabaran masyarakat Kecamatan Nagrak mulai mencapai batas. Jalan Kabupaten Sukabumi ruas Karangtengah–Nagrak yang setiap hari dilintasi warga kini berubah menjadi jalur berbahaya akibat kerusakan yang tak kunjung diperbaiki. Lubang menganga, aspal hancur, hingga permukaan jalan yang bergelombang menjadi pemandangan rutin yang memicu kecelakaan pengguna jalan.
Ironisnya, di tengah keluhan masyarakat yang terus bermunculan, Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui jajaran teknis justru dinilai lebih sibuk menyampaikan alasan ketimbang memberikan solusi nyata.
Kepala Desa Nagrak Selatan menyampaikan kekecewaannya karena hingga saat ini belum ada tindakan konkret dari Dinas PU Bina Marga Kabupaten Sukabumi, padahal laporan dan pengajuan perbaikan sudah berulang kali dilakukan.
“Setiap hari warga mengeluh. Banyak pengendara jatuh dan mengalami kecelakaan. Tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ungkap Kepala Desa Nagrak Selatan kepada awak media.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kerusakan paling parah berada di depan Kantor Balai Desa Nagrak Selatan. Kondisi tersebut bukan hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga memperlihatkan lemahnya keseriusan pemerintah daerah dalam menangani infrastruktur dasar masyarakat.
Padahal ruas Karangtengah–Nagrak merupakan akses vital yang digunakan masyarakat untuk bekerja, sekolah, berdagang, hingga pelayanan pemerintahan. Namun jalan yang menjadi urat nadi aktivitas warga itu kini justru seperti dibiarkan menunggu kehancuran total.
Kepala desa mengaku telah berupaya mengajukan penanganan kepada UPTD PU Bina Marga Cibadak. Bahkan dorongan politik melalui anggota DPRD Fraksi Gerindra, Hera Iskandar, juga telah dilakukan agar pemerintah segera bergerak.
Namun hasilnya masih nihil.
Alasan yang diterima pemerintah desa pun memancing kritik publik. Pemerintah disebut berdalih sedang melakukan penyesuaian harga akibat kenaikan harga aspal sekitar Rp500 ribu per ton karena faktor geopolitik global.
Bagi masyarakat, alasan tersebut terdengar menyakitkan dan tidak masuk akal ketika keselamatan warga dipertaruhkan setiap hari di jalan rusak.
“Warga tidak peduli soal geopolitik atau harga aspal. Mereka hanya ingin jalan diperbaiki. Karena yang merasakan dampaknya masyarakat langsung,” tegas Kepala Desa Nagrak Selatan.
Pernyataan itu menjadi tamparan keras bagi birokrasi daerah yang dianggap terlalu mudah berlindung di balik alasan administratif dan teknis, sementara rakyat terus menjadi korban kelalaian pembangunan.
Publik kini mempertanyakan ke mana arah prioritas pembangunan Kabupaten Sukabumi. Di saat slogan pembangunan dan pelayanan rakyat terus digaungkan, fakta di lapangan justru memperlihatkan infrastruktur vital dibiarkan rusak tanpa kepastian penanganan.
Masyarakat juga mulai mempertanyakan efektivitas kerja Dinas PU Bina Marga yang dinilai lamban dan tidak responsif terhadap kondisi darurat di lapangan. Sebab kerusakan jalan bukan sekadar persoalan estetika pembangunan, melainkan menyangkut keselamatan nyawa manusia.
Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah desa mengusulkan agar ruas Karangtengah–Nagrak tidak lagi hanya ditambal sementara, tetapi direvitalisasi total menggunakan konstruksi cor beton agar lebih kuat dan tahan lama.
Usulan tersebut dinilai lebih rasional dibanding pola tambal sulam yang selama ini hanya menghabiskan anggaran tanpa memberikan hasil permanen.
Kini sorotan masyarakat mengarah kepada Bupati Sukabumi, Asep Japar, agar segera turun tangan dan tidak membiarkan rakyat terus menjadi korban jalan rusak.
Sebab ketika pemerintah terlalu lama berdiam diri, jalan rusak bukan lagi sekadar kerusakan infrastruktur. Ia berubah menjadi simbol kegagalan negara hadir melindungi keselamatan rakyatnya sendiri.
Penulis : Tim
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Suararakyat.info














