Proyek Mangkrak Kantor Pemda Sukabumi Disebut ‘Rumah Hantu’, Prof. Sutan Nasomal Desak Presiden Turun Tangan

- Penulis

Selasa, 26 Agustus 2025 - 00:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARARAKYAT.info||Sukabumi-Pembangunan pusat perkantoran Pemerintah Kabupaten Sukabumi di Desa Cangehgar, Kecamatan Palabuhanratu, yang digadang-gadang bakal menjadi ikon pelayanan publik modern, kini justru berubah menjadi sorotan negatif. Gedung lima lantai yang semestinya menjadi pusat administrasi pemerintahan daerah itu terbengkalai, dipenuhi lumut dan ilalang, hingga dijuluki warga sekitar sebagai “rumah hantu”.

Proyek bernilai Rp180 miliar yang dimulai pada 2020 itu kini hanya menyisakan kerangka beton kusam dan dinding yang menghitam. Beberapa bagian kaca pecah, lingkungannya tidak terurus, menimbulkan kesan menyeramkan—jauh dari cita-cita awal sebagai pusat pelayanan terpadu masyarakat. Ironisnya, alih-alih menjadi kebanggaan, gedung itu kini justru mempermalukan Sukabumi di mata wisatawan lokal maupun mancanegara.

Kritik Tajam Prof. Sutan Nasomal

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi tersebut mengundang kritik keras dari Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH, MH, pakar hukum internasional sekaligus ekonom. Dalam wawancara bersama para pemimpin redaksi media di Jakarta, ia mempertanyakan bagaimana mungkin sebuah proyek strategis pemerintahan dibiarkan terbengkalai begitu lama tanpa kepastian penyelesaian.

“Bangunan kantor bupati ini ibarat hidup segan mati tak mau. Sudah berdiri bertahun-tahun tapi tidak selesai, tidak dirawat. Padahal uang rakyat Rp180 miliar terkubur di sana. Saya mendesak Presiden Prabowo Subianto agar segera memerintahkan menteri terkait bersama gubernur untuk menuntaskan pembangunan ini. Jangan biarkan Sukabumi dipermalukan,” tegas Prof. Sutan dari markas pusat Partai Oposisi Merdeka di Jakarta, Selasa (26/8/2025).

Menurutnya, fenomena gedung terbengkalai itu sudah menjadi bahan pergunjingan wisatawan, terlebih kawasan Palabuhanratu dikenal luas karena legenda Nyi Roro Kidul yang mendunia. “Sangat ironis, daerah wisata kelas internasional justru menampilkan wajah gagal tata kelola pembangunan,” imbuhnya dalam pernyataan via telepon.

READ  Dapur Makan Bergizi Gratis Bama Barokah Salurkan Menu Sehat Sesuai Standar Pemerintah

Janji Pemerintah Daerah Masih Menggantung

Pemerintah Kabupaten Sukabumi sendiri berdalih bahwa kelanjutan proyek tengah dikaji oleh Kementerian PUPR. Namun, untuk menyelesaikan pembangunan, dibutuhkan tambahan anggaran sekitar Rp100 miliar. Tragisnya, rencana penyelesaian baru akan dimulai pada 2027 atau bahkan 2028, yang berarti masyarakat harus menunggu bertahun-tahun lagi.

“Kalau menunggu sampai 2028, sama saja membiarkan bangunan itu terus jadi ‘rumah hantu’. Sementara masyarakat butuh pelayanan publik hari ini, bukan lima tahun lagi,” sindir Prof. Sutan.

Simbol Buruk Tata Kelola Daerah

Kasus kantor bupati Sukabumi hanyalah satu dari deretan proyek mangkrak di wilayah tersebut. Publik juga masih mengingat proyek bandara Sukabumi dan gedung amfiteater yang bernasib serupa: terbengkalai, menyisakan kerugian anggaran, serta menambah daftar panjang kegagalan perencanaan pembangunan.

Warga Sukabumi menilai kondisi ini sebagai bukti lemahnya manajemen pemerintah daerah dalam mengelola proyek vital. Kritik pun semakin keras, terutama karena dana besar yang seharusnya digunakan untuk program mendesak seperti jalan, kesehatan, dan pendidikan justru terkubur dalam beton yang tak berguna.

Seruan Tindakan Nyata

Mengakhiri keterangannya, Prof. Sutan Nasomal menegaskan bahwa masyarakat sudah jenuh dengan janji-janji kosong. Yang dibutuhkan adalah langkah konkret dari pemerintah pusat untuk memastikan proyek ini segera dirampungkan.

“Masyarakat tidak butuh alasan, mereka butuh solusi. Presiden harus tegas, jangan biarkan uang rakyat terbuang sia-sia. Gedung bupati Sukabumi ini harus segera diselesaikan, agar tidak lagi menjadi simbol kegagalan, tapi menjadi kebanggaan,” pungkasnya.

Kini, masyarakat menunggu: apakah pemerintah pusat akan turun tangan, atau “rumah hantu” itu akan terus menghantui wajah Sukabumi hingga bertahun-tahun ke depan?

 

(Hilman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bamsoet Raih Penghargaan Wartawan Parlemen Awards 2026 Kategori Legislator Penggerak Profesionalisme Institusi dan Aparat Penegak Hukum
Korupsi APBD Kabupaten Sorong Terbongkar, Kerugian Negara Capai Rp54 Miliar
Dugaan Minim nyaTransparansi Proyek Kopdes Merah Putih, Publik Pertanyakan Penggunaan Anggaran Negara di Lapangan
Dr. Charles P.N. Rembang: Pendeta, Akademisi, dan Penggerak yang Menginspirasi
Dr. Charles Rembang: Paskah Nasional 2026 Sulut Wujud Harmoni Sejati  
*Sukses Layani 652 Ribu Penumpang, PELNI Tutup Angkutan Lebaran 2026 dengan Catatan Positif*
Jamaah Umroh Terlantar di Jeddah, Diduga Jadi Korban Travel Bermasalah: Negara Diminta Turun Tangan Tegas
Pengusaha dan Serikat Pekerja Sepakat Bahas RUU Ketenagakerjaan Bersama
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 15:27 WIB

Bamsoet Raih Penghargaan Wartawan Parlemen Awards 2026 Kategori Legislator Penggerak Profesionalisme Institusi dan Aparat Penegak Hukum

Kamis, 16 April 2026 - 05:38 WIB

Korupsi APBD Kabupaten Sorong Terbongkar, Kerugian Negara Capai Rp54 Miliar

Rabu, 15 April 2026 - 12:55 WIB

Dugaan Minim nyaTransparansi Proyek Kopdes Merah Putih, Publik Pertanyakan Penggunaan Anggaran Negara di Lapangan

Senin, 13 April 2026 - 12:43 WIB

Dr. Charles P.N. Rembang: Pendeta, Akademisi, dan Penggerak yang Menginspirasi

Senin, 13 April 2026 - 09:53 WIB

Dr. Charles Rembang: Paskah Nasional 2026 Sulut Wujud Harmoni Sejati  

Berita Terbaru