SUARARAKYAT.info||Sumba NTT-Sebuah sejarah baru tengah ditorehkan di kawasan timur Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersama Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara turun langsung ke Kawasan Transmigrasi Melolo, Kabupaten Sumba Timur, untuk meninjau panen raya tebu yang dikembangkan sebagai proyek percontohan transmigrasi modern berbasis industrialisasi dan investasi.rabu (20/8/2025)
Kunjungan kedua pejabat negara ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari upaya mendorong model pembangunan transmigrasi yang tidak hanya berorientasi pada pemindahan penduduk, tetapi juga menyatukan kepentingan investasi, industrialisasi, serta penciptaan lapangan kerja dalam skala besar.
AHY dalam sambutannya menegaskan, apa yang dilakukan di Melolo merupakan bentuk nyata transformasi pembangunan kawasan transmigrasi. “Kita ingin transmigrasi tidak lagi dipandang sebagai program masa lalu yang identik dengan keterbelakangan, melainkan sebagai motor ekonomi baru yang bisa membawa kesejahteraan bagi rakyat sekaligus menjadi contoh bagi daerah-daerah lain,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keberhasilan pengembangan tebu di Melolo sendiri menjadi kejutan tersendiri. Di atas lahan berbatu dengan kondisi suhu ekstrem antara siang dan malam, tebu yang ditanam justru tumbuh subur dengan kualitas di atas rata-rata. Data dari pengelola perkebunan menunjukkan bahwa rendemen atau kadar gula dari tebu Melolo mencapai 21 persen tiga kali lipat dari rata-rata nasional yang hanya sekitar 7 persen. Pencapaian ini membuka peluang besar bagi kawasan tersebut menjadi sentra gula baru di Indonesia.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah menambahkan, keberadaan investasi strategis di kawasan transmigrasi Melolo tidak hanya memberi dampak ekonomi, melainkan juga sosial. “Dengan hadirnya industri berbasis tebu, ribuan lapangan kerja baru akan terbuka. Para transmigran yang ditempatkan di sini akan memperoleh kesempatan hidup layak, sementara masyarakat lokal juga ikut merasakan manfaat dari geliat ekonomi baru ini,” jelasnya.
Pemerintah menargetkan kawasan transmigrasi Melolo akan terus dikembangkan dengan infrastruktur penunjang, seperti pabrik pengolahan gula, jalan produksi, hingga fasilitas sosial untuk mendukung kehidupan transmigran dan masyarakat setempat. Langkah ini diharapkan menjadi bukti bahwa Nusa Tenggara Timur mampu menjadi lumbung ekonomi baru, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional melalui komoditas tebu.
Siapa sangka, di balik tanah kering berbatu dan iklim ekstrem, tumbuh potensi manis yang bisa menggerakkan ekonomi bangsa. Melolo kini bukan sekadar kawasan transmigrasi, melainkan simbol transformasi menuju Indonesia yang lebih mandiri, berdaulat, dan sejahtera.
(Swd)














