Suararakyat.info.Riau-Seruan lantang disampaikan oleh Assoc. Prof. Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, M.Si., seorang akademisi, konsultan, dan pengamat sosial lingkungan asal Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Melalui sebuah tulisan panjang bernada reflektif dan sarat keprihatinan, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk duduk bersama mencari solusi terhadap krisis lingkungan hidup yang semakin parah di wilayah aliran Sungai Kuantan (DAS Kuantan) dan sekitarnya, akibat aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang terus merajalela.jumat (1/8/2025)
Prof. Apendi menyampaikan kekhawatirannya setelah membaca diskusi di grup WhatsApp para tokoh masyarakat Kuansing. Menurutnya, kerusakan ekosistem dan pencemaran air tawar sungai Kuantan bukan hanya disebabkan oleh aktivitas ilegal di wilayah Riau semata, tetapi juga bersumber dari kerusakan lingkungan di kawasan hulu, terutama di sekitar Danau Ombilin, Sumatera Barat.
“Saya sangat sependapat bahwa penyelesaian masalah pencemaran air DAS Kuantan perlu dikoordinasikan dan disinergikan antara Gubernur Riau dan Gubernur Sumatera Barat,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pandangannya, penyelesaian persoalan PETI bukan hanya soal penegakan hukum semata, melainkan juga menyangkut tata kelola daerah aliran sungai yang memerlukan pendekatan saintifik dan kolaboratif lintas wilayah. Prof. Apendi menggarisbawahi pentingnya pendekatan Integrated River Zone Management (IRZM) yang holistik dan sistemik, mengingat kompleksitas masalah yang ada di DAS Kuantan dan DAS Singingi.
Sebagai lulusan program studi S2 Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) serta S3 Sumberdaya Pesisir dan Laut (SPL) dari IPB University, Prof. Apendi menyoroti betapa pentingnya peran para ilmuwan dan praktisi lingkungan hidup dalam mendampingi pemerintah daerah. Namun ia menyayangkan bahwa banyak di antara mereka yang kini lebih memilih zona nyaman, menghindari kritik dan diskusi publik yang solutif.
“Sayangnya, zaman sekarang banyak manusia yang ‘dungu dan tuli’, enggan mendengar suara ilmuwan. Bahkan para pakar lingkungan sendiri mayoritas membisu. Mereka lebih memilih menyelamatkan kepentingan pribadi demi syahwat 3Ta tahta, harta, dan wanita,” sindirnya tajam.
Ia bahkan menyebut bahwa virus apatisme telah menjalar ke perguruan tinggi negeri maupun swasta. Kampus yang seharusnya menjadi benteng suara kebenaran kini justru sunyi dan kehilangan taji intelektualnya.
Prof. Apendi yang memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun sebagai konsultan dalam proyek-proyek ICZM (Integrated Coastal Zone Management) baik dalam maupun luar negeri, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kerusakan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dan hutan tropis lainnya di Riau.
“Jika dibiarkan terus berlangsung, perusakan ekosistem ini akan membawa bencana bersama yang tak terhindarkan sebuah tragedy of the commons, seperti istilah Garet Hardin tahun 1954. Dan yang paling menderita tentu masyarakat lokal yang hidup di sepanjang DAS Kuantan.”.pungkasnya
Namun di tengah keprihatinannya, ia tetap menyimpan harapan. Ia mengapresiasi langkah Bupati Kuansing Dr. Suhardiman Amby, M.M.Ak, yang telah menerbitkan Surat Edaran tentang larangan PETI di wilayahnya. Kebijakan itu juga direspon oleh aparat penegak hukum, yakni Kapolres Kuansing dan Kapolda Riau, sebagai bentuk keseriusan dalam membersihkan praktik tambang ilegal yang selama ini merusak lingkungan dan merampas masa depan generasi mendatang.
“Kita tidak ingin larangan PETI ini hanya bersifat sementara, menjelang Pesta Rakyat Pacu Jalur pada 20–24 Agustus 2025 yang akan dihadiri Wakil Presiden RI dan para menteri. Kita ingin Zero PETI dijaga dan dipertahankan untuk selama-lamanya.”pungkasnya
Sebagai penutup, Prof. Apendi menyerukan penyelamatan lingkungan sebagai jihad sosial dan bentuk ibadah dalam rangka mewariskan bumi yang sehat untuk anak cucu. Ia menyerukan kepada seluruh masyarakat, akademisi, wartawan, dan pegiat lingkungan untuk tidak tinggal diam.
“Walau saya sendiri menulis ini dalam kesendirian, tapi saya yakin, suara kebenaran tidak akan pernah sia-sia. Saya ingin ikut beramal shaleh, demi tanah kelahiran saya, Nagori Kuansing,” tulisnya penuh semangat.
Prof. Apendi mengakhiri curhat dan seruannya dengan doa agar para pemangku kebijakan diberikan hidayah oleh Allah SWT dalam mengemban amanah rakyat dan menjaga kelestarian alam.
Sumber:Assoc. Prof. Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, M.Si (Dosen, Konsultan, dan Kritikus Sosial Pegiat Lingkungan & Kontributor Pemikiran Indonesia Emas 2045)
Lokasi: Gallery and Ecofunworkshop, Kp. Wangun Atas, Kota Bogor Timur, Jawa Barat.
(Athia)














