Wujudkan Perlindungan Holistik, Yayasan Egad Kairos Dorong Peran Aktif Komunitas dalam Tangani Kekerasan Perempuan dan Anak

- Penulis

Sabtu, 26 Juli 2025 - 00:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

suararakyat.info ,Kota Sorong Papua Barat Daya (26 Juli 2025) – Yayasan Cipta Egad Kairos menegaskan pentingnya keterlibatan aktif komunitas dalam proses pendampingan dan perlindungan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pesan ini menjadi sorotan utama dalam pelatihan manajemen pendampingan dan penanganan kasus yang diselenggarakan di Hotel Sahid Mariat, Kota Sorong, pada 25 Juli 2025.

Pelatihan ini melibatkan LKP3A (Lembaga Konsultasi dan Perlindungan Perempuan dan Anak) serta petugas layanan dari Kabupaten Sorong. Ketua Yayasan Cipta Egad Kairos, Rona Patricia Sibarani, S.H., M.H., hadir langsung sebagai narasumber utama dan menyampaikan materi bertajuk “Mengenal Proses Peradilan dalam Pendampingan Korban Kekerasan”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam paparannya, Rona menyampaikan bahwa penanganan kasus kekerasan tidak bisa hanya mengandalkan lembaga hukum atau pemerintah. “Kunci utama keberhasilan pendampingan korban ada pada kolaborasi lintas sektor – termasuk peran keluarga, masyarakat, dan komunitas lokal yang memahami dinamika sosial di wilayah masing-masing,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa kekerasan, khususnya terhadap anak, sering terjadi di ruang privat dan tertutup, sehingga hanya pendekatan komunitas yang mampu membuka ruang-ruang tersembunyi tersebut. Menurut Rona, pendampingan harus mencakup aspek hukum, psikologis, hingga sosial. “Konseling bukan pelengkap, tapi kebutuhan primer dalam proses pemulihan trauma, khususnya bagi anak korban,” ujarnya.

Rona juga membeberkan lima tahapan proses hukum menurut KUHAP, serta bagaimana pendamping bisa berperan strategis dalam memastikan hak-hak korban terpenuhi di setiap tahap. Ia menyoroti pentingnya perlindungan terhadap anak korban, termasuk dengan mencegah konfrontasi langsung dengan pelaku dalam proses peradilan.

READ  Aria Bima Desak Penegakan Hukum atas Penjualan Lahan Mangrove 200 Hektare oleh Kades di Kubu Raya

Dalam sesi wawancara dengan media, Rona mengungkapkan bahwa laporan kekerasan yang diterima lembaganya datang dari berbagai kanal – mulai dari keluarga korban, UPTD PPA, hingga aparat kepolisian. Namun, pendekatan reaktif saja tidak cukup. “Kami aktif turun ke lapangan, karena setiap kasus punya konteks berbeda. Itu sebabnya, kami butuh mitra dari komunitas yang peka terhadap tanda-tanda awal kekerasan,” tambahnya.

Lebih jauh, Rona memberikan dukungan penuh terhadap program INKLUSI yang tengah dijalankan berkat kolaborasi Lakpesdam NU dan Fatayat NU. Ia menyebut program ini sebagai jembatan antara lembaga formal dan komunitas akar rumput. “Anak dan perempuan butuh sistem perlindungan yang dekat, bukan birokratis. Komunitas bisa menjadi perpanjangan tangan layanan formal seperti UPTD, Polres, atau LSM,” tegasnya.

Sebagai bagian dari edukasi publik, Rona turut menyampaikan bahwa layanan psikologis untuk korban, termasuk melalui UPTD, sepenuhnya ditanggung oleh negara. Ia berharap masyarakat tidak lagi merasa terbebani oleh biaya saat mencari pertolongan.

Pelatihan ini ditutup dengan sesi diskusi dan simulasi kasus, untuk memastikan peserta tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu menerapkan pendekatan empatik dalam praktik. Melalui kegiatan ini, Yayasan Cipta Egad Kairos berharap munculnya agen-agen perubahan di tingkat lokal yang mampu menjadi garda terdepan dalam pencegahan dan penanganan kekerasan.

(Leo)

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel www.suararakyat.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hari Mangrove Sedunia 2026 Kapolres Kepulauan Meranti Tegaskan Pelestarian Lingkungan Tanggung Jawab Bersama.
Mahasiswa KKN Universitas Riau Tanam 1.300 Bibit Mangrove di Desa Sebauk Lewat Program SELARAS 2026
Buka Rakernis Intelkam 2026, Kapolda Papua Barat Daya: Intelijen adalah Mata dan Telinga Kesatuan
MANTAP ” 95 Sekolah di Kepulauan Meranti Lolos Program Revitalisasi 2026, 21 Sekolah Masuki Tahap Pelaksanaan
MPR Buru Mengutuk Keras Oknum Mahasiswa Yang Bangun Opini Sesat Terkait Pos PAM Satgas PKH Yonif Raider 733 Masariku Di Gunung Botak
Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Siswi di Namlea Ilat Kian Menyita Perhatian, Keluarga Korban Minta Dugaan Pelanggaran Etik Oknum  Advokat hingga Intimidasi Ikut Diusut
9 Hari TMMD Ke-129 di Kampung Sesor, Pembangunan Melaju Pesat, Semangat Gotong Royong Kian Menguat
Audiensi Bupati Asmar Berbuah Komitmen BNPP RI Kawal Pembangunan Kawasan Perbatasan Meranti
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:42 WIB

Hari Mangrove Sedunia 2026 Kapolres Kepulauan Meranti Tegaskan Pelestarian Lingkungan Tanggung Jawab Bersama.

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:05 WIB

Mahasiswa KKN Universitas Riau Tanam 1.300 Bibit Mangrove di Desa Sebauk Lewat Program SELARAS 2026

Senin, 27 Juli 2026 - 14:56 WIB

Buka Rakernis Intelkam 2026, Kapolda Papua Barat Daya: Intelijen adalah Mata dan Telinga Kesatuan

Senin, 27 Juli 2026 - 14:54 WIB

MANTAP ” 95 Sekolah di Kepulauan Meranti Lolos Program Revitalisasi 2026, 21 Sekolah Masuki Tahap Pelaksanaan

Senin, 27 Juli 2026 - 13:42 WIB

MPR Buru Mengutuk Keras Oknum Mahasiswa Yang Bangun Opini Sesat Terkait Pos PAM Satgas PKH Yonif Raider 733 Masariku Di Gunung Botak

Berita Terbaru