Suararakyat.info.NTT— Dalam upaya memperkuat komitmen pemerintah terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan fasilitas dasar di kawasan transmigrasi, Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu,(19/7/2025).
Kunjungan tersebut difokuskan pada peninjauan langsung pelaksanaan rehabilitasi toilet dan pemugaran gedung Sekolah Dasar (SD) Bondo Kawono, yang berada di wilayah transmigrasi. Proyek perbaikan infrastruktur pendidikan ini merupakan bagian dari program strategis Kementerian Transmigrasi yang bertujuan memperkuat kualitas hidup masyarakat transmigran, terutama dalam hal akses terhadap pendidikan yang layak dan lingkungan belajar yang sehat bagi anak-anak.
Menteri Iftitah yang hadir didampingi sejumlah pejabat dari kementerian serta perwakilan pemerintah daerah, menyatakan bahwa pembangunan sumber daya manusia di kawasan transmigrasi harus dimulai dari pembenahan sarana pendidikan dasar. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya peran sekolah dalam membentuk generasi penerus yang tangguh, cerdas, dan memiliki karakter kebangsaan yang kuat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Anak-anak di kawasan transmigrasi tidak boleh tertinggal dalam hal akses pendidikan. Pemerintah hadir untuk memastikan bahwa mereka bisa belajar dalam lingkungan yang aman, bersih, dan memadai. Rehabilitasi toilet dan pemugaran gedung sekolah ini adalah bagian kecil, namun sangat penting dalam ekosistem pendidikan,” ujar Menteri Iftitah di hadapan para guru, siswa, dan masyarakat yang hadir.
SD Bondo Kawono sendiri merupakan salah satu sekolah yang selama ini menghadapi tantangan serius dalam hal fasilitas, khususnya sanitasi dan kondisi bangunan. Kondisi toilet yang tidak layak serta dinding dan atap sekolah yang mulai rusak telah lama menjadi perhatian warga. Melalui program pemugaran ini, pemerintah berharap dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan nyaman bagi para siswa dan tenaga pendidik.
Proyek rehabilitasi ini mencakup perbaikan struktur atap dan dinding, pengecatan ulang seluruh bangunan sekolah, serta pembangunan ulang toilet siswa dan guru dengan sistem sanitasi yang lebih higienis dan ramah lingkungan. Tidak hanya itu, area bermain dan taman sekolah juga turut direnovasi untuk mendukung pembelajaran berbasis ruang terbuka.
Pemerintah juga menggandeng mitra-mitra lokal, termasuk LSM, kontraktor daerah, serta melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengerjaan proyek, sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi lokal.
Kepala SD Bondo Kawono, Ibu Yustina Taga, menyampaikan apresiasinya atas perhatian pemerintah pusat terhadap sekolah di daerah terpencil. “Sudah lama kami berharap ada pembenahan. Dengan adanya rehabilitasi ini, semangat belajar murid-murid meningkat. Kami para guru pun merasa lebih termotivasi,” ujarnya.
Warga sekitar juga menyambut baik kunjungan Menteri dan program yang dibawa. Salah satu tokoh masyarakat menyampaikan harapannya agar pembangunan tidak berhenti pada infrastruktur fisik semata, melainkan dilanjutkan dengan peningkatan kapasitas tenaga pendidik serta distribusi sarana pembelajaran.
Di akhir kunjungannya, Menteri Iftitah menegaskan bahwa program rehabilitasi seperti ini akan terus dilanjutkan di kawasan transmigrasi lainnya di seluruh Indonesia. “Transmigrasi bukan sekadar pemindahan penduduk, tapi harus menjadi upaya nyata membangun kehidupan yang lebih baik. Pendidikan adalah fondasi dari segalanya,” tegasnya.
Dengan langkah konkret ini, pemerintah kembali menegaskan bahwa pembangunan yang berkeadilan tidak hanya berfokus pada wilayah perkotaan, namun juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat di daerah terpencil, perbatasan, dan kawasan transmigrasi. SD Bondo Kawono menjadi salah satu contoh bahwa pembangunan Indonesia memang dimulai dari pinggiran, untuk kemudian menguatkan pusat.
(Sis/Krt)














